Cuma Naik 4,72 Persen, Ini Biang Kerok Saham Bukalapak Gagal ARA

09 Agustus 2021 19:27 WIB

Penulis: Drean Muhyil Ihsan

Editor: Laila Ramdhini

Anak usaha Bukalapak bakal mendapat kucuran dana. Terlihat gambar multiple exposure logo Bukalapak dan layar pergerakan IHSG di Jakarta, Kamis, 24 Juni 2021. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

JAKARTA – Saham PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) ditutup menguat 4,72% ke level harga Rp1.110 per lembar pada akhir perdagangan Senin, 9 Agustus 2021. Padahal, saham emiten unicorn e-commerce satu ini sempat melesat 25% menyentuh auto reject atas (ARA) pada level harga Rp1.325 per lembar.

Sama seperti debut perdagangan perdananya, saham BUKA langsung menyentuh batas atas tak lama dari sesi pembukaan. Namun, selepas penutupan sesi pertama hari ini, peningkatan saham BUKA mulai terpangkas signifikan hingga perdagangan sesi kedua berakhir. 

Melansir data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), investor asing melakukan aksi jual saham BUKA sebesar Rp684,51 miliar. Sementara, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup terkoreksi sebesar 1,22% ke level 6.127,46 dengan catatan jual bersih (net sell) asing sebanyak Rp694,61 miliar.

Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Christine Natasya mengatakan terpangkasnya peningkatan harga saham BUKA diakibatkan oleh anjloknya rilis data indeks keyakinan konsumen (IKK) pada periode Juli 2021.

Berdasarkan data yang dirilis Bank Indonesia (BI), IKK pada Juli 2021 turun tajam menjadi 80,2 dari Juni 2021 yang masih mencatatkan nilai 107,4. Nilai IKK bulan lalu yang berada di bawah angka 100 juga menunjukkan sikap psimistis konsumen terhadap situasi ekonomi saat ini.

“Jadi ini lebih diakibatkan IKK yang anjlok, jauh dari ekspektasi. Karena Bukalapak e-commerce yang juga menjual consumer goods, jadi pasti berpengaruh dengan rilis indeks keyakikan konsumen,” ujarnya saat dihubungi TrenAsia.com, Senin, 9 Agustus 2021.

Namun, menurutnya rilis data IKK ini tak hanya mempengaruhi kinerja saham BUKA, melainkan seluruh indeks komposit. Nyatanya, IHSG pada akhir sesi perdagangan hari ini memang mengalami koreksi cukup dalam. 

Sebelumnya, Kepala Departemen Komunikasi BI, Erwin Haryono mengatakan, menurunnya IKK pada Juli 2021 merupakan implikasi dari restriksi mobilitas. Seperti diketahui, pemerintah menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 4 sejak 3 Juli 2021.

“Konsumen mempersepsikan kondisi ekonomi saat ini belum sesuai yang diharapkan, ditengarai sejalan dengan penurunan aktivitas ekonomi dan penghasilan masyarakat yang lebih terbatas karena adanya PPKM Level 4,” ucap Erwin dalam keterangan tertulis, Senin, 9 Agustus 2021.

Hingga akhir perdagangan, terdapat 157 saham menguat, 357 saham terkoreksi, dan 142 ditutup pada posisi stagnan. Sektor industri dasar, kesehatan, dan infrastruktur menjadi faktor pemberat utama pergerakan IHSG yang masing-masing terkoreksi 2,02%, 1,57%, dan 1,54%.

Berita Terkait