Efek Burden Sharing, BI Sudah Borong SBN Semester I-2021 Rp120,93 Triliun

08 Juli 2021 07:05 WIB

Penulis: Muhamad Arfan Septiawan

Gedung Bank Indonesia. / Facebook @BankIndonesiaOfficial

JAKARTA – Bank Indonesia (BI) tercatat telah membeli Surat Berharga Negara (SBN) senilai Rp120,83 triliun sepanjang semester I-2021. Usai menyepakati skema burden sharing, bank sentral Tanah Air diketahui menjadi standby buyer obligasi negara di pasar primer sejak November 2020.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan membaiknya pasar obligasi negara membuat bank sentral bisa bernapas lebih lega. Ramainya investor mencaplok SBN tampak dari nilai lelang Surat Utang Negara (SUN) yang mencapai Rp83,4 triliun dan oversubscribed 2,5 kali pada Selasa, 6 Juli 2021.

“BI dalam hal ini mendukung kebijakan dalam pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)  dan sepanjang semester I-2021, total dana yang BI keluarkan untuk SBN mencapai Rp120,83 triliun,” kata Perry dalam webinar The Future of Banking: Achieving Financial Inclusion, Rabu, 7 Juli 2021

Perry merinci, suntikan BI untuk pembiayaan APBN itu terdiri dari Rp40,80 triliun pada lelang utama dan Rp75,46 triliun pada lelang tambahan atau greenshoe option.

Kepala Ekonom Bank Permata Tbk (BNLI) Josua Pardede menilai porsi BI dalam lelang SBN bakal berkurang seiring adanya sentimen positif minat investor asing terhadap pasar obligasi dalam negeri. Menurutnya, menurunnya ekspektasi investor asing terhadap potensi tappering off The Fed membuat pasar obligasi dalam negeri kembali dilirik.

“Rilis data tenaga kerja AS yang memberikan hasil mixed praktis mengurangi ekspektasi pasar atas pengetatan moneter oleh The Fed,” kata Josua saat dihubungi TrenAsia.com, Rabu, 7 Juli 2021.

Sementara itu, pergerakan kenaikan imbal hasil atau yield dari SBN terpantau cukup terkendali sepanjang semester I-2021. Menurut data Indonesia Bond Pricing Agency (IBPA), yield obligasi negara hanya bergerak 0,97% saja pada paruh pertama tahun ini.

Kementerian Keuangan (Kemenkeu) melaporkan SBN mendominasi porsi penarikan utang Indonesia. Sebagian besar utang pemerintah hingga Mei 2021 ditarik dari SBN dengan porsi mencapai 86,94%.

Lebih rinci, nilai penarikan utang dari SBN mencapai Rp5.580,02 triliun. Hal itu terdiri dari SBN domestik sebesar Rp4.353,56 triliun dan valutas asing (valas) Rp1.226,45 triliun.

Sementara sisanya didapat dari pinjaman Rp838,13 triliun. Rinciannya, pinjaman dalam negeri Rp12,32 triliun dan pinjaman luar negeri Rp825,81 triliun.

Maka, total utang pemerintah hingga Mei 2021 berada di posisi Rp6.418,15 triliun. utang tersebut masih tumbuh tetap mengalami kenaikan Rp1.159,58 triliun dibandingkan dengan Mei 2020. (SKO)

Berita Terkait