Duit Asing Kabur Rp58,42 Triliun dari BEI, IHSG Diprediksi Turun Lagi

JAKARTA – Investor asing telah keluar dari pasar modal Indonesia sebanyak Rp58,42 triliun sejak awal 2020. Sepanjang pekan ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi bakal kembali melemah.

Direktur PT Anugerah Mega Investama Hans Kwee mengatakan pasar saham terlihat dipengaruhi berita positif dan negatif sepanjang pekan akhir September dan awal Oktober 2020.

“Kami perkirakan IHSG berpeluang menguat di awal pekan dan cenderung melemah di tengah sampai akhir pekan. IHSG bergerak dengan level support di level 4.820 sampai 4.754 dan resistance di level 4.978 sampai 5.187 dengan kecenderungan melemah dalam sepekan ke depan,” kata dia dalam riset yang diterima TrenAsia.com, Minggu, 27 September 2020.

Pasar saham Indonesia pada akhir pekan menguat didukung oleh klaim pemerintah provinsi DKI Jakarta bahwa penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) total jilid II berhasil menekan angka kasus baru COVID-19.

Selain itu, kata dia, kabar vaksin perusahaan China Sinovac Biotech mendapatkan restu WHO menjadi tambahan sentimen positif. Namun, kabar vaksin ini ternyata hanya cuplikan pernyataan pejabat WHO sebelumnya ketika vaksin asal China memasukai uji tahap lanjutan.

“Perpanjangan PSBB jilid II sampai Oktober menjadi sentimen negatif bagi pasar,” tegasnya.

Dana Asing Lari

Dana asing terlihat terus keluar dari bursa saham Indonesia. Tercatat sudah 16 pekan, investor asing terus melakukan penjualan.

Pekan lalu, investor asing kembali mencatatkan net sell Rp2,17 triliun. Selama tiga bulan terakhir, asing tercatat melakukan penjualan Rp28,39 triliun dan sejak awal 2020 investor asing telah keluar dari PT Bursa Efek Indonesia (BEI) senilai Rp58,42 triliun.

Hans menilai, hal ini tentu tidak baik karena investor asing tercatat memiliki 49,95% saham non warkat atau scripless di BEI berdasarkan catatan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI). Terlihat investor lokal cukup kuat mengangkat IHSG di tengah tekanan jual asing, tetapi tidak tahu sampai berapa lama.

“Salah satu faktor yang diperkirakan membuat dana asing keluar adalah penanganan COVID-19 yang lemah dan kasus baru yang terus naik,” tuturnya.

Selama sepekan 21-25 September, IHSG ditutup merosot 2,24% ke level 4.945,79. Nyaris seluruh sektor parkir di zona merah selama seminggu. Hanya sektor aneka industri yang berhasil menguat tipis 0,57% dalam sepekan.

Lima saham perbankan menjadi top trading value. Kelima saham bank itu adalah BBCA Rp4,03 triliun, BBRI Rp2,5 triliun, BMRI Rp1,36 triliun, BBNI Rp1,1 triliun, dan BRIS Rp912 miliar dalam sepekan.

Kendati demikian, pada perdagangan akhir pekan, Jumat, 25 September 2020, IHSG berhasil melejit 2,13% sebesar 103,03 poin ke level 4.945,79 dari hari sebelumnya 4.842,75. Namun, IHSG belum kembali ke level psikologis 5.000.

Direktur PT Indosurya Bersinar Sekuritas William Surya Wijaya memperkirakan IHSG pada perdagangan awal pekan ini akan bergerak di rentang 4.889-5.002. Pergerakan IHSG berhasil melakukan teknikal rebound pascatertekan beberapa waktu sebelumnya.

“Potensi pergerakan masih terlihat cukup kuat untuk melanjutkan kenaikan. Hal ini ditunjang oleh sentimen dari kemajuan vaksin COVID-19, serta kondisi perekonomian dalam negeri yang cukup stabil. Hari ini IHSG berpotensi bergerak pada zona hijau,” tegasnya. (SKO)

Tags:
beiBursa Efek Indonesiacapital outflowCovid-19dki jakartaHeadlineihsgInvestor Asingprediksi IHSGPSBBPSBB Jilid IIvaksin COVID-19
%d blogger menyukai ini: