Duh! Kencangkan Ikat Pinggang.. Sri Mulyani Ramal RI Masuk Jurang Resesi Ekonomi

15 Agustus 2020 11:23 WIB

Penulis: Sukirno

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. / Kemenkeu.go.id

JAKARTA – Tampaknya masyarakat harus bersiap-siap mengencangkan ikat pinggang. Sebab, resesi ekonomi berpotensi besar menimpa Indonesia menyusul ekonomi kuartal II-2020 yang jeblok 5,32%.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi pada tahun 2020 dari semula berada di kisaran negatif 0,4% hingga positif 2,3% menjadi negatif 1,1% sampai positif 0,2%. Artinya, Indonesia berpeluang besar masuk dalam jerat resesi ekonomi.

“Perkiraan terakhir yang kita lakukan sesudah melihat realisasi kuartal II dan angka pada Juli, maka kita perkirakan untuk pertumbuhan 2020, range-nya ada di minus 1,1 persen hingga positif 0,2 persen,” kata Sri Mulyani dalam konferensi pers RUU APBN 2021 dan Nota Keuangan di Jakarta, Jumat, 14 Agustus 2020.

Sri Mulyani menjelaskan penurunan proyeksi tersebut dilakukan dengan melihat realisasi pertumbuhan ekonomi kuartal II tahun ini yang terkontraksi hingga 5,32% year-on-year (yoy).

“Artinya agak bergeser ke arah negatif atau mendekati nol karena kita melihat bahwa tekanan di kuartal kedua sangat dalam,” jelasnya.

Kontraksi Ekonomi

Sri Mulyani menuturkan kontraksi yang sangat dalam pada kuartal II-2020 memberikan peringatan kepada pemerintah supaya tetap hati-hati. Terutama dalam menahan dampak COVID-19 sehingga kuartal III dan IV akan dikelola dengan baik.

“Faktor-faktor untuk kuartal ketiga harus betul-betul diusahakan. Tidak hanya tergantung dari pemerintah meskipun pemerintah merupakan pemegang peran yang cukup besar dalam pemulihan ekonomi,” katanya.

Menkeu menjelaskan proyeksi tersebut didasarkan pada perkiraan pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang cukup dalam. Khusus untuk tahun ini, konsumsi rumah tangga diperkirakan antara minus 1,3% hingga tidak tumbuh atau nol persen. Sementara konsumsi pemerintah untuk tahun ini diperkirakan tumbuh antara 2% hingga 4%.

Untuk pembentukan modal tetap bruto (PMTB) atau investasi juga diperkirakan masih dalam kisaran zona negatif antara minus 4,2% hingga minus 2,6%. Kemudian prediksi ekspor dan impor turut mengalami tekanan masih dalam zona negatif yaitu minus 5,6% hingga minus 4,4% untuk ekspor dan minus 10,5% sampai minus 8,4% untuk impor.

“Tentu, kita akan melihat terutama pada pencapaian kuartal III untuk melihat proyeksi 2020 ini,” tegasnya.

Sri Mulyani melanjutkan ketidakpastian pada 2020 masih berlangsung hingga akhir tahun. Sehingga, proyeksi ekonomi untuk tahun depan akan sangat bergantung pada penanganan COVID-19.

“Meskipun, diperkirakan pulih tapi dibutuhkan partisipasi masyarakat untuk disiplin protokol kesehatan dan ketersediaan atau penemuan vaksin pada 2021,” ujarnya. (SKO)

Berita Terkait