Diminta Erick Thohir, 3 BUMN Raksasa Tutup 51 Anak Usaha

Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dipastikan memangkas jumlah perusahaan pelat merah dari 142 BUMN dan 800 anak hingga cucu usaha menjadi hanya 70% saja. Konsolidasi itu akan dilakukan dalam dua tahap.

Menteri BUMN Erick Thohir mengatakan bahwa restrukturisasi akan membuat arus kas BUMN menjadi lebih baik sehingga dapat bertahan di tengah kondisi krisis seperti saat ini ketika wabah virus corona baru (COVID-19) merebak.

“Penting sekali pada saat ini dengan adanya COVID-19, ketahanan cash flow masing-masing perusahaan menjadi raja, makanya harus efisien, jangan juga kita hanya bicara size tapi tidak sehat,” ujar Erick Thohir dalam konferensi pers melalui video di Jakarta dilansir Antara, Jumat, 3 April 2020.

Erick Thohir mengatakan pihaknya sudah melakukan pemetaan terhadap total utang dan arus kas masing-masing BUMN. Namun sayangnya, ia belum dapat mengungkapkan lebih jauh nilai nominal total utang dan arus kas BUMN karena perlu melaporkannya terlebih dahulu kepada Kementerian Keuangan.

“Ini pertama kali BUMN sudah bisa me-mapping seberapa besar total utang dan cash flow-nya, tapi saya enggak bisa sampaikan karena mesti laporkan ke Menkeu sebagai pemilik,” ucap Erick Thohir.

Dia mengharapkan dengan restrukturisasi ini BUMN memiliki arah bisnis yang lebih jelas dan terarah sehingga dapat lebih bersaing dengan perusahaan global pasca COVID-19.

“Saya harapkan perusahaan BUMN punya arah dan kepastian yang jelas karena persaingan akan semakin ketat, apalagi setelah COVID-19 akan banyak perusahaan lain yang lebih efisien,” ucap Erick Thohir.

Dalam proses restrukturisasi, Menteri BUMN menekankan kepada perusahaan pelat merah untuk sebisa mungkin meminimalisir pengurangan jumlah Sumber Daya Manusia (SDM).

Ia mengatakan masing-masing BUMN harus telah menyiapkan strategi dan skenario rasionalisasi dan konsolidasi terhadap karyawan, antara lain melalui optimalisasi dan alih tugas antar anak perusahaan maupun dengan perusahaan induk.

“Kita akan terus berkoordinasi dengan masing-masing BUMN guna memastikan bahwa proses ini dijalankan dengan berpedoman pada Undang-Undang Ketenagakerjaan serta peraturan lain yang berlaku,” kata Erick Thohir.

Seluruh perusahaan BUMN ini nantinya akan dikelompokkan dalam beberapa sub-holding. Dari 27 klaster, akan dipangkas menjadi 14 klaster perusahaan sehingga memudahkan menteri dan wakil-wakilnya untuk melakukan pengawasan.

Direktur Eksekutif Economic Action Indonesia, Ronny P Sasmita menilai bahwa perampingan jumlah BUMN dapat membuat pelaksanaan bisnis perusahaan pelat merah menjadi lebih fokus.

“BUMN selama ini, kurang fokus mengelola sektor utamanya, gara-gara terlalu banyak anak usaha. Jadi dalam kacamata lain, pemangkasan ini juga berarti mengembalikan BUMN-BUMN pada core business utamanya, yang dimandatkan undang-undang,” ujar Ronny secara terpisah.

Selama ini, menurut dia, banyak BUMN yang melakukan ekspansi namun tidak diikuti dengan analisa jangka panjang, yang pada akhirnya membebani keuangan induk perusahaan.

Di tengah wabah COVID-19, lanjut dia, menjalankan kebijakan untuk merampingkan BUMN memang tidak mudah, maka itu dibutuhkan gotong-royong semua pihak agar BUMN lebih baik ke depannya.

Saat ini, kata dia, penyelesaian dan penanganan COVID-19 sudah menjadi tanggung jawab task force yang dikomandoi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Ruang lingkup BUMN dalam hal ini hanya membantu pemerintah.

“Kalau banyak BUMN yang mengalihkan CSR-nya ke bantuan alat kesehatan penanggulangan COVID-19, saya pikir itu lumrah, bagian dari partisipasi BUMN. Intinya, Kementerian BUMN punya tugas untuk membuat BUMN berjalan lebih baik, salah satunya dengan rasionalisasi anak-anak usaha BUMN,” ucapnya.

Adapun langkah konsolidasi anak usaha ini sudah dimulai dari melakukan rasionalisasi kepada tiga BUMN, yakni PT Telekomunikasi Indonesia (Persero), PT Pertamina (Persero), dan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. Ketiga BUMN itu menutup 51 anak-cucu usaha secara bertahap.

1. Pertamina

PT Pertamina (Persero) melakukan rasionalisasi terhadap 25 anak/cucu perusahaan yang dilakukan dalam dua tahap dengan tahap pertama terdapat tujuh perusahaan yang dilikuidasi dan satu perusahaan didivestasi.

