Dari Pembawa Berita hingga Penulis Naskah, Ragam Penggunaan AI di Perusahaan Media Massa

25 Januari 2023 20:45 WIB

Penulis: Yosi Winosa

Editor: Yosi Winosa

Ilustrasi Kantor Berita BBC

JAKARTA - Penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intellligence (AI) oleh perusahaan media massa sudah tidak asing lagi. Hal tersebut terungkap dalam studi Reuters Institute dan University of Oxford bertajuk “Journalism, media, and technology trends and predictions 2023”.

Dalam studi tersebut, Reuters Institute dan University of Oxford mensurvei 303 pimpinan perusahaan media di 53 negara. Salah satu temuan menarik adalah kedatangan ChatGPT dari OpenAI yang telah menggugah asumsi lama bahwa chatbot AI hanyalah sebuah bahan olokan.

Kecepatan dan kemampuan ChatGPT  sangat menakjubkan dan menakutkan pada saat yang bersamaan. ChatGPT memberikan gambaran nyata ke mana arah AI. Ia bisa bercanda (dan terlatih untuk tidak melakuan candaan rasis atau seksis), membuat plot untuk film atau buku, menulis kode komputer, dan bahkan meringkas tantangan yang dihadapi jurnalis lokal dalam beberapa kalimat.

Beberapa menganggap ChatGPT adalah salah satu kemajuan teknologi terbesar sejak penemuan internet dan merupakan bagian dari tren yang lebih luas yang disebut generatif Al yang memungkinkan komputer untuk membuat tidak hanya kata-kata tetapi juga gambar, video, dan bahkan dunia virtual hanya dari beberapa petunjuk teks.

Tidak percaya? Berikuat adalah gambar seorang jurnalis, dengan gaya novel Raymond Chandler, yang sedang menulis berita dari Pantai Pasifik menggunakan laptop. Ini dibuat hanya dalam hitungan detik menggunakan alat AI MidJourney.

Menggunakan aplikasi MidJourney, ilustrasi bisa diciptakan hanya dalam hitungan detik

Poin utamanya adalah bahwa AI generatif memungkinkan komputer tidak hanya membuat proses yang ada menjadi lebih efisien, tetapi juga menggunakan berbagai aset yang ada untuk menciptakan sesuatu yang baru. Bagi jurnalis dalam novel Raymond Chandler itu, hal ini menimbulkan pertanyaan eksistensial tetapi juga membuka berbagai kemungkinan baru.

“Tahun ini kita akan mulai melihat lebih banyak alat ini dibuka untuk kreator, jurnalis, dan profesi lainnya, memungkinkan kita membuat versi baru dari diri kita sendiri, orang lain, dan dunia di sekitar kita,” tulis studi tersebut, dikutip Rabu, 25 Januari 2023.

Avatar Ajaib Ambil Alih Timeline Media Sosial Tahun Ini

Sebuah aplikasi bernama Lensa bisa membuat avatar ajaib diri seseorang dan menghapus objek yang tidak diinginkan tanpa memerlukan keahlian. Aplikasi ini telah dikritik karena dinilai mencuri dari artis, menggunakan praktik berbagi data predator, dan mempromosikan stereotip seksual, tetapi itu tidak akan menghentikan tren avatar ajaib yang akan mengambil alih timeline media sosial tahun ini.

Belum begitu jelas dampak tren avatar ajaib ini terhadap jurnalisme tetapi aplikasi seperti MidJourney dan DALL-E sudah digunakan untuk membuat seni ilustrasi untuk artikel dan postingan blog. 

Lebih ambisius lagi, Semafor, perusahaan rintisan AS yang baru saja diluncurkan, telah membuat beberapa video di mana kesaksian pribadi dari Ukraina diilustrasikan dengan kuat oleh animasi Al tanpa adanya rekaman nyata. Semafor telah menggunakan AI untuk menganimasikan perang Ukraina, tetapi teknologi serupa dapat digunakan untuk pemalsuan yang mendalam

Semua ini kemungkinan akan mengarah pada ledakan media otomatis atau semi-otomatis dalam beberapa tahun ke depan (penelitian firma Gartner memperkirakan media otomatis atau semi otomatis akan menguasai 25% dari semua data internet). Akan lebih mudah dari sebelumnya untuk membuat konten multimedia yang tampan dan sangat masuk akal. Pun akan lebih sulit dari sebelumnya untuk membedakan mana yang nyata dari apa yang palsu, menyesatkan, atau direkayasa.

Kanal Youtube Semafor berisi vidio hasil rekayasa AI

AI Memperbarui Homepage, Merangkum Artikel Terpopuler, Mentraksrip, Alih Bahasa

Teknologi AI seperti machine learning (ML) dan natural language processing (NLP) telah membantu proses produksi artikel yang ada menjadi lebih efisien mulai dari rangkuman, pemberian tag dan subtitel semua dilakukan secara otomatis.

Mathieu Halkes, Kepala Produk di Schibsted, perusahaan media berbasis di Oslo, Norwegia mengatakan saat ini alat transkrip Al semakin rutin digunakan di ruang redaksi. Perusahaan asal Denmark Zetland contohnya, terus mengembangkan layanan transkripsi ucapan ke teks yang ditujukan khusus untuk jurnalis dan dirancang untuk bekerja dengan bahasa yang lebih lokal yang gagal didukung oleh produk perusahaan besar. 

