Dampak Lanjutan Virus Corona, Rupiah Ambrol Tapi IHSG Bangkit

JAKARTA-Nilai tukar rupiah ambrol sebagai dampak lanjutan wabah virus corona. Sebaliknya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru berbalik bangkit dari keterpurukan.

Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada akhir pekan melemah seiring kejatuhan aset-aset berisiko.

Rupiah pada Jumat, 13 Maret 2020 sore ditutup melemah 256 poin atau 1,76% menjadi Rp14.778 per dolar AS dari sebelumnya Rp14.522 per dolar AS.

“Sentimen pasar tidak membaik setelah WHO menyatakan pandemik untuk wabah corona. Harga aset-aset berisiko seperti saham jatuh dalam. Ini memberikan tekanan untuk rupiah hari ini,” kata Kepala Riset Monex Investindo Futures Ariston Tjendra dilansir Antara, Jumat, 13 Maret 2020.

Menurut Ariston, pasar terus menunggu kebijakan-kebijakan stimulus baru dari negara-negara besar seperti AS untuk meredam kekhawatiran pasar dan mengurangi dampak negatif wabah COVID-19 terhadap perekonomian.

Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) telah menetapkan COVID-19 sebagai pandemik. Penetapan itu dilakukan lantaran jumlah kasus maupun negara yang terjangkit wabah itu meningkat tajam.

WHO mencatat sudah ada 126.380 kasus di 124 negara di seluruh dunia.

Dari domestik, pemerintah akhirnya merilis stimulus jilid II untuk meminimalisasi dampak COVID-19 terhadap perekonomian dalam negeri.

Stimulus jilid II ini lebih berfokus pada sektor produksi terutama sektor manufaktur. Sebab, sejak ditetapkan sebagai pandemi global, sektor tersebut kesulitan untuk mendapatkan barang modal dan bahan baku.

Rupiah pada Jumat pagi dibuka melemah ke posisi Rp14.595 per dolar AS. Sepanjang hari, rupiah bergerak di kisaran Rp14.595 per dolar AS hingga Rp14.840 per dolar AS.

Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia pada Jumat menunjukkan, rupiah melemah menjadi Rp14.815 per dolar AS dibanding hari sebelumnya di posisi Rp14.490 per dolar AS.

Saham bangkit

Sementara itu, IHSG Bursa Efek Indonesia (BEI) pada akhir pekan berhasil naik meski sempat terkoreksi tajam pada sesi awal perdagangan.

Pada hari yang sama, IHSG ditutup menguat 11,82 poin atau 0,24% ke posisi 4.907,57. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 bergerak turun 7,63 poin atau 0,99% menjadi 777,27.

“Keberhasilan IHSG naik karena faktor global yaitu hijaunya Dow Jones Future di Wall Street. Sedangkan efek stimulus dari pemerintah relatif minim,” kata analis Indopremier Sekuritas Mino di Jakarta.

Dibuka melemah, sempat terjadi pembekuan sementara perdagangan (trading halt) pada sistem perdagangan di BEI pada pukul 09.15 waktu JATS yang dipicu penurunan IHSG yang melampaui 5%. Namun perlahan pelemahan indeks berkurang hingga akhirnya ditutup menguat.

Secara sektoral, enam sektor terkoreksi di mana sektor industri dasar turun paling dalam 3,45%, diikuti sektor pertanian dan sektor aneka industri dasar masing-masing turun 2,08% dan 0,96%.

Sedangkan empat sektor meningkat dengan sektor infrastruktur naik paling tinggi yaitu 1,41%, diikuti sektor manufaktur dan sektor konsumer masing-masing 0,75% dan 0,72%.

Penutupan IHSG sendiri diiringi aksi jual saham oleh investor asing yang ditunjukkan dengan jumlah jual bersih asing atau net foreign sell sebesar Rp575,76 miliar.

Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 473.916 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 7,9 miliar lembar saham senilai Rp9,51 triliun. Sebanyak 132 saham naik, 283 saham menurun, dan 105 saham tidak bergerak nilainya.

Sementara itu, bursa saham regional Asia sore ini antara lain indeks Nikkei Jepang melemah 1.128,5 poin atau 6,08% ke 17.431,1, indeks Hang Seng Hong Kong melemah 276,2 poin atau 1,14% ke 24.032,9, dan indeks Straits Times Singapura melemah 32,91 poin atau 1,23% ke 2.645,73. (SKO)

Tags:
Bursa Efek IndonesiaDampak Virus CoronaHeadlineihsgPasar modalRupiahSahamVirus Corona
%d blogger menyukai ini: