Catatan IHSG di Semester I-2020: Nilai Transaksi Hingga Saham-Saham Unggulan

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan enam bulan pertama tahun ini dengan penguatan 0,07% ke level 4.905,39. Alhasil, pergerakkan IHSG secara year to date turun 22,13% dari posisi akhir 2019 pada level 6.299,54.

Selama enam bulan berjalan, ada beberapa catatan yang bisa dilihat dari pergerakkan IHSG. Mulai dari rata-rata nilai transaksi harian yang mencapai Rp7,67 triliun, frekuensi rata-rata harian sebanyak 513.990 kali, hingga volume rata-rata transaksi harian 7,6 miliar saham.

Melalui catatan-catatan itu, kapitalisasi pasar (market capitalization) IHSG mencapai Rp5.678 triliun.

IHSG juga mencatat total nilai transaksi Rp927,8 triliun. Dari jumlah itu, investor domestik memberikan porsi 60% atau Rp559,1 triliun dengan transaksi investor asing Rp368,7 triliun atau 40% dari total transaksi.

Adapun investor asing masih mencatatkan net sell bernilai Rp15,64 triliun sepanjang enam bulan tahun ini.

Saham & Sektor Unggulan

Berbicara IHSG tidak lengkap tanpa menyebutkan nama-nama saham dan sektor yang menjadi unggulannya.

Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), TrenAsia.com merangkum tiga besar saham yang menjadi leader dan laggard penggerak IHSG.

Dalam enam bulan, nama-nama PT Sinarmas Multiartha Tbk. (SMMA), PT Bank Artos Indonesia Tbk. (ARTO), dan PT Sarana Menara Nusantara Tbk. (TOWR) menjadi tiga besar leader penggerak IHSG.

Rinciannya, harga saham SMMA sudah naik 20,2% ke level Rp18.300 dan berkontribusi 16,9 poin terhadap IHSG. Kemudian saham ARTO naik 279,5% ke level Rp1.770 atau berkontribusi 12,1 poin terhadap IHSG. Serta saham TOWR yang naik 26,7% ke level Rp1.020 memberikan kontribusi IHSG sebanyak 9,5 poin.

Sementara itu, saham-saham dengan kapitalisasi besar menjadi laggar penggerak IHSG. Tiga besar di antaranya PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), dan PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA).

Saham BBRI yang turun 31,1% ke level Rp3.030 menahan laju IHSG hingga 144,5 poin. Disusul saham BMRI yang turun 35,5% ke level Rp4.950 menggerus IHSG 108,8 poin. Serta saham BBCA yang turun 14,8% menjadi Rp28.475 memangkas IHSG sebanyak 104,4 poin.

Di sisi lain, indeks saham sektoral yang turun paling dalam selama enam bulan tahun ini berasal dari sektor property, real estate and building construction ke level 324,54 atau minus 36,09%. Adapun yang turun terbatas berasal dari sektor consumer goods industry atau minus 12,26% ke level 1.803,16.

Pendapatan Bursa Turun

Melihat perkembangan IHSG dalam enam bulan tahun ini, Direktur Utama BEI Inarno Djajadi memastikan, pendapatan BEI bakal turun seiring dengan penurunan nilai rata-rata transaksi harian.

Meski begitu, Inarno belum mau menyebut seberapa besar penurunan pendapatan BEI. “Nilainya belum bisa kami sampaikan karena masih inhouse,” ungkap Inarno kepada wartawan di Jakarta, Selasa, 30 Juni 2020.

Dengan keadaan tersebut, Inarno menegaskan, BEI terus melakukan efisiensi anggaran sambil terus menjaga layanan bursa dan meningkatkan akselerasi upaya digital di lingkungan perseroan. BEI, lanjut Inarno, juga terus melakukan komunikasi dan koordinasi dengan para stakeholders dalam menghadapi pandemi COVID-19.

Tags:
beiBursa Efek IndonesiaHeadlineihsgindeks harga saham gabunganSaham
Issa Almawadi

Issa Almawadi

Lihat Semua Artikel ›

%d blogger menyukai ini: