Dibayangi Tapering Off The Fed, Jokowi Yakin Rupiah Perkasa di Level Rp14.350 pada 2022

16 Agustus 2021 12:46 WIB

Penulis: Muhamad Arfan Septiawan

Editor: Amirudin Zuhri

Presiden RI, Joko Widodo memberikan salam pada peserta sidang yang hadir di Gedung Nusantara, Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta. Senin, 16 Agustus 2021. Foto: POOL/Sopian (POOL/Sopian)

JAKARTA – Presiden Joko Widodo (Jokowi) menargetkan nilai tukar rupiah stabil berada di level Rp14.350 per dolar Amerika Serikat (AS) pada 2022.

Target ini masih dibayangi risiko dari kebijakan tapering off  The Fed Amerika Serikat pada 2-22 yang dapat mengguncang pasar keuangan dalam negeri.

Meski begitu, Jokowi menyebut target nilai tukar ini sebagai acuan fundamental dalam menghadapi dinamika ekonomi global yang pada tahun depan. Dirinya pun tetap optimistis nilai tukar rupiah perkasa perkasa meski ada dinamika ekonomi global pada 2022

“Hal ini mencerminkan ekonomi Indonesia dan pengaruh dinamika global pada 2022,” ujar Jokowi dalam Pidato Pengantar Rancangan Undang-Undang (RUU) Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2022, Senin, 16 Agustus 2021.

Target nilai tukar yang dipatok Jokowi ini lebih kuat dibandingkan proyeksi tahun ini dalam APBN 2021, yakni Rp14.600 per dolar AS. Adapun target inflasi dalam RUU APBN 2022 dipatok sebesar 3%.

Target itu tidak mengalami perubahan sebagaimana tertuang dalam APBN 2021. Menurutnya, inflasi yang mencapai 3% dapat menjadi indikasi menguatnya daya beli masyarakat.

“Inflasi akan tetap di tingkat 3% yang menggambarkan kenaikan sisi permintaan, baik karena pemulihan ekonomi mau pun perbaikan daya beli,” tegas Jokowi.

Selain itu, Jokowi memberi mandat kepada Kementerian Keuangan (Kemenkeu) untuk menjaga suku bunga Surat Berharga Negara (SBN) sebagai sumber utama penarikan utang pemerintah.

SBN dengan tenor 10 tahun disebut Jokowi harus memiliki suku bunga di kisaran 6,82% atau lebih rendah dibandingkan target dalam APBN 2021 yang mencapai 7,29%. 

Tahun Momentum

Ekonom PT Bank Permata Tbk (BNLI) menyebut tahun depan menjadi momentum adanya guncangan ekonomi global. Indonesia harus dibayangi oleh adanya efek dari tapering off oleh bank sentral AS The Fed.

“Bank Indonesia juga perlu tetap mengantisipasi arah kebijakan moneter AS di tahun depan sedemikian sehingga kebijakan moneter suku bunga BI juga cenderung akan menyeimbangkan upaya untuk menjaga stabilitas rupiah dan disaat bersamaan mendukung pemulihan ekonomi tahun 2022 yang diperkirakan akan lebih signifikan,” ucap Josua kepada Trenasia.com, Rabu, 16 Agustus 2021.

Tapering off oleh Fed merupakan sentimen yang secara langsung mempengaruhi nilai tukar rupiah. Josua mencontohkan pelemahan nilai tukar rupiah dari Rp9.000 menjadi Rp13.000 pada 2013 pasca bank sentral AS tersebut melepas stimulusnya.

 

Berita Terkait