Dihantam Badai Corona: Laba 10 Bank Raksasa Tersendat, Bank Kecil Terjungkal

JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, laba bank umum per Juli 2020 mencapai Rp71,2 triliun. Capaian itu merosot 22,1% year-on-year (yoy) dibandingkan dengan Rp91,4 triliun pada periode yang sama 2019.

Dari catatan tersebut, total perolehan laba 10 bank terbesar di Tanah Air menguasai 70,5% atau senilai Rp50,2 triliun per Juli 2020.

Sementara itu, rincian per kelompok Bank Umum Kegiatan Usaha (BUKU), yakni sebesar Rp211 miliar per Juli 2020 untuk BUKU I. Angka laba bank-bank kecil tersebut terjungkal lebih dari separuhnya alias 52,3% yoy dibandingkan dengan Juli 2019 yang sebesar Rp443 miliar.

Kemudian, kelompok BUKU II juga mengalami penurunan tajam 25,4% yoy dari Rp5,5 triliun per Juli 2019 menjadi Rp4,1 triliun per Juli 2020.

Hal ini berlaku pula untuk bank dengan modal Rp5 triliun-Rp30 triliun atau kelompok BUKU III yang mengalami penurunan 12,5% yoy menjadi Rp19,07 triliun. Padahal, pada periode yang sama tahun lalu, kelompok bank pada kategori ini mencatat perolehan laba Rp21,8 triliun.

Tak terkecuali bagi bank-bank kakap dengan modal tinggi lebih dari Rp30 triliun atau BUKU IV, perolehan laba bank kelompok ini jeblok turun 25,4% yoy menjadi Rp45,7 triliun dibandingkan dengan Rp61,3 triliun per Juli 2019.

Direktur Utama PT Bank Mandiri (Persero) Royke Tumilaar yang kini resmi menjadi Dirut PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI / Facebook @bankmandiri

Bank BUMN

Secara keseluruhan, laba perbankan Indonesia mengalami kontraksi di tengah situasi pandemi COVID-19. Bank milik pemerintah alias Himpunan bank milik negara (Himbara) pun tak pelak menghindari penyusutan laba.

Menguasai porsi 38,06% senilai Rp27,1 triliun dari total laba bank umum nasional sebesar Rp71,2 triliun per Juli 2020, secara tahunan keempat bank Himbara mengalami penurunan laba. Penyusutan paling tinggi terjadi pada PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI sebesar 50,6% yoy dan 3,5% secara bulanan atau month-to-month (mtm).

Sementara itu, ketiga bank lain dalam grup Himbara masih mencatat kenaikan dihitung dari Juni ke Juli 2020, masing-masing 12,6% mtm untuk PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk atau Bank Mandiri naik sebesar 8,1% mtm, dan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN sebesar 15,08% mtm.

Namun, mayoritas dari enam bank besar lainnya tercatat tak ada yang selamat dari pandemi. Hal ini tercermin dari perolehan laba yang menurun, baik secara signifikan maupun cukup tajam.

Hanya PT Bank BTPN Tbk (BTPN) yang menghasilkan peningkatan pundi-pundi keuntungan. Pasalnya, bank tersebut mampu mencatat pertumbuhan laba baik secara bulanan (mtm) maupun tahunan (yoy).

Meskipun demikian, kesepuluh bank besar tersebut mengalami penurunan laba 27% yoy dari Rp68,86 triliun per Juli 2019 menjadi Rp50,2 triliun per Juli 2020.

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Wimboh Santoso. / Facebook @official.ojk

Badai Belum Berlalu

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso pun memprediksi adanya penurunan laba perbankan sebesar 30%-40% pada tahun ini.

“Hingga akhir tahun, laba perbankan akan menyusut kurang lebih 30 sampai 40 persen dibandingkan tahun 2019,” ujarnya dalam rapat bersama Komisi Keuangan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) awal September lalu.