Good Tape dibangun di atas teknologi OpenAI bisa menjadi alat transkrip alternatif dan saat ini gratis untuk digunakan. Sementara itu, di Finlandia, stasiun TV Yle telah memulai layanan untuk pengungsi Ukraina dengan berita yang diterjemahkan secara otomatis oleh mesin sebelum diperiksa oleh penutur asli. Selama pandemi, Yle juga bisa memberikan informasi dalam bahasa Somalia, Arab, Kurdi, dan Persia.

Sementara perusahaan media massa lainnya menggunakan AI untuk membantu memberikan personalisasi yang lebih baik dan meningkatkan rekomendasi konten untuk membantu meningkatkan keterlibatan. Aplikasi bernama Sophi yang dikembangkan oleh Globe and Mail di Kanada, telah melakukan automasi sebagian besar beranda website mereka, sehingga waktu editor dapat digunakan secara lebih produktif dan mendorong peningkatan rasio click-through sebesar 17%. Produk ini sekarang ditawarkan ke penerbit lain. 

Alat berbasis Al seperti Sophi juga digunakan untuk mengelola tugas distribusi konten di media sosial seperti pengoptimalan judul dan waktu terbaik untuk mengunggah.

Mengenai rekomendasi, sekitar seperempat (23%) responden kami mengatakan bahwa mereka sekarang menggunakan AI secara teratur, dengan 5% pengguna awal menjadikannya bagian besar dari apa yang mereka lakukan.

Sementara itu, perusahaan rintisan The Newsroom (masih dalam versi beta) menggunakan AI untuk secara otomatis mengidentifikasi dan menulis ringkasan berita terpopuler pada hari itu, serta meringkas konteks latar belakang dan menyediakan tautan ke berita terkait yang dikelompokkan berdasarkan perspektif politik. Meskipun Al yang melakukan sebagian tugas berat, semua salinan pada akhirnya bisa tetap diperiksa dan jika perlu dimodifikasi oleh jurnalis.

Automasi dalam jurnalisme sendiri tidaklah mudah diterima. Banyak yang menyambutnya karena yakin bisa membuat tugas-tugas non-jurnalistik lebih efisien, tetapi pada saat yang sama mereka khawatir bahwa media sintetik yang diproduksi dengan murah dan konten semi-otomatis dapat semakin menjadikan berita sebagai komoditas dan merusak kepercayaan. 

Seorang responden dari sebuah perusahaan media massa berkualitas terkemuka berpendapat bahwa dalam keadaan seperti ini kurasi manusia menjadi pembeda yang lebih penting. 

“Kami ingin menerapkan AI secara mendasar untuk meningkatkan kurasi manual, bukan untuk menggantikannya. Semua pekerjaan kami di bidang ini berakar pada pemahaman tentang nilai kurasi manual yang diberikan kepada pembaca kami dan bagaimana hal itu membedakan kami dari platform,” tulis studi tersebut.

Stasiun TV Merangkul Presenter Virtual

Deep Brain AI, sebuah perusahaan teknologi yang berbasis di Korea Selatan, membuat kembaran digital atau digital twins pembawa berita TV populer dan sekarang muncul secara reguler di saluran arus utama di Asia. 

MBN dan Arirang di Korea serta BTV dan CCTV di China menggunakan teknologi serupa untuk membantu menghemat biaya dan meningkatkan kehadiran presenter paling populer. Perusahaan sekarang mencari pelanggan di Amerika Serikat di mana stasiun TV berada di bawah tekanan untuk berbuat lebih banyak dengan lebih sedikit. 

Salah satu area yang mungkin diuji coba adalah penyiar untuk cuaca on demand, di mana model AI dapat dibuat dari peramal populer termasuk frasa dan ekspresi favorit mereka, dan kemudian video yang diperbarui dapat dibuat untuk lokasi manapun dan kapanpun sesuai perubahan data. Model ini juga dapat digabungkan dengan fungsionalitas ChatGPT untuk membuat bot obrolan virtual yang menjawab pertanyaan tentang pemilu, misalnya oleh kembaran digital koresponden politik.

Wang Guan, Pembawa Berita AI Salah Satu Stasiun TV si China, CCTV

Perdebatan tentang Regulasi Al Memanas

Karena peluang AI menjadi kian nyata, begitupun dengan dilema etika dan peraturan terkait AI. Ambil contoh deep fakes yang telah digunakan untuk membuat pornografi non-konsensual, melakukan penipuan, dan memicu kampanye disinformasi. 

Saat ini diskusi tentang regulasi penggunaan AI oleh perusahaan media massa sedang berlangsung, dan Uni Eropa telah mengusulkan Al Act (UU AI) yang akan melarang penggunaan aplikasi yang tidak dapat diterima yakni yang melanggar hak dan keselamatan dasar orang. Meskipun dalam praktiknya hal ini akan sulit untuk diidentifikasi dan ditegakkan. 

Sementara itu, perusahaan media massa juga diharapkan mencontohkan dalam penggunaan Al yang lebih transparan. Misalnya dengan menerbitkan pedoman etis yang mencakup hal krusial mulai dari perbaikan atau manipulasi foto hingga transparansi dan hak cipta. 

Berita Terkait