Cegah Efek Semu, Inilah Strategi Pemerintah Agar Pertumbuhan Ekonomi Tidak Kembali Resesi di Sisa Kuartal III & IV 2021

06 Agustus 2021 11:30 WIB

Penulis: Fachrizal

Editor: Rizky C. Septania

Airlangga Hartanto (Kemenko Perekonomian RI)

JAKARTA - Indonesia telah resmi keluar dari jurang resesi di kuartal II-2021 pada Kamis, 5 Agustus 2021. Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2021 mencapai 7,07% secara tahunan atau year on year (yoy).

Sebelumnya, berdasarkan data dari BPS, pada kuartal I-2020, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih positif 2,97%. Kemudian kuartal II-2020 ekonomi terjun bebas menjadi -5,32%, kuartal III -3,45, dan kuartal IV-2020 sebesar -2,19%. 

Kemudian, pada kuartal I-2021 ekonomi mulai membaik hingga -0,74%. Pada puncaknya dapat tumbuh hingga positif 7,07% pada kuartal II-2021.

Meski pertumbuhan ekonomi sebesar 7,07% dinilai sebagai suatu prestasi besar dari publik, banyak ahli ekonomi beranggapan angka ini adalah semu belaka. 

 

Pasalnya, keluarnya Indonesia dari jurang resesi periode ini adalah placebo alias pemulihan semu belaka. Sehingga, kondisi pertumbuhan perekonomian pada periode saat ini belum bisa dibilang kembali seperti sediakala. Untuk itu, ekonomi pada kuartal selanjutnya mesti diwaspadai.

Untuk mengantisipasi hal ini, Menteri Perekonomian Indonesia, Airlangga Hartanto mengungkapkan, Kemenko Perekonomian RI telah menyiapkan langkah-langkah strategis agar pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak kembali minus di kuartal III-2021 dan kuartal IV-2021.

Beberapa cara yang akan diupayakan Kemenko Perekonomian adalah menjaga penyerapan anggaran agar terealisasi lebih tinggi baik di pusat dan daerah. Airlangga ingin memastikan jika pengalokasian keperluan anggaran kebutuhan untuk pusat dan daerah optimal atau tetap sasaran penyerapannya.  

Selain itu, sektor investasi juga akan menjadi sektor yang akan dimaksimalkan oleh Kemenko Perekonomian. Hal ini dilakukan untuk memicu demand dan ekspor yang lebih baik lagi dari sebelumnya, seiring tumbuhnya ekonomi global dan implementasi UU Cipta Kerja yang memudahkan terjadinya realisasi bisnis dan investasi. 

Khusus untuk kuartal III-2021, pemerintah telah menambah anggaran pemulihan ekonomi dengan bantuan sosial yang kini telah terealisasi sebesar 41% dari total pagu anggaran sebesar Rp744,7 miliar. Perlindungan sosial disalurkan dengan bansos baik tunai dan non tunai. 

Airlangga menambahkan, apabila strategi yang ia sebutkan diatas diterapkan dengan optimal di kuartal III-2021, ia optimis di kuartal IV-2021 Indonesia sudah mampu membalikkan keadaan di tengah pandemi saat ini.

“Kuartal IV menjadi kunci kita kembali membalikkan keadaan,” kata airlangga pada  press conference virtual tentang Pertumbuhan Ekonomi Triwulan II-2021,  Kamis, 5 agustus 2021.

Airlangga memprediksi apabila upaya-upaya itu terealisasi, maka potensi untuk memulihkan ekonomi di kuartal IV-2021 secara Year on Year (YoY) sebesar 3,4% dapat tercapai.  “Kalau upaya-upaya itu terealisasi, maka potensi untuk memulihkan ekonomi di kuartal IV-2021  secara YoY sebesar 3,4% dapat tercapai,” ungkapnya. 

Sebelumnya, menurut Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, mengungkapkan penyebab pertumbuhan ekonomi di kuartal ini bisa mencapai 7% karena adanya upaya pemulihan yang dilakukan pemerintah. Dalam perspektif ekonomi, hal ini disebut low base effect.  

“Jangan keburu senang dulu karena pemulihan semu satu kuartal. Konsumsi rumah tangga bisa melemah lagi, dan motor dari investasi juga terpengaruh dengan adanya PPKM. Realisasi investasi bakal delay atau tertunda. Investor wait and see dulu kapan kasus harian turun signifikan juga pelonggaran mobilitas dilakukan,” ungkap Bima pada Kamis, 5 Agustus 2021.

Menurut Bima,  ada kemungkinan besar pertumbuhan ekonomi kembali minus di kuartal selanjutnya akibat lonjakan kasus COVID-19 dan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 4 .

Berita Terkait