East Ventures dan Skystar Capital Suntik Start Up Fintech Komunal Rp30 Miliar

21 September 2021 16:07 WIB

Penulis: Daniel Deha

Editor: Amirudin Zuhri

Co-Founders Komunal Rico Tedyono, Hendry Lieviant, dan Kendrick Winoto. (Komunal/East Ventures.)

JAKARTA — Start up financial technology (fintech) pertama di Indonesia yang menawarkan layanan Neo-Rural Bank secara lokal, Komunal,  mengumumkan telah mendapatkan US$2,1 juta atau sekitar Rp30 miliar dalam putaran pendanaan Seri A.

Investasi tersebut dipimpin oleh East Ventures dengan partisipasi dari Skystar Capital. Kedua investor juga mendukung Komunal dalam putaran pendanaan awal perusahaan.

Co-Founder Komunal Hendry Lieviant Selasa 21 September 2021 mengatakan bahwa modal segar akan mempercepat misi perusahaan untuk meningkatkan inklusi keuangan di Indonesia dengan meningkatkan produk terbarunya yang bernama DepositoBPR.

Baru-baru ini, DepositoBPR mendapatkan izin resmi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan menjadikan Komunal sebagai agen pendanaan resmi pertama di Indonesia.

Produk ini bertujuan untuk menyediakan platform untuk menghubungkan deposan atau penabung dengan lembaga keuangan nasional, khususnya BPR yang menawarkan produk pendanaan yang sangat menarik.

"Kami percaya kemitraan yang kuat antara agen pendanaan dan BPR akan sangat meningkatkan inklusi keuangan negara. Karena BPR memiliki aset yang relatif lebih kecil daripada bank umum, mereka memiliki perubahan dinamis antara kebutuhan pinjaman dan pendanaan," ujar Hendry dalam keterangan pers, Selasa, 21 September 2021.

Dia menyebut, Indonesia memiliki 1.500 BPR di seluruh nusantara. Meskipun BPR ini hanya diperbolehkan menyalurkan kredit di provinsi masing-masing, nasabah diperbolehkan untuk menyimpan sumber secara nasional yang dijamin oleh pemerintah dengan tingkat plafon 2,5% lebih tinggi daripada bank umum.

Namun gabungan 1.500 BPR ini hanya mencakup 1,5% pangsa pasar dari total deposan negara karena sebagian besar BPR ini terletak di daerah pinggiran kota dan tidak dilengkapi dengan saluran digital yang membuat produk mereka tidak dapat diakses oleh deposan perkotaan.

DepositoBPR yang diluncurkan Komunal memungkinkan masyarakat nasional untuk mengakses suku bunga simpanan yang dijamin pemerintah setinggi mungkin dari BPR di wilayah mana pun tanpa harus mengunjungi bank.

Di sisi lain, BPR dapat memperoleh simpanan secara nasional tanpa mengeluarkan biaya besar untuk membuka cabang tambahan dan upaya pemasaran untuk menarik lebih banyak simpanan.

Dengan kata lain, BPR dapat memperoleh simpanan terlepas dari batasan geografis dan mengubah biaya operasional tetap yang lebih tinggi menjadi biaya variabel yang lebih rendah ke Komunal dengan menggunakan platform DepositoBPR.

"Kami berharap platform ini dapat menjembatani kesenjangan. Kami mengapresiasi dukungan dan saran OJK dan Asosiasi BPR untuk mempertajam produk "first of its kind" ini, kata Hendry.

Dia menerangkan bahwa salah satu tantangan utama platform ini adalah menstandardisasi dan mengoptimalkan proses BPR yang terfragmentasi untuk memastikan pengalaman nasabah yang lancar, seperti mengganti tanda tangan saat ini dengan tanda tangan digital.

Kemudian, program KYC (Know Your Customer) tatap muka melalui panggilan video dengan vendor eKYC, dan sebagian besar yang penting bilyet fisik ditingkatkan dengan e-bilyet, dimana semua ini belum pernah dilakukan sebelumnya oleh BPR.

Luncurkan e-Bilyet BPR

Dengan membawa digitalisasi ke dalam ekosistem, Komunal berencana meluncurkan aplikasi e-bilyet BPR pertama di Indonesia pada akhir tahun ini.

"E-bilyet yang dibuat secara digital, secara efektif akan menghilangkan gesekan ini dan membantu visi kami untuk membuat produk dapat diakses secara nasional," ucap Hendry.

Adapun bilyet atau sertifikat titipan,artinya BPR di Bali, misalnya, perlu mengirimkan bilyet fisik kepada deposan di Jakarta (dan sebaliknya ketika deposan ingin menarik simpanannya), yang memerlukan biaya logistik yang relatif tinggi dalam prosesnya.

Hendry menjelaskan, hingga saat ini, Komunal telah bekerja sama dengan 60 BPR di seluruh Jawa dan Bali, dan meluncurkan layanan DepositoBPR versi beta pada Agustus 2021. 
Perusahaan berfokus untuk menggandakan pangsa pasar BPR dengan menawarkan tarif yang lebih tinggi, serta transaksi yang lebih lancar ke pelanggan baru dan klien yang ada.

Komunal juga telah menyalurkan pinjaman US$50 juta kepada ratusan UKM di Indonesia, lebih dari dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Perusahaan berkomitmen untuk terus mendukung UKM dalam mendapatkan akses kredit, menargetkan pinjaman UKM sebesar US$150 juta pada tahun depan.

"Selama pandemi, perusahaan memperkuat arus kasnya dengan tingkat pembakaran minimal sebagai kelompok - berkat bisnis pinjamannya yang telah mencapai profitabilitas baru-baru ini,"ungkap Hendry.

Sementara itu, Co-Founder dan Managing Partner East Ventures Willson Cuaca, mengatakan, pihaknya mengapresiasi konsep baru "bank desa baru" Komunal untuk meningkatkan dan melengkapi bank-bank kecil dengan kemampuan yang lebih maju. 

Dia berharap pendekatan ini akan mempercepat inklusi keuangan secara masif dan mendalam ke setiap wilayah Indonesia.

"Komunal membawa inklusi keuangan ke tingkat berikutnya. Kami telah mendengar bahwa banyak startup memberikan solusi kepada konsumen yang tidak memiliki rekening bank, konsumen yang kurang terlayani, dan usaha mikro dan kecil yang tidak layak kredit. Namun tidak ada satupun solusi yang ditujukan kepada BPR," katanya.*

Berita Terkait