Destinasi Wisata RI Bakal Terapkan Standar Kesehatan

May 15, 2020, 11:35 PM UTC

Penulis: Khoirul Anam

Destinasi Wisata Bali. / Kemenparekraf.go.id

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) bakal menerapkan program Cleanliness, Health, and Safety (CHS) di setiap destinasi wisata maupun lokasi lain terkait pariwisata dan ekonomi kreatif.

Sekretaris Kemenparekraf Ni Wayan Giri Adnyani mengatakan, saat ini Kemenparekraf sedang menyiapkan langkah-langkah pemulihan antara lain, menyusun standar operasional prosedur (SOP) yang mengacu pada standar kesehatan, kebersihan, dan keselamatan. Rincian program pemulihan akan dibahas dan dikomunikasikan ke seluruh pemangku kepentingan pariwisata dan ekonomi kreatif.

“Kemenparekraf bekerja sama dengan Kemenkes dan lembaga terkait dalam melakukan survei, verifikasi implementasi SOP CHS dengan baik dan benar sesuai standarisasi yang ditetapkan,” kata Ni Wayan Giri Adnyani saat melakukan rapat dengan Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati, Kamis, 14 Mei 2020.

Sebagai destinasi utama pariwisata Indonesia, Bali ditetapkan menjadi pilot project dalam penerapan program CHS untuk nantinya diimplementasikan ke daerah lainnya.

Giri mengatakan, hal itu menjadi tak terelakkan karena pandemi telah membuat perilaku manusia yang baru (new normal), yakni masyarakat yang jauh lebih peduli terhadap faktor-faktor kebersihan, kesehatan, dan keamanan.

“Gerakan CHS ini bertujuan untuk meningkatkan kepercayaan wisatawan terhadap destinasi dan industri pariwisata Indonesia usai COVID-19 sehingga mendorong peningkatan pergerakan dan kunjungan wisatawan di Indonesia, yang pada tahap awal pasti akan didominasi oleh wisatawan domestik,” kata dia.

Secara umum, Giri menjelaskan, konsep CHS mengacu pada protokol kesehatan yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan dan konsep pembangunan kepariwisataan berkelanjutan serta secara spesifik mengimplementasikan Sapta Pesona yang merupakan jiwa pariwisata Indonesia.

Secara terpisah, dapat dikatakan, konsep cleanliness (kebersihan) merujuk pada keadaan bebas dari kotoran, termasuk di antaranya debu, sampah, dan bau. Selain itu kebersihan juga berarti besar dari virus, bakteri patogen, dan bahan kimia berbahaya.

Sementara health (kesehatan) adalah layanan yang menerapkan aturan atau ketentuan kesehatan terhadap manusia dan lingkungan melalui kegiatan pencegahan, perawatan, pemantauan, dan pengendalian. Selain itu, juga menjalankan peran dengan mempromosikan peningkatan parameter lingkungan dan mendorong penggunaan teknologi dan perilaku yang ramah lingkungan dan sehat.

Sedangkan safety (keselamatan) mencakup faktor keamanan, yakni keadaan bebas dari risiko, bahaya, pencemaran, ancaman, gangguan yang bersifat permanen dan nonpermanen, fisik dan nonfisik di suatu tempat dan waktu tertentu untuk mengelola, melindungi dan meningkatkan kewaspadaan masyarakat, pengunjung, dan kualitas lingkungan.

“Serta yang tidak kalah penting adalah zero waste management dimana pengelola destinasi harus memiliki strategi dan penerapan kebijakan pengelolaan sampah yang baik,” tambah dia.

Namun, penerapan SOP CHS ini akan melalui uji coba, yang nantinya menjadi panduan bagi pemerintah daerah, pengelola destinasi pariwisata, dan pengelola usaha pariwisata, serta pemangku kepentingan pariwisata dan ekonomi kreatif lainnya. Giri melanjutkan, setelahnya baru dilakukan verifikasi, audit, dan sertifikasi CHS dengan melibatkan lembaga sertifikasi.

Untuk tahap awal, program ini akan diterapkan di daerah Bali sebab Pulau Dewata itu merupakan salah satu provinsi di Indonesia dengan penyebaran COVID-19 yang terkendali serta penanganan COVID-19 yang sangat baik. Tercatat, hingga saat ini terdapat 332 kasus positif COVID-19 di Bali, 220 orang sembuh, dan 4 orang meninggal dunia.

“Penerapan pun akan dilakukan secara bertahap, untuk pertama direncanakan di kawasan Nusa Dua Bali,” kata Giri. (SKO)