Di Tengah Ketidakpastian Pasar dan Inflasi, BI Turunkan Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Global

23 September 2022 06:34 WIB

Penulis: Idham Nur Indrajaya

Editor: Ananda Astri Dianka

Gubernur BI Perry Warjiyo dalam Konferensi Pers Pengumuman Hasil RDG BI, Kamis, 22 September 2022. (Tangkapan layar YouTube.com/Bank Indonesia)

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global pada tahun 2022 di tengah ketidakpastian pasar keuangan dan ancaman inflasi.

Pada Juli 2022, BI memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global sebesar 2,9% untuk tahun ini. Angka itu pun menurun jadi 2,8%.

"Perekonomian global berisiko tumbuh lebih rendah disertai dengan tingginya tekanan inflasi dan ketidakpastian pasar keuangan global," ujar Gubernur BI Perry Warjiyo dalam Konferensi Pers Pengumuman Hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Kamis, 22 September 2022.

Perry pun mengatakan, penurunan pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan lebih besar pada tahun 2023, terutama di Amerika Serikat (AS), Eropa, dan Tiongkok, bahkan disertai dengan risiko resesi di sejumlah negara maju.

Untuk tahun 2023, BI memproyeksikan ekonomi dunia akan tumbuh 2,7% dan masih ada potensi penurunan proyeksi ke level 2,6%.

Ekonomi AS diperkirakan akan tumbuh sekitar 2,1% pada 2022 namun akan menurun pada tahun depan menjadi 1,5%.

Sementara itu, ekonomi Eropa diperkirakan tumbuh sekitar 2,1% pada 2022 layaknya AS dan menjadi 1,2% pada tahun 2023.

Kemudian, ekonomi Tiongkok diperkirakan tumbuh 3,2% pada tahun 2022 dan meningkat menjadi 4,6% pada 2023.

Perry menuturkna juga bahwa saat ini volume perdagangan dunia masih rendah. Di tengah pertumbuhan ekonomi yang melambat, disrupsi pada rantai pasokan pun meningkat sehingga mendorong tingginya harga komoditas energi.

"Tekanan inflasi global semakin tinggi seiring dengan ketegangan geopolitik, kebijakan proteksionisme yang masih berlangsung, serta terjadinya fenomena heatwave di beberapa negara," kata Perry.

Tingginya inflasi mendorong bank-bank sentral di berbagai negara untuk mengerek suku bunga. Pada Kamis dini hari, 22 September 2022, bank sentral AS alias The Federal Reserve (The Fed) baru saja mengumumkan kenaikan suku bunga sebesar 75 basis poin.

Perkembangan tersebut dikatakan Perry dapat mendorong penguatan mata uang dolar AS dan meningkatkan ketidakpastian di pasar keuangan global sehingga mengganggu aliran investasi portofolio dan tekanan nilai tukar di negara-negara berkembang, salah satunya Indonesia.

Berita Terkait