Dilirik Investor, Amar Bank Pede Bisa Pertebal Modal Inti Demi Sanggupi Ketentuan Anyar OJK

26 Agustus 2021 11:30 WIB

Penulis: Muhamad Arfan Septiawan

Editor: Rizky C. Septania

PT Bank Amar Indonesia Tbk. (Amar Bank) / Facebook @amarbankindonesia

JAKARTA – PT Amar Bank Indonesia Tbk (AMAR) menyatakan optimistis untuk memenuhi syarat minimum modal inti Rp2 triliun pada tahun ini dan Rp3 triliun pada 2022 oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Bank yang telah beroperasi sepenuhnya digital pada tahun lalu itu mengklaim banyak investor yang berminat menanamkan modalnya di perseroan.

Presiden Direktur AMAR Vishal Tulsian mengatakan perseroan memiliki banyak opsi untuk memompa modal inti. Untuk memenuhi syarat OJK, Amar Bank harus menambah modal tier 1 setidaknya Rp1 triliun.

Pasalnya, posisi modal inti perseroan hingga semester I-2021 masih berada di level Rp1 triliun.

 “Kami merupakan bank digital yang terdepan yang diminati investor. Kami cukup yakin bisa memenuhi syarat modal inti tersebut,” jelas Vishal dalam papara virtual, Rabu, 25 Agustus 2021.

Dirinya menyebut hal ini bukan kali pertama harus melewati tantangan penambahan modal inti. Sejak 2018, perseroan mengklaim telah lolos tiga kali terkait persyaratan modal inti dari OJK.

“Ini bukan yang pertama, kami sudah melewatinya sebanyak tiga kali. Ada banyak opsi yang bisa kami lakukan,” tegas Vishal.

Meski begitu, Vishal masih belum bisa membeberkan opsi apa yang bakal ditempuh Amar Bank dalam menambah modal inti di sisa tahun ini.

Di sisi lain, Vishal mengklaim kinerja keuangan perseroan cukup stabil hingga kuartal II-2021. Hal ini tercermin dari raihan laba bersih Rp2 miliar atau tumbuh 25,3% dibandingkan kuartal sebelumnya (quarter to quarter/qtq).

Laba itu diraih berkat adanya peningkatan 7,5% qtq dari pos pendapatan menjadi Rp134,5 miliar. Hal ini ditopang dari pendapatan bunga bersih sebesar Rp87,1 miliar atau naik 6,9% qtq.

Daya tarik lain menjadi pemanis bagi investor tidak lain adalah ekosistem digital yang dibangun Amar Bank. Executive Vice President Retail Banking Amar Bank Abraham Lumban Batu mengatakan bakal fokus menggenjot intermediasi melalui layanan digital banking Senyumku.

“Amar Bank tetap menjaga pertumbuhan DPK dan pinjaman kepada sektor UKM selama masa pandemi. Sebagian besar DPK adalah dari sektor retail. Dalam rangka penyaluran kredit kepada sektor UKM, Amar Bank melakukan penjajakan kembali kerjasama dengan penyelenggara financial technology,” jelas Abraham dalam kesempatan yang sama.

Aplikasi digital banking ini yang bakal menjadi tumpuan Bank Amar untuk mengeruk pendapatan dana murah atau CASA. Pasalnya, sebanyak 69% dari Penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) Bank Amar berada di sektor ritel.

Adapun 31% DPK lainnya berasal dari segmen korporasi. Kinerja penghimpunan DPK Bank Amar pun cukup progresif. Kondisi ini tampak dari pertumbuhan 94,7% secara tahunan (year on year/yoy).

Amar Bank juga punya layanan digital lending bernama Tunaiku. Layanan ini, kata Abraham, menjangkau nasabah yang kesulitan mengakses layanan keuangan formal.

Amar Bank mencatatkan total pinjaman sebesar Rp1,85 triliun atau tumbuh sebesar 8,1% secara tahun berjalan (year to date/ytd). Sebanyak 47% dari portofolio ini berasal dari segmen UMKM.

Portofolio UMKM di Amar Bank ini jauh melebihi batas bawah yang diatur sebesar 20%. Per 30 Juni 2021, aplikasi Tunaiku telah diunduh sebanyak 6,7 juta kali.

Tunaiku tercatat telah memfasilitasi 600.000 lebih total pencairan pinjaman. Pinjaman ini terkonsentrasi pada tiga tujuan produktif yakni renovasi rumah (36%), modal usaha (25%), dan pendidikan (13%).

Sejak diluncurkan di tahun 2014, Tunaiku telah menyalurkan total pinjaman sebesar Rp. 5,8 triliun bagi mayoritas masyarakat dan pengusaha mikro yang belum tersentuh layanan perbankan (unbanked) dan mereka yang kesulitan mendapatkan akses pinjaman dari lembaga keuangan formal (underserved).

Berita Terkait