Andalkan Dana Perlinsos, Kemenkeu Optimistis Target Pertumbuhan Ekonomi 4,5 Persen Tercapai

22 Juli 2021 12:05 WIB

Penulis: Muhamad Arfan Septiawan

Editor: Amirudin Zuhri

Sejumlah Pegawai Kecamatan Batuceper Kota Tangerang sedang menyiapkan dan memasak di Dapur umum kecamatan dengan menerapkan Protokol Kesehatan yang ketat, kegiatan tersebut guna meringankan masyarakat yang sedang menjalankan isolasi mandiri, Minggu 18 Juli 2021. Foto : Panji Asmoro/TrenAsia

JAKARTA – Besarnya dana perlindungan sosial (Perlinsos) diyakini Kementerian Keuangan (Kemenkeu) bakal menjadi jaring penjaga daya beli masyarakat. Dengan mengandalkan dana tersebut, Kemenkeu optimistis Indonesia bisa mencapai target pertumbuhan ekonomi 3,7%-4,5% year on year (yoy).

Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengungkapkan pemerintah telah melakukan refocusing dalam program pemulihan ekonomi nasional (PEN) 2021. Stimulus terhadap ekspansi dunia usaha, mau tidak mau ditahan untuk menjaga agar masyarakat miskin tidak kehilangan daya belinya.

“Pemerintah saat ini tengah berupaya menjaga daya beli masyarakat miskin yang kami topang melalui dana perlinsos di PEN 2021 sebagai respon atas tingginya angka kasus COVID-19 serta pembatasan sosial yang kembali diperketat,” kata Suahasil dalam International Climate Change Conference, Kamis, 22 Juli 2021.

Hal ini tampak total anggaran perlinsos yang naik Rp153,86 triliun menjadi Rp187,84 triliun. Pos anggaran ini terdiri dari program bantuan sosial (bansos), Program Keluarga Harapan (PKH), kartu sembako, bansos tunai (BST), bansos sembako, bantuan langsung tunai (BLT) desa, bantuan kuota internet, hingga kartu pra-kerja.

Adapun total anggaran PEN 2021 harus tumbuh 6,34% akibat refocusing ini dari Rp699,43 triliun menjadi Rp744,75 triliun. Meski begitu, Direktur Program Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Esthe Sri Astuti menilai stimulus fiskal yang digelontorkan pemerintah masih sangat rendah.

Stimulus fiskal yang dianggarkan Kemenkeu untuk penanganan COVID-19 tercatat hanya setara 7,88% dari Produk Domestik Bruto Indonesia (PDB). Menurutnya, rendahnya tingkat stimulasi membuat ruang gerak program PEN 2021 sulit diotak-atik.

“Dilihat dari stimulus fiskal dengan negara lain, Indonesia ini stimulus fiskalnya 7,88% PDB. Padahal teori menunjukan penopang sosial ekonomi ditingkatkan, penanganan COVID-19 lebih cepat,” kata Esther kepada Trenasia.com, Kamis, 22 Juli 2021.

Berita Terkait