Dipantik Rencana Rights Issue, Saham ABBA Terus Melejit dan Berpotensi Menuju Level Rp700

26 Juli 2021 21:00 WIB

Penulis: Drean Muhyil Ihsan

Editor: Rizky C. Septania

Erick Thohir pemilik Mahaka Media Group / Dok. Mahaka Media

JAKARTA – Saham PT Mahaka Media Tbk (ABBA) mengalami lonjakan tajam pada perdagangan Senin, 26 Juli 2021. Bahkan, saham emiten media milik Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Erick Thohir ini mengalami auto reject atas (ARA) sebelum sesi akhir perdagangan ditutup.

Melansir data RTI, saham ABBA melesat 25% menuju level harga Rp540 per lembar pada perdagangan awal pekan ini. Selama sepekan perdagangan, saham pemilik media Republika dan JakTV itu mengalami peningkatan sekitar 97,08%. 

CEO Finvesol Consulting, Fendy Susianto mengatakan bahwa peningkatan harga saham ABBA didorong oleh rencana penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD) alias rights issue yang akan digelar perseroan.

Secara empiris, harga saham suatu emiten memang akan mengalami lonjakan ketika berencana melaksanakan rights issue. Tujuannya, untuk mendapatkan hasil pendanaan yang lebih besar saat aksi korporasi itu berlangsung. 

“Karena harga rights issue mengarah pada rata-rata harga 30 hari hari perdagangan, jadi kalau harga sahamnya lebih tinggi, pasti harga rights issue juga akan naik. Entah ini disengaja atau di trigger untuk naik, tapi yang jelas arahnya memang begitu,” ujar Fendy kepada Trenasia.com, Senin, 26 Juli 2021.

Secara teknikal, pria yang akrab disapa OMFin ini mengungkapkan saham ABBA mengalami breakout dengan pola pennant sejak 14 Juli 2021. Pada saat itu, targetnya berada pada level harga Rp515 per lembar. Bahkan, ia melihat saham ABBA berpotensi menuju level harga Rp700 per unitnya. 

“Targetnya juga relatif tinggi, kalau kita lihat sekarang di target pola pennant itu ada di Rp515, kemudian speculative target ada di level Rp700,” paparnya.

Lebih lanjut, OMFin menilai rencana ABBA juga akan mendompleng bisnis anak usahanya, PT Mahaka Radio Integra Tbk (MARI) terkait pengembangan model bisnis baru radio. Di mana, perusahaan tersebut fokus pada digitalisasi dengan platform andalannya, NOICE. 

Bagi dia, pengembangan bisnis tersebut akan membutuhkan investasi yang tidak sedikit. Sehingga hal ini yang mendorong perseroan untuk memperoleh pendanaan yang lebih besar, baik dari sisi belanja modal (capital expenditure), maupun modal kerja (working capital).

“Harapannya dengan pengembangan digitalisasi membuat perseroan mendapatkan pendengar yang jauh lebih masif dan memberikan potensi pendapatan yang lebih besar di kemudian hari,” pungkasnya.

Berita Terkait