Duh, Testing dan Tracing Varian Baru COVID-19 di Indonesia Masih Lamban

15 Maret 2021 21:32 WIB

Penulis: Reky Arfal

Menteri Kesehatan, Budi Gunadi hadir pada rapat kerja dengan Komisi IX DPR di kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin, 15 Maret 2021. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

JAKARTA – Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan kemampuan Indonesia dalam testing atau mendeteksi varian virus COVID-19 masih ketinggalan.

Padahal, strategi testing dan tracing varian baru COVID-19 sudah digalakkan sejak Januari 2021. Saat ini, Indonesia baru menghasilkan 172 testing sekuensing genomik (pengurutan DNA).

“Sehingga kalau ada varian baru sulit teridentifikasi. Padahal di beberapa negara sudah 10.000 testing setahun,” ungkap Budi, dalam Rapat Kerja bersama Komisi IX DPR, di Jakarta, Senin 15 Maret 2021.

Budi menerangkan upaya percepatan deteksi varian baru dilakukan melalui kerja sama antara Badan Litbang Kesehatan dan 16 laboratorium lainnya di bawah koordinasi Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek/BRIN).

“Kami tingkatkan dalam bentuk jaringan laboratorium dengan Kemenristek/Brin pada 8 Januari 2021. Sehingga jaringan meningkat dan testing genom sekuensing meningkat,” katanya.

Hasilnya, Kemenkes mendeteksi varian baru asal Inggris B.1.1.7 di enam daerah di Indonesia. Dua kasus akibat penularan di Saudi Arabia dan sisanya melalui transmisi lokal.

Sedangkan hasil tindak lanjut terhadap potensi penyebaran virus B.1.1.7, seluruhnya telah terkonfirmasi negatif.

“Kami sedang perketat dan memperbanyak sampel genom sekuensing dengan memanfaatkan seluruh jaringan laboratorium yang ada di kami dan Kemenristek,” katanya lebih lanjut.

Rapid Antigen

Budi memaparkan upaya lainnya dalam meminimalisasi laju kasus penularan COVID-19 adalah dengan mengintensifkan penggunaan rapid antigen sesuai rekomendasi WHO.

Program tersebut ditargetkan satu per 1.000 penduduk atau setara 40.000 penduduk per hari. Hasilnya dapat diupayakan keluar kurang dari 24 jam.

Kemudian untuk target pendeteksian secara dini penyakit sebanyak 15-30 kontak erat per kasus terkonfirmasi harus diidentifikasi dalam 72 jam.

Dalam mengejar target itu, Budi bersama Kementerian Kesehatan telah menjalin kerja sama dengan 80.000 personel Babinsa dan Bhabinkamtibmas di seluruh desa/kelurahan.

“Rekomendasi WHO dibutuhkan 30 orang per 100.000 atau sekitar 80.000 tracer. Untuk itu, kerja sama dengan TNI-Polri mendidik tenaga Babinsa dan Bhabinkamtibmas, dan sedang dijalankan di Puskesmas,” tutupnya.

Berita Terkait