Demografi Afghanistan, Populasi Seperti Jawa Tengah, PDB Lebih Kecil dari Sulawesi Selatan

24 Agustus 2021 11:00 WIB

Penulis: Daniel Deha

Editor: Rizky C. Septania

Pasukan Amerika di Afghanistan/US Army

JAKARTA -- Setelah mengambil alih pemerintahan Afghanistan, Taliban akan mewarisi ekonomi yang termasuk paling buruk di dunia. Menurut data Bank Dunia, belanja publik dan pengeluaran negara hampir sepenuhnya ditopang hibah asing.

Aliran dana hibah ke negara yang berbatasan dengan China itu terutama dimulai sejak 2002 saat Amerika Serikat dan koalisi internasional (NATO) menggulingkan pemerintahan Taliban dan membentuk pemerintahan yang inklusif.

Menurut data Bank Dunia, Pendapatan Domestik Bruto (PDB) Afghanistan pada 2020 tercatat sebanyak US$19,807 miliar setara Rp285,2 triliun. Dengan PDB yang kecil, hanya enam negara di seluruh dunia, di antaranya Burundi, Somalia, dan Sierra Leone yang berada di bawah Afghanistan.

Jikan dibandingkan dengan Indonesia, besaran PDB Afghanistan jauh lebih kecil. PDB Indonesia atas dasar harga berlaku pada 2020 mencapai Rp15.434 triliun. Bahkan, dengan beberapa provinsi di Indonesia, pendapatan Afghanistan masih lebih kecil.

Dengan Provinsi Sulawesi Selatan misalnya. Tahun 2020, PDB provinsi terbesar di Pulau Sulawesi itu mencapai Rp504,4 triliun.

Bahkan, jika dibandingkan dengan PDB kawasan Bali-Nusa Tenggara yang mencapai Rp464,24 triliun, Afghanistan jauh lebih kecil. Termasuk kawasan Maluku-Papua yang mencapai Rp370,9 triliun pada 2020.

Apalagi jika dibandingkan dengan Provinsi DKI Jakarta yang PDB-nya mencapai Rp2.772 triliun atau Jawa Barat sebesar Rp2.088 triliun.

PDB Afghanistan mungkin bisa disejajarkan dengan Provinsi Riau yang sebesar Rp254,2 triliun. Namun dalam beberapa tahun ke depan bisa melesat melampaui Afghanistan.

Jika dihitung per kapita, PDB per kapita Afghanistan juga lebih kecil dari Indonesia. Pada tahun 2020 PDB per kapita Indonesia sebesar Rp56,7 juta atau US$3.911,7 dari populasi 270 juta, sedangkan Afghanistan US$507,10 dari populasi 38 juta.

Jumlah penduduk Afghanistan hampir setara dengan jumlah penduduk Provinsi Jawa Tengah yang mencapai 36,52 juta pada 2020. 

Namun Afghanistasn memiliki luas wilayah yang lebih besar yaitu 652,860 km persegi dibandingkan Jawa Tengah seluas 32.801 km persegi. Dengan jumlah penduduk sebanyak itu, Afghanistan menjadi negara dengan penduduk terpadat ke-42 di dunia.

PDB Afghanistan Tumbuh Mulai 2002

Menurut data Bank Dunia, PDB Afghanistan tumbuh dari US$4,055 miliar pada tahun 2002 menjadi US$20,561 miliar pada tahun 2013 yang merupakan PDB tertinggi yang pernah dicatat negara itu sejak dibentuk.

Namun pertumbuhan melambat secara dramatis ketika pada tahun 2014 sebagian besar pasukan tempur asing meninggalkan negara itu, termasuk penarikan pasukan Amerika Serikat dan Pasukan Keamanan Internasional di bawah PBB.

Pertumbuhan PDB Afghanistan turun dari sekitar 14% pada tahun 2012 yaitu sebesar US$20,002 miliar menjadi hanya 1,5% pada tahun 2015 sebesar US$19,907 miliar.

Kemudian sempat turun ke US$18,018 miliar pada 2016 sebelum kembali tumbuh tipis ke 19,807 miliar pada tahun lalu.

