Dituntut Efisiensi Sekaligus Ekspansi, Bank BRI Kena Dilema

09 Oktober 2021 02:14 WIB

Penulis: Muhamad Arfan Septiawan

Editor: Rizky C. Septania

Gedung Bank Rakyat Indonesia (BRI) di kawasan Sudirman, Jakarta. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA - Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) semakin mempertebal peran PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk untuk menggarap segmen Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) melalui Holding Ultra Mikro. Portofolio kredit UMKM perusahaan pelat merah penyumbang dividen terbesar ke kas negara itu diharuskan mencapai 85% sebelum 2025. 

Proses ekspansi ini berbarengan upaya emiten bersandi BBRI untuk melakukan efisiensi. Hal ini dipicu oleh operasional ‘borosnya’ BRI sehingga bisa memicu penyusutan profitabilitas.

Sekretaris Perusahaan BRI Aestika Oryza mengatakan sejumlah pos memang mengalami peningkatan. Ambil contoh, biaya kredit (cost of credit/Coc) di BBRI yang melejit dari 2,2% pada semester I-2020 menjadi 4,14% pada semester I-2021.

Biaya kredit yang dimiliki BRI ini lebih tinggi dibandingkan ‘kawannya’ di Himpunan Bank Milik Negara (Himbara). PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) diketahui memiliki biaya kredit lebih ramping, yakni 3,5% pada semester I-2021.

Biaya kredit yang lebih mencolok dicatatkan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) yang hanya 0,94% pada paruh pertama tahun ini. Aestika menilai tingginya biaya kredit ini dipicu untuk memperkuat mitigasi kredit bermasalah. 

“Peningkatan cost of credit sejalan dengan strategi BRI melakukan front load atau mencadangkan dimuka dalam rangka menjaga sustainability bisnis BRI ke depan,” jelas Aestika saat diwawancara TrenAsia.com, Jumat, 8 Oktober 2021.

Aestika bilang biaya kredit perseroan telah menurun ke 3,84% pada September 2021. Dirinya memproyeksikan biaya kredit BRI parkir di level 3,5% pada akhir 2021.

“Hingga akhir tahun 2021, BRI memproyeksikan credit cost akan berada di kisaran 3,%-3,7%,” papar Aestika.

Pencadangan memang menjadi aspek yang paling diutamakan BRI saat ini, bukan profitabilitas. Hal ini tercermin dari Loan at Risk (LAR) BRI yang menyentuh 27,29% pada Juli 2021.

Strategi ini cukup beralasan. Pasalnya, kualitas aset yang ditinjau dari non performing loan (NPL) BRI tercatat mengalami perburukan dengan meningkat dari 3,61% pada akhir 2020 menjadi 4,14% pada semester I-2021.

Pos lainnya yang terus membengkak di BBRI ialah biaya dana (cost of fund) dan biaya operasional. Aestika menga mengakui ekspansi kredit ke segmen ultra mikro memiliki kecenderungan CoF yang tinggi.

“Menggarap segmen ultra mikro merupakan sebuah tantangan bagi BRI, Pegadaian dan PNM. Hal tersebut dikarenakan adanya operational risk dan operational cost yang tinggi,” ucap Aestika.

Padahal, selama ini BRI tercatat memiliki CoF yang efisien di angka 2,2% pada semester I-2021 atau turun dibandingkan semester I-2020 yang sebesar 3,2%. 

Posisi BRI untuk memaksimalkan ekspansi bisnis ke segmen ultra mikro juga diperberat oleh beban restrukturisasi. Sebagai informasi, perusahaan pelat merah ini menjadi bank dengan nilai restrukturisasi terbesar di antara anggota Himbara.

Direktur Utama (Dirut) BRI Sunarso mengatakan perseroan terus berupaya menjaga kualitas kredit di tengah masa restrukturisasi yang berlangsung hingga 2023. Adapun outstanding restrukturisasi BRI secara akumulatif mencapai Rp234,08 triliun

“Restrukturisasi kredit di Himbara paling besar berdada di BRI karena jangkauan kami paling besar di UMKM dengan debitur mencapai 2,46 juta,” kata Sunarso dalam sebuah webinar belum lama ini.

