China Siap Rangkul Afghanistan Usai Dilepas AS, Ciptakan Sekutu Baru?

18 Agustus 2021 19:32 WIB

Penulis: Daniel Deha

Editor: Laila Ramdhini

JAKARTA - China menyatakan harapan untuk bisa bersahabat secara kooperatif dengan Taliban. Hal itu tercetus usai gerakan nasionalis Islam tersebut mengkudeta pemerintah Afghanistan yang didukung Amerika Serikat dan Presiden Ashraf Ghani melarikan diri.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Hua Chunying mengatakan hubungan kedua negara bisa diperdalam jika Taliban berkomitmen untuk mendirikan pemerintahan Islam yang "terbuka dan inklusif" di Afghanistan. China juga akan memastikan transisi kekuasaan yang damai tanpa kekerasan dan terorisme.

"Kami melihat pernyataan dari Taliban Afghanistan kemarin (15 Agustus) yang mengatakan bahwa perang telah berakhir. Mereka akan memulai konsultasi tentang pembentukan pemerintahan Islam yang terbuka dan inklusif dan bertanggung jawab atas keselamatan warga Afghanistan dan korps diplomatik asing," ujar Hua melansir India Today, Senin, 16 Agustus 2021.

China berbagi perbatasan 76 kilometer (47 mil) yang terjal dengan Afghanistan. China memang telah lama khawatir Afghanistan bisa menjadi titik strategis bagi separatis minoritas Uighur di wilayah perbatasan sensitif Xinjiang, China.

Menurut laporan PBB baru-baru ini, ratusan militan Uighur, yang berafiliasi dengan kelompok teror Al Qaeda, berkumpul di Afghanistan di tengah kemajuan militer yang dibuat oleh Taliban di negara itu.

Namun delegasi tingkat atas Taliban bertemu dengan Menteri Luar Negeri China Wang Yi di Tianjin bulan lalu, menjanjikan bahwa Afghanistan tidak akan digunakan sebagai basis bagi militan bagi Muslim Uighur.

Sebagai gantinya, China menawarkan dukungan ekonomi dan investasi untuk rekonstruksi Afghanistan, termasuk melalui Koridor Ekonomi China-Pakistan.

Bagi China, pemerintahan yang stabil dan kooperatif di Kabul akan membuka jalan bagi perluasan proyek internasional Belt and Road Initiative ke Afghanistan dan melalui republik-republik di Asia Tengah.

"Kami berharap ini akan dilaksanakan untuk memastikan transisi damai, menghentikan kekerasan dan terorisme, dan memastikan orang bebas dari perang dan membangun rumah baru mereka," imbuhnya.

Mengacu pada jaminan Taliban, Hua mengatakan, kelompok Islam itu telah berulang kali mengatakan ingin mengembangkan hubungan yang baik dengan China dan berharap Beijing akan mengambil bagian dalam rekonstruksi dan pembangunan bangsa.

Dia mengatakan Taliban Afghanistan telah meyakinkan bahwa mereka "tidak akan pernah membiarkan pasukan apa pun menggunakan negara (Afghanistan) untuk menyakiti China".

"Kami menyambut itu dan kami selalu menghormati kedaulatan dan kemerdekaan dan integritas daerah. Kami tidak ikut campur dalam urusan internal dan persahabatan kami adalah untuk semua orang Afghanistan. Kami menghormati kemerdekaan (dan) pilihan rakyat dan kami terus mengembangkan hubungan persahabatan." dan memainkan peran konstruktif dalam perdamaian dan rekonstruksi," kata Hua.

China sejauh ini belum secara resmi mengakui Taliban sebagai pemimpin baru Afghanistan, tetapi Menlu China Wang Yi menyebut mereka sebagai "kekuatan militer dan politik yang menentukan" selama pertemuan bulan lalu di Tianjin, China.

Pemberontak Taliban menguasai Kabul pada hari 15 Agustus untuk mengakhiri kampanye dua dekade yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dalam hal itu, AS dan sekutunya telah mencoba untuk mengubah negara yang dilanda perang itu menjadi satelitnya.

Sementara sebagian besar kedutaan besar di Kabul termasuk AS, India, dan negara-negara Uni Eropa telah mengevakuasi staf diplomatiknya awal pekan ini. Begitu pula dengan sebagian besar warga China telah dievakuasi dari Afghanistan. Namun Kedutaan Besar China masih beroperasi.

"Situasi di Afghanistan telah mengalami perubahan besar. Kami menghormati keinginan dan pilihan rakyat Afghanistan," ujar Hua.

Menurut para analis, terbukanya hubungan diplomatik yang baik antara China dengan Afghanistan yang akan memulai pemerintahan baru, bisa menciptakan sekutu ekonomi baru negara adidaya itu di kawasan Timur Tengah.

Afghanistan bisa menjadi jalur pipanisasi gas yang menghubungkan Iran dengan China. Dengan kekuatan baru, koridor ekonomi di kawasan itu menjadi China-Afghanistan-Pakistan-Iran.

AS, yang menginvasi negara itu sejak 2001 setelah dipicu dugaan Afghanistan menyembunyikan pemimpin Al-Qaeda Osama bin Laden, telah mempengaruhi pemerintahan Afghanistan selama 20 tahun.

Presiden Joe Biden berencana menarik pasukan AS dari Afghanistan pada 11 September mendatang. Namun kekuatan gerilya Taliban melampaui prediksi AS yang membuat pemerintahan boneka AS di negara itu runtuh dan untuk pertama kalinya setelah 40 tahun berjuang, Taliban menguasai ibukota Kabul.

Di AS, Biden dikecam karena dianggap gagal menangani masalah di Afghanistan dan tidak memiliki perhitungangan yang matang mengenai rencana penarikan pasukan.

Berita Terkait