“Kami sudah melakukan kajian untuk melihat rasionalisasi yang akan dilakukan, kami sudah mengidentifikasi adanya 25 perusahaan yang bisa kita lakukan likuidasi dan juga divestasi di mana sebagian perusahaan-perusahaan ini secara operasional sudah tidak berjalan,” ujar Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati di Jakarta.

Nicke mengatakan bahwa pihaknya melihat 25 perusahaan ini merupakan quick win, karena sesuai dengan prinsip kebijakan dari pemerintah bahwa tidak akan ada lay-off atau pemberhentian.

Menurut Nicke, untuk perusahaan-perusahaan yang dilikuidasi tidak ada lay-off. Beberapa personel adalah penugasan dari Pertamina sehingga Pertamina bisa menarik kembali mereka. Sedangkan, untuk perusahaan yang divestasi, Pertamina pastikan dalam proses divestasi dan seluruh karyawannya juga tetapi direkrut oleh perusahaan yang baru.

“Dari 25 perusahaan ini yang akan dilakukan (rasionalisasi) pada tahun ini ada delapan perusahaan, di mana tujuh perusahaan dilikuidasi dan satu perusahaan didivestasi,” kata Nicke.

Lebih lanjut dia mengatakan bahwa sisanya sebanyak 17 perusahaan lagi akan dilakukan pada tahun depan. Nanti tahapan berikutnya yakni pada tahapan ketiga, setelah 17 perusahaan itu, secara paralel Pertamina juga sedang melihat kembali sesuai dengan prinsip efisiensi dan juga fokus pada bisnis inti.

“Kami nanti akan melihat mana yang kemudian akan bisa dilakukan merger, tapi tidak menutup kemungkinan kami pun akan ada rencana untuk melakukan akuisisi yang secara strategis diperlukan untuk Pertamina dalam memperkuat bisnis utama,” kata Dirut Pertamina tersebut.

2. Telkom Indonesia

Direktur Utama PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk., Ririek Adriansyah mengatakan restrukturisasi anak perusahaan akan berdampak positif pada kinerja perseroan ke depan.

“Dampak restrukturisasi akan positif, di satu sisi ini akan efisien karena (sebelumnya) ada overlapping,” ujarnya melalui konferensi video.

Ia menambahkan sejak tahun lalu pihaknya telah melakukan restrukturisasi anak dan cucu perusahaan.

“Di Telkom ada 49 anak dan cucu perusahaan yang terkonsolidasi ke Telkom. Dan setelah di-scan ada yang duplikasi, beberapa overlapping, kurang efisien dan kita pertimbangkan ke depan akan seperti apa,” katanya.

Dengan restrukturisasi, ia mengharapkan, anak usaha turut mendukung bisnis inti Telkom sehingga dapat memberikan nilai tambah bagi perseroan.

Ia mengemukakan Telkom akan melakukan proses konsolidasi terhadap 20 anak perusahaan yang memiliki kesamaan portofolio ataupun yang saat ini masih kurang optimal dalam memberikan nilai tambah menuju digital telekomunikasi, yang akan dilaksanakan secara bertahap hingga 2021.

Ia menambahkan proses itu dilakukan dengan melakukan penggabungan usaha (merger) anak usaha.

“Selama proses ini kita akan terus jaga pelayanan pada pelanggan, kita tidak terpengaruh sama sekali,” ucapnya.

3. Garuda Indonesia

Maskapai penerbangan pelat merah PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk., melakukan rasionalisasi terhadap enam cucu perusahaan tersebut terkait penataan serta pengelolaan terhadap anak dan cucu perusahaan BUMN.

“Ada enam cucu perusahaan untuk Garuda ini,” ujar Direktur Utama Garuda, Irfan Setiaputra di Jakarta.

Irfan mengatakan ini baru tahapan awal dari rasionalisasi yang dilakukan. Pihaknya akan terus melakukan hal-hal yang diperlukan dan opsi-opsi apa saja yang ada.

“Hari ini kita rasionalisasi terhadap anak dan cucu perusahaan, di mana salah satunya yang menjadi cukup banyak perhatian media yakni Garuda Tauberes,” kata Irfan.

Menurut Dirut Garuda tersebut, Garuda Tauberes akan di-merger-kan dengan perusahaan inti yang ada saat ini, mengingat Garuda Tauberes itu merupakan aplikasi kargo yang mau extend ke kelas menengah.

“Kita menganggap bahwa ini bisa kita lakukan juga di area bisnis kargo kita tanpa perlu melakukan pembentukan usaha bisnis baru,” ujar Irfan.

Selama ini Garuda melakukan beberapa kajian yang mendalam mengenai anak dan cucu BUMN, dan Garuda ingin sebenarnya banyak fokus pada bisnis inti dan kemudian memetakan serta mengevaluasi apa yang selama ini terjadi di anak dan cucu perusahaannya.

“Jadi seperti telah disampaikan oleh Menteri BUMN, kita sepenuhnya mendukung arahan dari Kementerian terkait pengelolaan yang proper baik untuk anak maupun cucu perusahaan BUMN,” ujar Irfan. (SKO)

Tags:
Anak usahaBUMNErick ThohirGaruda IndonesiaHeadlinepertaminaTelkom Indonesia
%d blogger menyukai ini: