Ekonomi Digital Kian Sintal, Raksasa Teknologi Dunia Bidik Akuisisi Emiten di RI

29 September 2021 04:02 WIB

Penulis: Drean Muhyil Ihsan

Editor: Sukirno

Economi Digital Kian Sintal, Raksasa Teknologi Dunia Bidik Akuisisi Emiten di RI. Ilustrator: Deva Satria/TrenAsia (Trenasia.com)

JAKARTA – Sektor digital atau saat ini kerap disebut sebagai ekonomi baru (new economy) masih menjadi sektor yang paling seksi di pasar modal Indonesia. Hal ini terlihat dari berbagai aksi grup raksasa teknologi di dalam dan luar negeri yang terus berupaya mengisi kesenjangan bisnisnya.

Ekspansi atau kolaborasi dan pertumbuhan di masa depan dari entitas yang dapat diakses di pasar modal menjanjikan pengembalian (return) yang menggiurkan. 

Sebut saja seperti yang dilakukan oleh Grup Djarum. Melalui bisnis e-commerce-nya, PT Global Digital Niaga (Blibli.com) mengakuisisi mayoritas saham pengelola Ranch Market, PT Supra Boga Lestari Tbk (RANC).

Jauh sebelum itu, Grup GoTo telah terlebih dahulu menggandeng PT Bank Jago Tbk (ARTO) pada sektor finansial. Untuk memperkuat sektor logistik, entitas gabungan Gojek dan Tokopedia ini turut bekerja sama dengan PT Adi Sarana Armada Tbk (ASSA) melalui anak usahanya, PT Tri Adi Bersama atau yang dikenal dengan AnterAja.

Untuk melengkapi ekosistemnya, GoTo dikabarkan juga membuka peluang untuk menarik PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA). Hal ini sebagai langkah decacorn tersebut memenuhi kebutuhan produk segarnya melalui HappyFresh.

Sementara itu, PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) alias Grup Emtek telah berdiri kokoh sebagai salah satu eminten teknologi di dalam negeri. Tak berhenti di situ, perusahaan milik konglomerat Eddy Kusnadi Sariaatmadja ini juga melanggengkan bisnis e-commerce miliknya, PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) untuk melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Pada sektor video streaming, Grup Emtek memiliki Vidio.com, di bawah naungan PT Surya Citra Media Tbk (SCMA). Layanan ini tentu menjadi kompetitor serius bagi GoPlay dan Mola TV yang masing-masing dikelola oleh Grup GoTo dan Djarum.

Di sisi lain, grup asing seperti Sea dan Grab tampak tak ingin ketinggalan dari para kompetitornya dalam meingkatkan bisnis teknologi di Tanah Air. Setelah mencaplok PT Bank Kesejahteraan Ekonomi (Bank BKE) dan mengubah namanya menjadi PT Bank Seabank Indonesia, Grup Sea dikabarkan mengincar PT Bank Capital Tbk (BACA).

Sedangkan, Grab Holdings telah melakukan kerja sama dengan OVO, dompet digital yang dikembangkan oleh PT Visionet Internasional. Lalu, produk tabungan OVO Premier juga merupakan produk tabungan milik PT Bank Nationalnobu Tbk (NOBU), di mana keduanya merupakan anak usaha Grup Lippo.

New Economy Menjanjikan Return Super

Grup GoTo telah terlebih dahulu menggandeng PT Bank Jago Tbk (ARTO) pada sektor finansial. Foto: Panji Asmoro/TrenAsia

Berdasarkan riset yang dirilis Syailendra Capital, sektor new economy memberikan return jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang tahun berjalan (year-to-date), seiring dengan tingginya ekspektasi pertumbuhan bisnis pada sektor ini. 

Kinerja tersebut terutama ditopang oleh perusahaan yang diakuisisi oleh grup teknologi ataupun dengan eksisting eksposur ke bisnis digital. Perusahaan besar berbasis teknologi juga masih memperluas segmen bisnis secara organik dan anorganik. 

“Hal ini seiring dengan peluang disrupsi bisnis digital yang masih besar di Indonesia,” tulis riset tersebut, dikutip Selasa, 28 September 2021.

Akuisisi perusahaan publik oleh perusahaan besar berbasis teknologi dan pertumbuhan pendapatan yang tinggi pun dapat menjadi peluang investasi bagi investor. Sentimen dan ekspektasi pertumbuhan tinggi yang berlanjut dapat menjadi pendorong bagi kinerja harga saham perusahaan-perusahaan dengan salah satu kriteria tersebut.

“Kami melihat pergerakan pasar modal masih akan dipengaruhi oleh perkembangan penyebaran COVID-19 di dalam dan luar negeri. Selain itu juga terdapat risiko makro dari kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat dan masalah utang perusahaan properti di Tiongkok,” tambahnya.

Namun demikian, perusahaan manajer investasi ini menilai masih terdapat peluang di pasar saham dari sektor-sektor yang cenderung tidak terdampak oleh pandemi. Perkembangan vaksinasi yang baik dan turunnya penyebaran virus dapat menjadi katalis bagi pasar secara keseluruhan.

Kinerja Sektor Teknologi RI

Bukalapak Pembuka Unicorn Go Public / Ilustrasi: TrenAsia - Deva Satria

Berdasarkan data Bloomberg, saham-saham sektor teknologi di pasar modal Indonesia menujukkan pelesatan yang signifikan, yakni 157% ytd hingga akhir Agustus 2021. Cukup jauh jika dibandingkan dengan IHSG yang hanya terungkit sekitar 3% ytd.

Masih dari riset yang sama, perusahaan besar berbasis teknologi dalam negeri dinilai masih memiliki posibilitas untuk melakukan akuisisi, guna melengkapi segmen bisnis yang dimiliki. 

“Hal ini menjadi peluang bagi investor mengingat kinerja saham yang meningkat signifikan apabila akuisisi dilakukan terhadap perusahaan publik.”

Perusahaan dengan eksposur digital juga cenderung memiliki target pendapatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan perusahaan lain di bursa domestik. Hal ini dapat menjadi faktor pendorong tersendiri bagi kinerja dan valuasi saham perusahaan-perusahaan tersebut.

Bloomberg sendiri memproyeksikan pertumbuhan pendapatan PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) naik 64% dan 54% untuk tahun 2022 dan 2023. Sedangkan, PT Adi Sarana Armada Tbk (ASSA) mampu bertumbuh 30% untuk 2022, dan 28% untuk 2023. Di sisi lain, IHSG hanya naik masing-masing 9% untuk dua tahun ke depan.

Berita Terkait