Hingga Juli 2021, nilai restrukturisasi kredit itu telah berkurang menjadi Rp173,77 triliun. Nilai itu mengalami penurunan hingga Rp1,4 triliun hanya dalam satu bulan.

Lebih rinci, outstanding restrukturisasi kredit per Juli 2021 itu terdiri dari segmen mikro sebesar Rp68 triliun, usaha kecil Rp70,9 triliun, dan menengah Rp4,52 triliun. Lalu, segmen konsumer Rp9,09 triliun, korporasi non-BUMN Rp3,85 triliun, dan korporasi-BUMN Rp17,37 triliun.

Kredit Bakal Moncer?

Sejumlah faktor ini membuat BRI sempat kesulitan untuk menggandakan penyaluran kredit. Direktur Keuangan (Dirkeu) BRI Viviana Dyah Ayu Retno K mengatakan kecepatan penyaluran kredit perseroan sempat melambat pada Juli 2021 sebagai dampak dari Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 4.

“Jadi memang kuartal III-2021, sebagai gambaran, pertumbuhan pinjaman sempat mengalami tekanan pada Juli. Namun membaik di Agustus-September,” ujar Vivi dalam konferensi pers, Kamis, 7 Oktober 2021.

Di sisi lain, CoF BRI diklaim Vivi turun terbatas pada semester II-2021. Sayangnya, dirinya tidak menyebutkan angka pasti kondisi CoF BBRI pada kuartal III-2021.

“Untuk CoF kami informasikan turun terbatas pada semester II-2021,” tegas Vivi.

Perseroan membidik pertumbuhan kredit sebesar 7% year on year (yoy) pada tahun ini. Menilik ke belakang, target ini tergolong tinggi bagi BRI.

Pada tahun lalu, BRI secara konsolidasi hanya mampu memompa penyaluran kredit sebesar 3,89% yoy menjadi Rp938,7 triliun. Dengan berpijak pada realisasi penyaluran kredit 2020, maka diperkirakan target penyaluran BRI secara konsolidasi harus bertambah minimum Rp65,7 triliun.

Vivi bilang likuiditas BRI masih terjaga cukup baik, apalagi mendapat suntikan dana rights issue senilai Rp95,92 triliun. “Likuiditas kami masih terjaga dengan baik, ada tambahan likuiditas dari rights issue beberapa waktu lalu,” papar Vivi.

Dengan likuiditas yang tinggi, tantangan BRI dalam memacu kinerja sebetulnya ada di sentimen kualitas aset. Analisis Pasar Modal sekaligus Ekonom LBP Institute Lucky Bayu Purnomo menyebut BRI punya tantangan besar memikul dua entitas barunya, yakni PT Pegadaian (Persero) dan PT Permodalan Nasional Madani (Persero) atau PNM.

“BRI punya tantangan baru pengelolaan usaha, padahal masih ada carry over sentimen yang cukup tinggi di masa lalu seperti NPL gross BRI yang tinggi. Di tengah situasi ini, pertanyaannya apakah BRI ke depannya bisa menjaga kinerja dari entitas anaknya sekaligus kualitas aset dari BRI secara bank only itu sendiri,” kata Lucky kepada TrenAsia beberapa waktu lalu.

Selain itu, tantangan lain yang mesti dihadapi BRI dalam proses efisiensi dan ekspansi ini terletak pada optimalisasi layanan perbankan digital. Menurut Lucky, karakteristik pangsa pasar BRI yang tidak terlalu cakap dalam penguasaan digital banking menjadi tantangan besar perseroan. 

Jumlah pasarnya pun, kata Lucky, sangat besar. Sebanyak 18 juta pelaku usaha ultra mikro diklaim bisa menjadi pasar potensial bagi BRI dan entitas anaknya dalam menggenjot intermediasi. 

Dengan begitu, BRI berpeluang untuk kembali mengkudeta Bank Mandiri sebagai bank dengan aset terbesar. Hingga semester I-2021, BRI telah memiliki total aset sebesar Rp1.450,91 triliun atau turun dibandingkan Desember 2020 yang sebesar Rp1.511 triliun. 

“Saya kira akan positif untuk menambah aset dari BRI dari dua entitas ini, belum lagi ada partisipasi publik juga,” ungkap Lucky.

Berita Terkait