Dharma Satya (DSNG) Raih Posisi 7 Perusahaan Sawit Global dengan Kinerja ESG Terbaik

23 November 2021 20:34 WIB

Penulis: Drean Muhyil Ihsan

Editor: Laila Ramdhini

Nampak seorang petani tengah melakukan panen tanaman kelapa sawit di kawasan Bogor Jawa Barat, Kamis 28 Mei 2021. Foto : Panji Asmoro/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA – PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) menduduki peringkat ke-7 dari 100 perusahaan sawit global dalam daftar Penilaian Transparansi Kebijakan ESG Sustainability Policy Transparency Toolkit (SPOTT) tahun 2021.

Perseroan mendapatkan skor 85,4 dan meningkat signifikan dari tahun 2020 dengan skor 75,3 di peringkat 16. DSNG juga menjadi satu-satunya perusahaan perkebunan kelapa sawit yang berpusat di Indonesia dalam 10 besar ranking SPOTT tersebut. 

Peringkat SPOTT ini merupakan hasil kajian terhadap pengungkapan kinerja Lingkungan, Sosial dan Tata Kelola (Environment, Social & Governance atau ESG) di 100 perusahaan global yang bergerak dalam bisnis perkebunan kelapa sawit. 

Direktur Utama DSNG Andrianto Oetomo mengatakan masuknya perseroan dalam daftar 7 besar perusahaan sawit global dalam penilaian ESG tersebut menggambarkan keseriusan dan komitmennya dalam mengungkapkan ESG-nya secara transparan. 

“Hasil assessment independen yang dirilis oleh SPOTT ini makin memacu kami untuk serius dalam menjalankan praktek ESG yang berdampak baik di semua lini usaha, khususnya di industri kelapa sawit,” ujarnya melalui siaran pers, Selasa, 23 November 2021.

Bagi dia, mengkomunikasikan praktek-praktek ESG yang efektif dan transparan bukan hanya sebuah kewajiban, tapi juga menjadi prinsip dasar dari komunikasi bisnis perseroan saat ini.

SPOTT adalah inisiatif yang dikembangkan oleh Zoological Society of London (ZSL), sebuah platform daring yang mendukung produksi dan perdagangan komoditas berkelanjutan. Dengan melacak transparansi, SPOTT memberi insentif pada penerapan praktik terbaik perusahaan. 

SPOTT menilai produsen, perusahaan pengolah, dan pedagang komoditas atas pengungkapan publik mereka terkait organisasi, kebijakan, dan praktik mereka yang terkait dengan masalah lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG). 

SPOTT menilai perusahaan kehutanan tropis, kelapa sawit dan karet alam setiap tahun terhadap lebih dari 100 indikator khusus sektor untuk mengukur kemajuan mereka dari waktu ke waktu. 

Terkait dengan rilis terbaru SPOTT tersebut, Andrianto mengutip penilaian ZSL yang menyebutkan bahwa 78% perusahaan masih gagal membuat target terikat waktu untuk mengurangi intensitas emisi Gas Rumah Kaca (GRK). 

Dalam hal ini, kata dia, perseroan telah memulai penghitungan emisi gas rumah kaca (GRK) dan asesmen risiko iklim (Climate Risk Assessment), dengan melibatkan dua perusahaan global yang memiliki pengalaman dalam proyek di bidang pengurangan emisi dan aksi iklim untuk dunia usaha dan organisasi global, pada September 2021 lalu. 

“Kolaborasi tersebut merupakan langkah penting dari pendekatan DSNG yang terencana dan terstruktur menuju net zero,” pungkasnya.

Berita Terkait