Efisiensi, Kemenhub Pangkas Proses Bongkar Muat Petikemas di Pelabuhan

January 02, 2021, 05:14 PM UTC

Penulis: Ananda Astri Dianka

Proses bongkar muat petikemas di pelabuhan/ Sumber; Humas Kemenhub

JAKARTA – Kementerian Perhubungan mempercepat proses bongkar muat petikemas di pelabuhan guna mengatasi lonjakan biaya kargo.

Sejak pandemi COVID-19, industri pelayaran turut terkena imbasnya, salah satunya kenaikan biaya pengangkutan petikemas. Sontak, kenaikan biaya tersebut memengaruhi upaya perbaikan kinerja industri pelayaran dan perekonomian nasional.

“Dampaknya, hampir di semua negara harga sea freight dengan kontainer naik signifikan, waktu pelayaran lebih lama, terjadi penumpukan kontainer di pelabuhan, dan bongkar muat di pelabuhan pun lebih lama,” kata Dirjen Perhubungan Laut, R. Agus H. Purnomo dalam keterangan resmi, Sabtu, 2 Januari 2021.

Selain itu Kemenhub juga akan mempercepat petikemas segera keluar dari pelabuhan. Sehingga kontainer segera dapat kembali ke depo dengan cepat.

Untuk memastikan kebijakan tersebut efektif, Kemenhub berharap kementerian dan lembaga negara terkait, melakukan percepatan yang sama.

“Kami imbau kementerian terkait bisa mendukung upaya yang dilakukan Kementerian Perhubungan, yaitu mempercepat proses pengeluaran long stay container di pelabuhan.”

Adapun, ia berharap operator pelayaran jalur utama (main line operator/MLO) tetap dapat memberi ruang muat dari Indonesia, untuk tujuan ekspor. Harapannya, MLO dapat menyediakan petikemas 40 High Cube.

Berikutnya, Agus meminta perusahaan pelayaran dalam negeri, khususnya yang tergabung dalam INSA, mengambil peluang untuk memanfaatkan ruang muat pelayaran luar negeri yang berkurang.

Substitusi Petikemas

Selain itu, perusahaan eksportir juga diimbau untuk melakukan subtitusi dengan memakai peti kemas 20 feet.

Sebagai informasi, kebijakan penutupan (lockdown) pada awal tahun ini di sejumlah negara telah menghambat  pergerakan orang, barang, hingga kapal.

Tak sedikit perusahaan pelayaran yang mengurangi kegiatan kapalnya, untuk menekan biaya operasional dan menstabilkan ongkos pengangkutan.

Padahal, industri pelayaran global mulai menggeliat mulai Juli lalu, ketika China mulai menaikkan frekuensi ekspor. Hanya saja, aktivitas di China ini tak serta-merta memulihkan industri pelayaran global.

Pasalnya, pengiriman kontainer masih terbatas lantaran sejumlah negara masih menjalankan kebijakan penutupan. Sumber daya manusia untuk menjalankan aktivitas bongkar muat pun masih terbatas.

“Sehingga keterlambatan dalam pengiriman dan pengumpulan kontainer pun terjadi.”