Dihantam PPKM Level 4, Aliran Modal Asing yang Kabur dari Pasar Keuangan RI Tembus Rp10,14 Triliun

23 Juli 2021 14:36 WIB

Penulis: Muhamad Arfan Septiawan

Editor: Rizky C. Septania

Ilustrasi

JAKARTA – Bank Indonesia (BI) menghimpun aliran modal asing yang keluar (capital outflow) dari pasar keuangan domestik mencapai US$700 juta atau setara Rp10,14 triliun (asumsi kurs Rp14.491,60 per dolar Amerika Serikat) pada periode 1-19 Juli 2021. Gubernur BI Perry Warjiyo menyebut penerapan Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level Darurat menjadi sentimen utama yang memaksa investor asing kabur dari Indonesia.

“Hal ini juga ditambah adanya peningkatan ketidakpastian pasar keuangan di tingkat global,” ucap Perry dalam siaran pers, dikutip Jumat, 23 Juli 2021.

Di sisi lain, BI melaporkan aliran modal asing yang masuk (capital inflow) sepanjang kuartal II-2021 mencapai US$4,28 miliar dalam bentuk investasi portofolio. Meski sentimen PPKM Level 4 menjadi sentimen yang memantik dana asing keluar, kondisi fundamental pasar keuangan Indonesia diklaim terus mengalami perbaikan.

 

Ekonom Senior DBS Group Research Radhika Rao berpendapat fundamental ekonomi Indonesia saat ini sudah lebih baik dibanding saat taper tantrum pada 2013, ketika modal asing di negara berkembang termasuk Indonesia, terserap oleh kenaikan imbal hasil surat utang pemerintah Amerika Serikat.

“Hal ini menunjukkan bahwa meski ada beberapa dampak dari aset emerging markets yang diakibatkan oleh penurunan (taper), (faktor) ini tidak lantas menjadi signifikan setelah adanya volatilitas,” kata Radhika Rao diskusi virtual belum lama ini.

Taper Tantrum merupakan fenomena yang bersumber dari sinyalemen otoritas di Amerika Serikat yang akan mengurangi nilai pembelian aset seperti obligasi, dan menurunkan gelontoran stimulus (quantitative easing/QE) yang selama ini dilakukan untuk menginjeksi likuiditas di pasar keuangan.

Radhika melihat fundamental nilai tukar rupiah sudah lebih baik, jika menghadapi gejolak karena adanya arus modal keluar, seperti wacana yang muncul dalam beberapa waktu terakhir karena gestur The Federal Reserve menyikapi laju pemulihan ekonomi AS.

“Dari segi mata uang rupiah, fundamental Indonesia lebih baik dari tahun 2013 pada saat taper Tantrum  atau melonjaknya yield  (imbal hasil) pada obligasi AS,” kata Radhika.

Berita Terkait