Efek Diskon Pajak, Penjualan Rumah Tapak di Jabodetabek Meroket hingga 83 Persen

23 Juli 2021 21:37 WIB

Penulis: Reza Pahlevi

Editor: Laila Ramdhini

Suasana perumahan cluster di kawasan Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu, 2 Januari 2021. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

JAKARTA – Penjualan hunian tapak di kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) melonjak berkat stimulus pajak pertambahan nilai ditanggung pemerintah (PPN DTP).

Data konsultan properti Jones Lang LaSalle (JLL) Indonesia menunjukkan tingkat penjualan rumah tapak Jabodetabek mencapai 83% pada semester I-2021. Angka ini meningkat dari penjualan sepanjang 2020 yang sebesar 72%.

“Pemerintah juga memberikan stimulus-stimulus seperti insentif PPN dan relaksasi uang muka, yang kemudian disertai dengan promosi dari pengembang. Sehingga menunjang keberhasilan penjualan rumah tapak,” ujar Head of Research JLL Indonesia Yunus Karim dalam paparannya, dikutip Jumat, 23 Juli 2021.

Sepanjang semester I-2021, JLL Indonesia mencatat ada sekitar 7.800 meter persegi (m2) produk rumah tapak yang ditawarkan. Lalu, ada sekitar 37.700 unit belum jadi yang sudah ditawarkan ke pasar.

JLL Indonesia melihat minat pasar yang didominasi konsumen akhir atau end user dan keterjangkauan harga menjadi faktor yang membuat penjualan rumah tapak memiliki performa yang baik.

Pada semester I-2021, hampir 80% dari produk yang terjual berada di bawah harga Rp1,3 miliar. 

"Sehingga keterjangkauan harga tetap menjadi kunci dari performa sektor ini,” kata Yunus.

Menurut JLL, pembeli memiliki empat pertimbangan ketika membeli rumah tapak. Keempat pertimbangan tersebut adalah reputasi pengembang, ketepatan waktu penyelesaian, fasilitas yang lengkap, dan aksesibilitas yang bagus.

JLL juga mencatat, pada kuartal II-2021, ada dua perumahan berskala besar yang diluncurkan. Pertama, Paramount Petals yang dikembangkan oleh PT Paramount Enterprise Internasional (Paramount Land) bersama PT Jasamarga Related Business (JMRB). Kedua, Shila at Sawangan oleh Vasanta Group.

Yunus memprediksi permintaan yang cukup aktif dari pasar ini akan membuat para pengembang lebih semangat dalam meluncurkan perumahan baru di semester II-2021. Pertambahan ini bisa dalam bentuk ekspansi perumahan yang sudah ada atau kerja sama perusahaan.

Berita Terkait