Pada paruh pertama 2020, katanya, keuntungan perbankan sudah melambat. Terlihat dari laba bank sebelum pajak yang turun 19,8% dibandingkan dengan Juni tahun lalu. Di samping itu, kebijakan restrukturisasi kredit yang telah dilakukan oleh perbankan juga menjadi faktor turunnya pendapatan perbankan.

Diketahui, jumlah restrukturisasi kredit per 7 September 2020 mencapai Rp878,5 triliun. Rinciannya, terdiri dari 5,82 juta debitur usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) senilai Rp259,1 triliun, dan non UMKM sebanyak 1,44 juta debitur senilai Rp519,4 triliun.

Akan tetapi, realisasi tersebut dinilai Wimboh masih rendah dari potensi keseluruhan atau 102 perbankan yang mencapai Rp1.376 triliun. Di sisi lain, Wimboh mengaku bahwa OJK siap memperpanjang kebijakan restrukturisasi kredit dari yang semula berakhir pada 2021 menjadi 2022.

Menurutnya, perpanjangan tersebut akan diputuskan setelah melihat perkembangan dari sektor usaha. Jika sektor usaha yang sudah melakukan restrukturisasi kredit belum bisa pulih sepenuhnya, maka relaksasi itu perlu diperpanjang sampai sektor usaha tersebut benar-benar pulih. “Kalau perlu, kami perpanjang satu tahun lagi sampai 2022,” kata Wimboh.

Kebijakan mengenai restrukturisasi kredit telah diatur dalam Peraturan OJK Nomor 11 Tahun 2020. Kelonggaran tersebut diberikan kepada nasabah yang mengalami kesulitan untuk membayar angsuran pokok dan bunga selama pandemi COVID-19.

Kendati demikian, terjadi situasi dilematis. Wimboh pun mengakui, restrukturisasi kredit yang dinilai baik bagi debitur, tidak sama halnya bagi perbankan. Jika tidak dilakukan dengan baik, lanjutnya, bank akan menanggung risiko besar karena tidak kuat menahan profit loss-nya.

“Nasabah dalam restrukturisasi lancar, tapi revenue perbankan turun drastis,” katanya. Ia pun memprediksi, kinerja perbankan baru akan membaik perlahan pada tahun depan hingga 2022.

Untuk menyiasati terjadinya penyusutan laba, perbankan pun diimbau untuk berinovasi dengan cara meningkatkan fee based income melalui pemanfaatan teknologi, seperti pembayaran tagihan, transaksi online, dan kerja sama dengan merchant e-commerce atau digitalisasi lainnya. Sebab, jika pendapatan meningkat, hal itu akan berdampak pada perolehan laba bank.

Kinerja Laba 10 Bank Terbesar RI 2020

TrenAsia.com merangkum pertumbuhan laba dari 10 bank terbesar di Indonesia, dari mulai naik tertinggi hingga yang anjlok paling dalam. Pertumbuhan tersebut dihitung secara tahunan (yoy) dengan membandingkan perolehan laba pada periode yang sama tahun 2019. Dalam hal ini, urutan peringkat tidak didasarkan oleh angka perolehan laba, melainkan berdasarkan angka pertumbuhan laba setiap bank.

Bank BTPN. / Btpn.com
1. Bank BTPN

Bank bersandi saham BTPN ini berhasil menorehkan prestasi melalui kemampuannya menjaga pertumbuhan laba sehingga tidak terkontraksi.

Meskipun angkanya kecil dibandingkan bank besar lainnya, perseroan mampu menaikkan laba 26,7% yoy dari Rp1,01 triliun per Juli 2019, menjadi Rp1,28 triliun per Juli 2020. Sementara itu, secara bulanan BTPN mencatat pertumbuhan 19,6% mtm dari Rp1,07 triliun pada Juni 2020.

Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja. / Facebook @BankBCA
2. BCA

Urutan kedua ditempati oleh bank swasta terbesar di Indonesia, yakni PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Bank milik konglomerat keluarga Hartono ini mencatat pertumbuhan laba sebesar 26,03% dari Rp12,06 triliun per Juni 2020, menjadi Rp15,2 triliun per Juli 2020.

Meskipun demikian, BCA juga mengalami penurunan laba tahunan meski tipis, yakni 0,004% yoy. Selisih antara laba Juli tahun ini dengan Juli 2019 sebesar Rp510 juta.

Presiden Direktur Bank OCBC NISP Parwati Surjaudaja menyampaikan agenda Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan Bank OCBC NISP 2020 di Jakarta, Kamis (2/4).
3. Bank OCBC NISP

PT Bank OCBC NISP Tbk (NISP) yang didirikan di Bandung pada 1941 ini menempati urutan ketiga dalam pertumbuhan laba.

Meskipun terkontraksi, namun angkanya masih satu digit, yakni minus 8,2% yoy. Pada Juli 2020, Bank OCBC NISP mencatat perolehan laba Rp1,9 triliun, sedangkan Juli 2019 sebesar Rp2,07 triliun.

Sebaliknya, perolehan laba secara bulanan masih tumbuh sebesar 17,28% mtm, dari Rp1,62 triliun per Juni 2020 menjadi Rp1,9 triliun per Juli 2020.

Bank CIMB Niaga. / Facebook @CIMBIndonesia
4. Bank CIMB Niaga

PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) yang berasal dari Negeri Jiran Malaysia ini menempati posisi keempat dengan penurunan laba 19,35% yoy. Angka tersebut memang jauh lebih tinggi dibandingkan Bank OCBC NISP.

Akan tetapi, jumlah nominal laba tidak jauh berbeda, yakni Rp1,75 triliun per Juli 2020, sedangkan per Juli tahun lalu perolehan laba Bank CIMB Niaga sebesar Rp2,17 triliun.

Adapun secara bulanan, laba perseroan masih tumbuh satu digit, yakni 6,7%. Pada Juni 2020, bank ini menghasilkan laba sebesar Rp1,64 triliun.

Suasana pelayanan nasabah di kantor Cabang Plaza Mandiri, Jakarta, Jum’at 29 Mei 2020. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia
5. Bank Mandiri

Kali ini, bank Himbara, salah satunya Bank Mandiri yang bersandi saham BMRI harus menempati urutan kelima. Jika dilihat dari kepemilikan aset, bank berlogo pita kuning ini memang berada di nomor dua teratas, akan tetapi kontraksi perolehan laba perseroan cukup dalam sebesar Rp27,8% yoy. Angka tersebut jauh lebih tinggi ketimbang empat bank besar lain sebelumnya.

Per Juli 2020, Bank Mandiri menghasilkan laba sebesar Rp10,6 triliun. Namun, jumlah tersebut tak lebih besar dari laba Juli tahun lalu yang mencapai Rp14,7 triliun.

Adapun pertumbuhan laba jika dibandingkan dengan Juni 2020 masih naik 8,1% dari Rp9,8 triliun menjadi Rp10,6 triliun per Juli 2020.

Presiden Direktur PT Bank Pan Indonesia Tbk (PNBN) atau Panin Bank Herwidayatmo / Facebook @paninbankfanpage
6. Bank Panin

PT Bank Pan Indonesia Tbk (PNBN) atau Panin Bank menempati urutan keenam dilihat dari besaran kontraksi laba.

Per Juli 2020, bank yang merupakan hasil merger dari Bank Kemakmuran, Bank Industri Jaya, dan Bank Industri Dagang Indonesia ini mencatat laba Rp1,74 triliun, anjlok 34,8% jika dibandingkan periode yang sama 2019 sebesar Rp2,67 triliun.

Berlawanan dengan angka yang tak jauh berbeda, perseroan masih mencatat pertumbuhan laba 33,64% mtm jika dibandingkan dengan Rp1,3 triliun pada Juni 2020.

