Diterjang Gelombang e-Commerce, Ramayana Pede dengan Penjualan Offline

10 September 2021 17:47 WIB

Penulis: Ananda Astri Dianka

Editor: Amirudin Zuhri

Salah satu gerai milik Ramayana. / twitter.com/ramayanads

JAKARTA – Gelombang e-commerce di Indonesia memang telah mengubah budaya berbelanja masyarakat. Ditambah lagi dengan adanya COVID-19 yang membuat mobilitas masyarakat menjadi terbatas.

Maka tak heran apabila tren belanja daring makin subur. Akan tetapi, PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS) rupanya tetap percaya diri dengan penjualan luring (offline).

“Kami percaya COVID-19 ini sementara. Market kami yakni masyarakat menengah ke bawah masih lebih suka belanja offline,” kata Komisaris Independen Ramayana, Koh Boon Kim dalam Public Expose 2021, Jumat 10 September 2021.

Menurutnya, penjualan daring dan luring sejatinya saling mengisi antara lain. Selama pandemi, penjualan daring memang sangat bisa diandalkan, tetapi dalam kondisi normal, budaya berbelanja masyarakat akan kembali ke luring.

Meski mengandalkan penjualan secara konvensional, perseroan tetap menjalin kerja sama dengan sejumlah e-commerce. Saat ini, RALS mengakui bahwa penjualan daring belum banyak berkontribusi banyak.

“Tahun ini, kami targetkan kontribusinya bisa mencapai 2 persen dari total penjualan,” tambah dia.

 Untuk itu, Ramayana hingga kini belum berencana untuk melakukan ekspansi bisnis dengan menluncurkan aplikasi atau e-commerce perseroan.

Dengan mengandalkan model bisnisnya saat ini, RALS menargetkan penjualan hingga akhir tahun bisa tumbuh hingga 10%. Target ini turun dari sebelumnya sebesar 15%, penyesuaian target ini disebabkan adanya gelombang kedua COVID-19 hingga diberlakukannya PPKM selama beberapa minggu terakhir.

“Sebetulnya target kita 15 persen sudah on track. Tapi sejak PPKM, kami harus menutup sementara gerai sehingga target penjualan direvisi.”

Berita Terkait