Dari data Bank Dunia, terlihat bahwa selama periode tahun1982-2001, hampir tidak ada catatan mengenai besaran pendapatan dan belanja negara Afghanistan. Terakhir, Bank Dunia mencatat pendapatan negara itu pada 1981 sebesar US$3,479 miliar.

Afghanistan kemudian tergelincir kembali ke dalam resesi tahun lalu karena wabah COVID-19 dan intensifikasi kerusuhan politik yang mengganggu kinerja ekspornya.

Menurut data yang tersedia di Trading Economics yang diperbaharui pada Agustus 2021, ekspor Afghanistan ke Indonesia, misalnya, tidaklah besar, dimana mencapai US$142,39 ribu setara Rp2,05 miliar di 2019.

Sebaliknya, impor Afghanistan dari Indonesia mencapai angka yang sangat fantastik yaitu sebesar US$38,1 juta setara Rp548 miliar.

Sumber Pendapatan Afghanistan

Mengutip Sky News, setidaknya seperlima dari PDB Afghanistan diperhitungkan berasal dari perdagangan opium ilegal, yang sebagian besar telah dikendalikan oleh Taliban untuk mendanai persenjataan.

Secara keseluruhan, sektor pertanian menciptakan sekitar setengah dari kegiatan ekonomi di Afghanistan atau sekitar 60%, sedangkan 40% merupakan sumbangan dari tenaga kerja di bidang pertanian.

Selain opium, gandum adalah ekspor pertanian utama, meskipun ada juga diversifikasi dalam beberapa tahun terakhir ke tanaman yang lebih berharga seperti kenari, almond, pistachio, kunyit, delima dan kismis, meskipun semakin banyak lahan yang diberikan untuk budidaya opium.

Kurangnya investasi di toko pendingin dan fasilitas pengemasan telah menahan kemampuan Afghanistan untuk menghasilkan lebih banyak dari ekspor buah dan sayuran.

Setidaknya seperempat dari produk pertanian dianggap memburuk setelah dipanen sehingga tidak dapat dijual ke luar negeri.

Sumber utama pendapatan Afghanistan adalah bantuan luar negeri, yang secara tradisional menutupi sekitar tiga perempat dari pengeluaran pemerintah Afghanistan.

Namun ketika Taliban mengambilalih pemerintahan, negara-negara donatur berpikir untuk menahan bantuan, termasuk lembaga keuangan internasional (IMF) yang menahan lebih dari Rp177 triliun dana hibah dan bantuan untuk empat tahun ke depan.

Meski begitu, tidak berarti bahwa di bawah kendali Taliban, tidak akan ada peluang ekonomi. Afghanistan kaya akan sumber daya mineral yang nilainya mencapai US$1 triliun satu dekade lalu, termasuk deposit litium dan kobalt, yang merupakan komponen utama dalam baterai kendaraan listrik, emas, tembaga, dan bijih besi.

Kekayaan itu dipetakan oleh ahli geologi Uni Soviet setelah invasi 40 tahun yang lalu dan, baru-baru ini, oleh Pentagon, yang dalam dokumen internal tahun 2010, menyarankan Afghanistan memiliki potensi untuk menjadi "Arab Saudi dari lithium".

Sayangnya, kemampuan Afghanistan untuk mengeksploitasi sumber daya tersebut akan terhambat oleh kurangnya infrastruktur transportasi, jaringan listrik yang dikembangkan dan keahlian teknis, dengan beberapa insinyur pertambangan yang siap untuk menginjakkan kaki di negara itu bahkan sebelum Taliban berkuasa.

Bahkan China Metallurgical Group, yang memiliki hak untuk mengeksploitasi salah satu deposit tembaga terbesar Afghanistan sejak 2007, tidak melakukannya karena kekhawatiran akan keamanan.

China, yang sudah menjadi investor asing terbesar di Afghanistan, akan menjadi mitra logis bagi Taliban jika cadangan mineral negara yang cukup besar akan dieksploitasi tetapi kemungkinan akan mendorong tawar-menawar yang sulit dan akan membutuhkan jaminan keamanan yang kuat.

Namun kekayaan mineral ini juga tidak banyak membantu Afghanistan hingga saat ini. Banyak dari penambangan yang ada di negara itu ilegal. Tidak hanya merampas royalti pemerintah, tetapi juga memberikan pendapatan kepada pemberontak.*

Berita Terkait