Dibayangi Kenaikan Cukai Tahun Depan, Ini Kinerja 5 Emiten Rokok pada Semester I-2021

25 Agustus 2021 21:05 WIB

Penulis: Reza Pahlevi

Editor: Laila Ramdhini

Pabrik Rokok Kretek Tangan

JAKARTA – Sinyal naiknya cukai rokok pada tahun depan semakin menguat. Hal ini seiring dengan pemerintah yang menargetkan pendapatan negara dari cukai dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2022 menjadi Rp203,9 triliun. Jumlah tersebut meningkat 13,2% dibandingkan dengan APBN 2021.

“Cukai hasil tembakau (CHT) ada target kenaikan. Seperti biasa, kami nanti akan menjelaskan mengenai aturan CHT,” ujar Menteri Keuangan Sri Mulyani ketika menyampaikan Nota Keuangan, beberapa waktu lalu.

Pada tahun ini, cukai rokok juga dinaikkan meski dalam keadaan pandemi. Pemerintah menetapkan rata-rata kenaikan tarif cukai rokok untuk 2021 ini sebesar 12,5%. 

Jika dirinci, sigaret putih mesin (SPM) golongan 1 naik 18,4%, SPM golongan 2A naik 16,5%, SPM golongan 2B naik 18,1%, sigaret kretek mesin (SKM) golongan 1 naik 16,9%, SKM golongan 2A naik 13,8%, dan SKM golongan 2B naik 15,4%. Hanya sigaret kretek tangan (SKT) yang cukainya tidak naik tahun ini.

Lantas, bagaimana dengan kinerja emiten rokok di tengah kenaikan cukai ini sepanjang semester I-2021? 

Ada lima emiten rokok yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Kelima emiten tersebut adalah PT HM Sampoerna Tbk (HMSP), PT Gudang Garam Tbk (GGRM), PT Wismilak Inti Makmur Tbk (WIIM), dan PT Bentoel Internasional Investama Tbk (RMBA).

Tiga dari empat emiten menunjukkan peningkatan penjualan sepanjang enam bulan pertama 2021. Hal ini menunjukkan kondisi pandemi ternyata tidak berpengaruh terhadap hasil penjualan rokok.

WIIM menjadi emiten dengan peningkatan penjualan tertinggi sebesar 42,3%. Lalu, penjualan GGRM meningkat 12,9% dan HMSP meningkat 6,47%. Hanya RMBA yang penjualannya turun, yaitu sebesar 36,3%.

Dari sisi laba bersih, hanya WIIM yang mencatatkan peningkatan, yaitu sebesar 44,6%. Sementara itu, laba bersih GGRM anjlok 39,53% dan HMSP turun 15,39%. Apes, RMBA malah mencatat rugi bersih sebesar Rp28,9 miliar.

Selain keempat emiten rokok tersebut, ada juga 1 emiten lagi yang menjual tembakau iris yaitu PT Indonesian Tobacco Tbk (ITIC). Sebagai informasi, tembakau iris biasa dipakai untuk rokok yang dilinting sendiri atau linting dewe (tingwe).

Rokok tingwe ini tidak dikenakan biaya cukai. Ini pula yang membuat kinerja ITIC baik-baik saja hingga semester I-2021. Penjualan ITIC tercatat berhasil tumbuh 6,37% dan laba tahun berjalan melonjak 38,17%.

TrenAsia.com pun merangkum lengkap kinerja keempat emiten rokok tersebut. Berikut catatan laporan keuangannya:

1. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP)

PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) membukukan penjualan sebesar Rp47,62 triliun sepanjang semester I-2021. Jumlah ini naik 6,47% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, yakni Rp44,73 triliun.

Penjualan HMSP milik perusahaan rokok Amerika Serikat (AS) Philip Morris International ini terutama ditopang oleh ekspor sebesar Rp73,8 miliar. 

Sementara itu, penjualan lokal meliputi SKM sebesar Rp31,8 triliun, SKT sebesar Rp10,5 triliun, SPM Rp4,6 triliun, dan sigaret putih tangan SPT sebesar Rp139 miliar. Lalu, penjualan lainnya tercatat Rp311 miliar.

Kendati penjualan naik, beban pokok penjualan yang ditanggung HMSP juga ikut naik kali ini. Nilainya tercatat rugi Rp38,79 triliun, lebih tinggi 10,85% dari sebelumnya rugi Rp34,99 triliun.  Adapun salah satu beban yang terbesar dipicu oleh kewajiban pita cukai sebesar Rp26,6 triliun.

Pada bottom line, HMSP pun meraih laba bersih yang diatribusikan ke pemilik entitas induk Rp4,13 triliun per 30 Juni 2021. Laba ini turun 15,39% dari laba Rp4,89 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

2. PT Gudang Garam Tbk (GGRM)

Emiten rokok milik konglomerat Susilo Wonowidjojo, PT Gudang Garam Tbk (GGRM) membukukan pendapatan dan penjualan rokok sebesar Rp60,59 triliun pada semester I-2021. Jumlah ini meningkat 12,9% dibandingkan semester I-2020 yang sebesar Rp53,65 triliun.

Hingga Juni 2021, penjualan rokok lokal merajai dengan nilai Rp59,73 triliun. Rinciannya, penjualan rokok sigaret kretek mesin (SKM) Rp54,97 triliun, sigaret kretek tangan (SKT) Rp4,21 triliun.

Sementara itu, penjualan rokok ekspor tercatat senilai Rp861,27 miliar. Dari total ekspor, segmen SKM menyumbang penjualan terbesar dengan nilai Rp645,77 miliar, diikuti segmen kertas karton Rp209,73 miliar.

Meskipun pendapatan naik, beban pokok penjualan juga tumbuh 20,12% yoy dari Rp44,99 triliun  pada semester II-2020 menjadi Rp54,04 triliun pada semester I-2021.

GGRM pun membukukan penurunan laba bersih sebanyak 39,53% year on year (yoy) menjadi Rp2,31 triliun pada semester I-2021 dari tahun lalu Rp3,82 triliun.

3. PT Wismilak Inti Makmur Tbk (WIIM)

PT Wismilak Inti Makmur Tbk membukukan penjualan sebesar Rp1,18 triliun pada semester I-2021. Penjualan ini meningkat 42,3% jika dibandingkan dengan penjualan semester I-2020 yang sebesar Rp829,26 miliar.

Penjualan terutama dikontribusi oleh penjualan SKM yang mencapai Rp846,94 miliar atau meningkat 59,6% secara tahunan. Lalu, penjualan SKT tercatat meningkat 4,6% menjadi Rp217,43 miliar. Terakhir, cerutu turun 16,85% menjadi Rp607,61 juta.

Sementara itu, penjualan ekspor amblas18,78% menjadi Rp19,72 miliar dari sebelumnya Rp24,28 miliar. Terakhir, Rp92,13 miliar merupakan pendapatan lainnya.

Beban pokok penjualan mengalami kenaikan menjadi Rp866,69 miliar pada semester I-2021 dari Rp574,48 miliar pada semester I-2020. Ini pun membuat WIIM mencatatkan laba bruto sebesar Rp310,14 miliar.

Laba bersih WIIM pun tercatat sebesar Rp63,04 miliar pada semester I-2021. Jumlah laba bersih ini meningkat 44,6% jika dibandingkan dengan catatan semester I-2020 yang sebesar Rp43,61 miliar.

4. PT Bentoel Investama Makmur

Emiten rokok PT Bentoel Internasional Investama Tbk (RMBA) mencatatkan penjualan sebesar Rp4,84 triliun pada semester I-2021. Jumlah ini merosot 36,3% dibandingkan penjualan semester I-2020 yang sebesar Rp7,6 triliun.

Perusahaan milik British American Tobacco ini juga menekan beban pokok penjualan 32,4% menjadi Rp4,39 triliun pada semester I-2021. Pada periode yang sama tahun lalu, RMBA mencatat beban pokok penjualan sebesar Rp6,49 triliun.

Laba kotor RMBA pun tercatat Rp451,52 miliar pada semester I-2021. Laba tersebut turun 59,4% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp1,11 triliun.

Pada bottom line, RMBA pun mencatat rugi bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp28,9 miliar. Rugi ini berhasil ditekan 82,5% dari Rp165,44 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Tahun ini dapat menjadi tahun terakhir RMBA melaporkan laporan keuangannya ke BEI. Ini karena perusahaan rokok yang memproduksi rokok bermerek Dunhill dan Lucky Strike ini mengumumkan akan menjadi perusahaan tertutup atau go private.

Sekretaris Perusahaan RMBA Dinar Shinta Ulie mengungkapkan hanya ada sekitar 2.385 pemegang saham publik RMBA hingga saat ini. Porsi kepemilikan sahamnya pun kecil, yaitu 7,52%. Itu pun 7,29% dimiliki satu pihak, UBS AG London, dan 0,23% dipegang oleh publik lainnya.

“Saham perseroan tersebut tidak secara aktif diperdagangkan dan relatif tidak likuid. Oleh karena itu, perseroan mengajukan rencana go private,” ujar Dinar dalam keterbukaan informasi BEI, Jumat, 20 Agustus 2021.

5. PT Indonesian Tobacco Tbk (ITIC)

Emiten penghasil tembakau iris, PT Indonesian Tobacco Tbk (ITIC), membukukan pertumbuhan penjualan sebesar 6,37% menjadi Rp107,35 miliar pada semester I-2021. Pada periode yang sama tahun lalu, ITIC mencatat penjualan sebesar Rp100,93 miliar.

Penjualan ini terdiri dari penjualan lokal sebesar Rp108,4 miliar dan ekspor sebesar Rp431,96 juta. Sementara itu, tercatat juga retur dan diskon yang membuat penjualan dikurangi Rp1,48 miliar.

ITIC mencatatkan beban pokok penjualan sebesar Rp77,16 miliar sepanjang semester I-2021. Ini membuat laba kotor tercatat sebesar Rp30,2 miliar, meningkat tipis 2,85% dari catatan semester I-2020 sebesar Rp29,36 miliar.

ITIC pun mencatat laba bersih atau laba tahun berjalan sebesar Rp6,34 miliar pada semester I-2021. Jumlah ini meningkat 38,17% jika dibandingkan dengan laba bersih semester I-2020 yang sebesar Rp4,59 miliar.

Asal tahu saja, ITIC berbasis di Malang dan sudah berdiri sejak 1955. ITIC melakukan penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) pada 4 Juli 2019 dengan harga Rp220 per saham.

Saat ini, ITIC menjual tembakau iris dengan berbagai merek dagang. Merek-merek tersebut seperti Anggur Kupu, Lampion Lilin, Kuda Terbang Biru, Manna, Save, dan lain-lain. Produk ITIC ini ditawarkan dalam kemasan 40 gram.

Berita Terkait