Demi Perbaiki Kinerja, JICT Upayakan Percepatan Layanan Peti Kemas

15 Juni 2021 20:00 WIB

Penulis: Muhamad Arfan Septiawan

Kapal melintas didekat crane bongkar muat peti kemas di dermaga Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Senin, 11 Januari 2021. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

JAKARTA – Jakarta International Container Terminal (JICT) jadi salah satu pelabuhan vital bagi arus logistik di Indonesia. Direktur Utama (Dirut) PT Pelindo II (Persero) atau Pelindo II Arif Suhartono menyebut layanan peti kemas di JICT sudah mengalami peningkatan pesat pada tahun ini.

Arif mengungkap key performance indicator (KPI) dari layanan  penerimaan (receiving) peti kemas di JICT sudah menyentuh 85 menit. Menurut evaluasi pada Mei 2021, rata-rata waktu yang dibutuhkan untuk melakukan pelayanan peti kemas mencapai 70 menit saja.

Sementara itu, layanan pengiriman (delivery) peti kemas pada KPI tersebut diatur maksimal 117 menit. Pada evaluasi di periode yang sama, diketahui rata-rata waktu pelayanan hanya 100 menit.

KPI ini pun telah mendapatkan lampu hijau dari berbagai pihak yang terlibat dalam proses pelayanan peti kemas seperti serikat pekerja, operator, hingga eksportir-importir.

“Ini adalah KPI yang disepakati semuanya, artinya di antara waktu tersebut merupakan hal yang wajar,” kata Arif dalam konferensi pers, Selasa, 15 Juni 2021.

Dirinya mengungkapkan bakal gencar melakukan sosialisasi terkait KPI ini. Sosialisasi ini, kata Arif, diperlukan untuk mencegah lambatnya pelayanan peti kemas di salah satu Pelabuhan terpenting di Indonesia tersebut.

“Sosialisasi KPI ini perlu kami tingkatkan kembali ke stakeholder dan beban di JICT itu mencapai puncaknya pada akhir pekan. Meski bebannya tinggi, KPI itu yang menjadi patokan kami,” ujar Arif.

Bos Pelindo II itu mengatakan tahun ini jadi momentum perusahaan memperbaiki kinerja operasional yang sempat terperosok pada 2020. Menurut data Perusahaan, arus petik kemas di Pelindo II selama 2020 mengalami penurunan 9,7% menjadi 6,92 juta Twenty foot equivalent unit (TEUs) dari sebelumnya 7,66 juta TEUs pada 2019.

Selain itu, angka kunjungan kapal juga sempat menurun pada 2020. Arus kunjungan kapal merosot 14,7% year on year (yoy) dari 2019,12 juta gross tonnage (GT) pada 2019 menjadi 178,41 juta GT pada 2020.

 “Ada yang dievaluasi, Kami tidak mengatakan Tanjung Priok terbaik masih banyak yang harus diperbaiki. Tetapi kami bisa menyampaikan program-program untuk perbaikan tersebut,” kata Arif. (RCS)

Berita Terkait