Sunarso Dapat Predikat CEO Visioner JAKARTA – Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. atau BRI Sunarso memperoleh predikat sebagai CEO Visioner Perusahaan Tbk. terbaik sekaligus CEO Talent Development terbaik dalam ajang 9th Anugerah BUMN 2020. / BRI
7. BRI

Kendati laba bank BUMN bersandi saham BBRI ini terbilang tinggi, yakni Rp11,6 triliun per Juli 2020, tetapi angka tersebut turun jauh dibandingkan Rp19,2 triliun. Secara tahunan, perolehan laba bank yang dipimpin oleh Sunarso ini anjlok 39,5% yoy.

Perolehan laba tersebut juga kalah dari BCA yang mampu mencatat Rp15,2 triliun per Juli 2020. Dengan demikian, posisi bank pelat merah kali ini harus berada di tingkat tiga terbawah dari sembilan bank besar lainnya.

Namun, laba perseroan masih tumbuh jika dihitung secara bulanan, yakni sebesar 12,6% mtm, dari Rp10,3 triliun per Juni 2020 menjadi Rp11,6 triliun per Juli 2020.

Direktur Utama Bank BTN Pahala Nugraha Mansury bersama manajemen BTN. / Facebook @www.btn.co.id
8. BTN

Bank BUMN bersandi saham BBTN yang unggul di segmen kredit pemilikan rumah (KPR) ini mengalami anjlok cukup dalam sebesar 41,1% untuk perolehan laba.

Tergolong dalam kategori BUKU III, laba BTN per Juli 2020 tercatat Rp883,3 miliar, turun jauh dibandingkan Rp1,5 triliun pada periode yang sama 2019.

Namun, laba BTN pada bulan ketujuh tahun ini masih tumbuh 15,08% mtm jika dibandingkan dengan Rp767,5 miliar pada Juni 2020.

Gedung Bank Danamon. / Danamon.co.id
9. Bank Danamon

Per Juli 2020, PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN) mencatat laba yang anjlok 43,55% yoy menjadi Rp1,2 triliun.

Penurunan tajam tersebut dihitung dengan pembandingkan laba bank pada periode sebelumnya tahun lalu yang jumlahnya hampir dua kali lipat, yakni Rp2,14 triliun. Di sisi lain, laba perseroan masih tumbuh 26,3% mtm dari bulan sebelumnya atau Juni 2020 sebesar Rp956 miliar.

Ilustrasi Gedung BNI / Bni.co.id
10. BNI

Berada di urutan kesepuluh, laba bank BUMN bersandi saham BBNI terjerembab separuh atau 50,6% yoy. Pandemi menyebabkan perseroan hanya membukukan laba sebesar Rp4,05 triliun per Juli 2020. Padahal, pada periode yang sama tahun lalu BNI memperoleh laba Rp8,2 triliun.

Lalu, jika sembilan bank besar lainnya masih mengalami pertumbuhan laba secara bulanan, ternyata Bank BNI tak masuk dalam deretan itu.

Perolehan laba BNI pada Juli 2020 tersebut juga mengalami penurunan 3,5% mtm dibandingkan dengan Rp4,2 triliun pada Juni 2020. Atas penyusutan persentase yang dalam tersebut, bank yang sekarang dinakhodai oleh Royke Tumilaar ini berada di urutan sepuluh. (SKO)

Tags:
10 bank terbesar IndonesiabankBank DanamonBank kecilBank MandiriBCABNIBRIBTNBTPNCIMB NiagaHeadlineHimbarakinerja emitenkonglomeratkredit banklaba bersihOCBC NISPotoritas jasa keuanganperbankanrestrukturisasi kreditwimboh santoso
APRILIA CIPTANING

APRILIA CIPTANING

Lihat Semua Artikel ›

%d blogger menyukai ini: