Di Tengah Pandemi, Laba Bersih Kalbe Farma Naik 5,8 Persen

JAKARTA – PT Kalbe Farma Tbk. (KLBF) mencatat kenaikan laba bersih sebesar 5,8% year-on-year (yoy) sebesar Rp2.027 miliar per kuartal III 2020. Pada periode yang sama tahun lalu, laba perseroan sebesar Rp1.915 miliar.

Direktur Keuangan Kalbe Farma Bernadus Karmin Winata mengatakan, peningkatan penjualan selama sembilan bulan pertama 2020 didukung oleh penjualan divisi produk kesehatan yang meningkat sebesar 4,6%.

“Divisi produk kesehatan meraih peningkatan penjualan sebesar 4,6 persen menjadi Rp2.893 miliar. Capaian tersebut berkontribusi sebesar 16,9 persen terhadap total penjualan,” katanya dalam keterangan tertulis yang diterima TrenAsia.com, Sabtu, 31 Oktober 2020.

Sementara itu, divisi distribusi dan logistik juga mengalami peningkatan penjualan sebesar 3,7% dari Rp5.305 miliar menjadi Rp5.499 miliar pada periode ini. Penjualan tersebut menyumbang 32,2% terhadap total penjualan bersih perseroan.

Kemudian, penjualan divisi nutrisi juga tumbuh 1,9% sebesar Rp4.933 miliar, dan memberikan sumbangan 28,9% dari total penjuala.

Namun, ungkap Bernadus, untuk divisi obat resep mengalami penurunan penjualan sebesar 3,7% menjadi Rp3.771 miliar per September 2020.

Dengan demikian, penjualan bersih Kalbe Farma selama kuartal III tahun ini, yakni Rp17.096 miliar, meningkat 1,6% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp16.827 miliar.

Bernadus juga menyebut laba kotor perseroan tumbuh 0,1% mencapai Rp7.771 miliar pada periode ini.

Hal ini menyebabkan rasio laba kotor terhadap penjualan turun dari 46,1% menjadi 45,5%, disebabkan oleh perubahan portofolio produk.

Adapun laba sebelum pajak penghasilan pada sembilan bulan pertama 2020 tercatat sebesar Rp2.688 miliar, tumbuh 4,4% dengan margin laba sebelum pajak penghasilan sebesar 15,7%.

Peningkatan Efisiensi

Menurut Bernadus, pertumbuhan laba bersih yang lebih tinggi dibandingkan penjualan bersih utamanya disebabkan oleh peningkatan efisiensi biaya operasional dan tarif pajak yang lebih rendah.

“Di masa pandemi ini, perseroan meyakini pentingnya mengelola keuangan secara hati-hati. Semuanya bertujuan agar konsisten mempertahankan posisi keuangan yang kuat,” tambahnya.

Kalbe Farma, lanjutnya, pada periode ini membukukan kas sebesar Rp4.401 miliar, naik 44,8% dibandingkan per September 2019.

Faktor ini yang mengungkit total liabilitas dan ekuitas naik 20,8%, dari Rp20.265 miliar menjadi Rp22.450 miliar per September 2020.

Dalam proses melewati pandemi, katanya, perseroan akan berusaha untuk meningkatkan layanan, memproduksi dan menyediakan produk kesehatan masyarakat.

Strategi pengelolaan portofolio produk akan digabungkan dengan pengelolaan efektivitas kegiatan penjualan dan pemasaran.

“Kami akan melakukan transformasi pemanfaatan teknologi digital, serta memonitor biaya operasional,” ujar Bernadus.

Melihat kondisi pandemi yang dianggap bakal berlanjut sampai akhir tahun, ujarnya, perseroan merevisi target pertumbuhan penjualan bersih tahun 2020 sebesar 4%-6% dengan proyeksi pertumbuhan laba bersih kurang lebih 8%-10%.

Pihaknya juga mempertahankan anggaran belanja modal sebesar Rp1 triliun yang akan digunakan untuk perluasan kapasitas produksi dan distribusi.

Kendati demikian, rasio pembagian dividen tetap dipertahankan pada rasio 45%-55%, dengan memperhatikan ketersediaan dana dan kebutuhan pendanaan internal.

Tags:
Bernadus Karmin WinataHeadlinekalbe farmaKLBFPandemi Covid-19Penjualan ObatPT Kalbe Farma Tbk
Aprilia Ciptaning

Aprilia Ciptaning

Lihat Semua Artikel ›

%d blogger menyukai ini: