Dirjen WHO Sebut Varian Omicron Tetap Bisa Membahayakan Orang yang Tidak Divaksin

14 Januari 2022 16:00 WIB

Penulis: Justina Nur Landhiani

Editor: Rizky C. Septania

Dirjen WHO sebut varian Omicron tetap bisa membahayakan orang yang tidak divaksin (Trenasia.com)

JAKARTA - Varian COVID-19 Omicron memang merupakan varian yang harus diwaspadai. Namun, Dirjen WHO telah memperingatkan bahwa varian Omicron berbahaya untuk orang yang belum divaksinasi.

WHO mengatakan bahwa lonjakan kasus global kini didorong oleh varian Omicron yang lebih menular daripada varian Delta yang lebih dominan sebelumnya. Seperti yang dilansir dari laman The Japan Times, ada lebih dari 15 juta kasus yang dilaporkan WHO pekan lalu, dengan jutaan kasus lagi diperkirakan tidak tercatat.

“Sementara Omicron menyebabkan penyakit yang lebih ringan daripada Delta, itu tetap menjadi virus berbahaya, terutama bagi mereka yang tidak divaksinasi,” kata kepala WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam konferensi pers, seperti yang dikutip dari laman The Japan Times pada 14 Januari 2022.

Akan tetapi, WHO bersikeras agar tidak boleh ada yang menyerah pada varian Omicron tersebut. Dirjen WHO juga menyebutkan bahwa sebagian besar orang yang dirawat di rumah sakit merupakan orang-orang yang belum mendapatkan vaksin.

Akan tetapi menurut Tedros, meskipun vaksin dinilai sangat efektif untuk mencegah kematian dan COVID-19 yang parah, vaksin tidak sepenuhnya mencegah penularan. Penularan yang semakin meningkat bisa menimbulkan kebutuhan rawat inap yang lebih banyak, lebih banyak kematian, dan berisiko lebih banyak orang yang tidak bisa bekerja seperti petugas kesehatan yang justru dapat menimbulkan risiko munculnya varian lain yang lebih menular dan lebih mematikan daripada varian Omicron.

Tedros juga menginginkan setiap negara agar 10% dari populasinya harus sudah divaksinasi pada akhir September 2021, dan 40% pada akhir Desember, dan 70% pada pertengahan tahun 2022. Akan tetapi, 90 negara kini masih belum mencapai target 40% dengan 36 di antaranya masih kurang dari angka 10%.

Menurut Tedros, di Afrika lebih dari 85% orang  belum mendapatkan satu dosis vaksin. Oleh karena itu, perlu untuk segera memenuhi target vaksinasi jika ingin mengakhiri masa pandemi.

Berita Terkait