Ditunjuk Jadi Induk Holding, Erick Thohir Tugaskan BRI Genjot Segmen Ultra Mikro

13 September 2021 14:29 WIB

Penulis: Muhamad Arfan Septiawan

Editor: Muhamad Arfan Septiawan

Gedung Bank Rakyat Indonesia (BRI) di kawasan Sudirman, Jakarta. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) semakin mempertajam lini bisnis segmen Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Hal ini tercermin dari portofolio kredit korporasi di BRI yang menipis dari 20% menjadi 18% pada semester I-2021.

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir meminta BRI semakin fokus menggarap segmen UMKM. Apalagi, kini memimpin Holding BUMN Ultra Mikro dengan dua entitas baru, PT Pegadaian (Persero) dan PT Permodalan Nasional Madani (Persero) atau PNM.

“Saya juga mengapresiasi bagaimana BRI ini men-switch pendanaan korporasi yang terus berkurang dari 20% menjadi 18%,” jelas Erick dalam Penandatangan Akta Inbreng Saham Negara kepada BRI, Senin, 13 September 2021.

BRI sendiri menargetkan komposisi segmen UMKM menguasai 85% dari total kredit pada 2025. Adapun komposisi segmen UMKM di BRI secara konsolidasi hingga semester I-2021 baru mencapai 80,26%.

Direktur Utama (Dirut) BRI Sunarso mengatakan Holding BUMN Ultra Mikro ini menjamin tidak akan ada mengubah business model perseroan.

“Saya tekankan adanya Holding ini tidak akan mengubah business model, kami akan perkuat dan tingkatkan jangkauannya,” jelas Sunarso dalam kesempatan yang sama.

Holding ini bakal menggabungkan hingga 20 juta data nasabah dari tiga perseroan. Dengan begitu, Sunarso menyebut kemampuan jangkauan bakal lebih memadai.

“Satu agen BRILink bisa memberikan produk BRI, PNM, atau Pegadaian. Holding ini akan memberikan jangkauan yang luas dengan pilihan produk yang lebih beragam,” jelas Sunarso.

Jumlah agen BRILink sendiri pada Agustus 2021 telah mencapai 470.000. Pada periode yang sama, agen BRILink telah mencatatkan penghimpunan dana murah Rp16 triliun atau meningkat 6% year on year (yoy).

Sementara itu, referral kredit segmen mikro yang dicatatkan agen BRILINk telah melesat 52% menjadi 100.000 dan mendatangkan fee based income bagi perseroan sebesar Rp850 miliar.

Nilai ini diprediksi bertambah meningkat ada produk baru yang bisa digarap oleh agen BRILink. Integrasi data, kata Sunarso, juga memiliki implikasi terhadap kemudahan penyaluran bantuan dari pemerintah.

“Integrasi data Grass root , maka kemudian database-nya bagus maka penyaluran bantuan atau pun bentuk intervensi lain dari pemerintah,” ucap Sunarso.

Berita Terkait