Djoko Santoso; Kenyang di Operasi Seroja, Sukses Meredam Konflik Maluku

May 10, 2020, 03:52 PM UTC

Penulis: AZ

Jenderal (Purn) Djoko Santoso saat masih menjadi Pangiima TNI

Jakarta – Jenderal TNI (Purn) Djoko Santoso, Mantan Panglima TNI,  meninggal dunia Minggu pagi, pukul 06.30 WIB setelah dirawat di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto Jakarta Pusat sejak Sabtu 2 Mei 2020 karena stroke.

Djoko adalah salah satu sosok militer dengan karier cemerlang. Pria kelahiran Surakarta, Jawa Tengah, 8 September 1952 itu lulus dari pendidikan Akademi Militer (Akmil) di Magelang tahun 1975.

Selain itu, Djoko juga mengikuti Kursus Dasar Kecabangan Infanteri (Sussarcabif) pada 1976; Kursus Lanjutan Perwira Tempur (Suslapapur) 1987; Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (Seskoad) 1990; dan Lemhannas pada 2005.

Dia juga melanjutkan pendidikan S1 Sarjana Ilmu Politik dan S2 Manajemen Politik di Universitas Terbuka, Jakarta.

Karier Djoko di militer dimulai dengan menjabat sebagai Komandan Peleton 1 Kompi Senapan A Yonif 121/Macan Kumbang. Setelah jadi perwira tinggi dia menjabat Wassospol Kaster TNI (1998), Kasdam IV/Diponegoro (2000) dan Pangdivif 2/Kostrad (2001).

Dia kemudian menjabat Panglima Kodam XVI/Pattimura dan Panglima Komando Operasi Pemulihan Keamanan (Pangkoopslihkam) 2002-2003. Saat itu namanya bersinar karena berhasil meredam konflik di Maluku.

Setelahnya dia menjabat Panglima Kodam Jaya pada Maret 2003-Oktober 2003. Prestasinya kian melejit hingga menjadi Wakil Kepala Staf TNI-AD (Wakasad) tahun 2003.

Pada Tahun 2005, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengangkat Djoko Santoso sebagai Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD). Djoko menjadi KSAD ke-24, sejak 18 Februari 2005 hingga 28 Desember 2007

Dua tahun berselang, Presiden SBY mendampuknya sebagai Panglima TNI untuk menggantikan Marsekal TNI Djoko Suyanto pada tahun 2007 hingga Tahun 2010.

Selama penugasan di dunia militer, Djoko pernah mengikuti beberapa operasi, salah satunya Operasi Seroja pada 1976, 1981 dan 1988.

Kerabat berdoa di depan peti jenazah dari Jenderal TNI (Purn) Djoko Santoso di rumah duka kawasan Bambu Apus Raya, Jakarta Timur, Minggu (10/5/2020). Mantan Panglima TNI Jenderal TNI (Purn) Djoko Santoso meninggal dunia usai dirawat di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Jakarta Pusat, karena mengalami pendarahan otak. ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/foc.

Adapun untuk penugasan luar negeri ia pernah ditugaskan ke Malaysia (1990), Australia (1990), Singapura (1991), China (1994), Amerika Serikat (2006), Vietnam (2006), India (2007), Pakistan (2007), Kamboja (2007).

Selama kariernya di dunia militer, Djoko pernah mendapatkan beberapa bintang jasa seperti Bintang Dharma, Bintang Kartika Eka Paksi Utama, Bintang Bhayangkara Utama, Bintang Pingat Jasa Gemilang, Bintang Swa Bhuwana Paksa Utama, Bintang Jalasena Utama, dan Medali Sahametrei Tingkat Theoupdin.

Setelah akhir masa jabatannya sebagai Panglima TNI, Djoko Santoso digadang-gadang maju menjadi calon presiden 2014-2019. Namun dia menyatakan dukungannya kepada pasangan calon presiden dan wakil presiden Prabowo Subianto-Hatta Rajasa.

Djoko Santoso pun menjabat sebagai salah satu anggota Dewan Pembina Partai Gerindra sejak 2015. Kesetiaannya pada Prabowo Subianto pun ditunjukannya kembali pada Pilpres 2019-2024. Djoko Santoso didapuk sebagai Ketua Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandiaga.

Tidak hanya di politik, nama Djoko Santoso juga menggema di dunia olahraga. Ia pernah terpilih menjadi Ketua Umum PB PBSI periode 2008-2012 secara aklamasi.

Pria sosok yang tegas dan perhatian terhadap para prajurit ini meninggalkan seorang istri yaitu Angky Retno Yudianti dan dua orang anak yaitu Andika Pandu Puragabaya dan Ardhya Pratiwi Setiowati.

Jajaran TNI dan TNI Angkatan Darat pun mengibarkan bendera setengah tiang sebagai penghormatan terakhir atas meninggalnya mantan Panglima TNI Jenderal TNI itu.

Djoko dimakamkan Minggu di pemakaman San Diego Hills, Karawang Jawa Barat. Selamat jalan jenderal….

Dari berbagai sumber