Catat! Ini Tips Cuan Jadi Lender Fintech P2P Lending dari AFPI

12 Agustus 2021 21:35 WIB

Penulis: Ananda Astri Dianka

Editor: Laila Ramdhini

Karyawan paltform Fintech Pendanaan anggota AFPI antusias mengikuti vaksinasi pada pemberian Vaksin Gotong Royong untuk pekerja Industri Fintech Pendanaan Bersama Indonesia di Jakarta, Jumat, 2 Juli 2021. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

JAKARTA – Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) menyatakan potensi pemberi pinjaman (lender) pada platform fintech peer-to-peer (P2P) lending sangat besar dan menjanjikan.

Ketua Bidang Edukasi, Literasi & Riset AFPI Entjik S. Djafar mengungkapkan, sebagai platform pembiayaan digital yang mempertemukan antara lender  dengan peminjam (borrower), P2P lending menawarkan keuntungan bagi kedia belah pihak.

Lender saat ini hampir 9 juta, walau masih sedikit, tapi trennya meningkat. Artinya, makin banyak orang percaya memutar uangnya di sini,” kata Entjik dalam diskusi media virtual, Kamis 12 Agustus 2021.

Entjik menjelaskan, platform pinjaman online (pinjol) memberikan sejumlah keuntungan bagi lender. Pertama, sebagian besar platform P2P lending menawarkan minimum pendanaan yang sangat murah yakni mulai dari Rp100.000. 

Kedua, informasi pendanaan di P2P lending transparan, artinya lender bisa menganalisis dan memilih sendiri mana borrower yang ingin didanai. 

Untuk itu, Entjik yang juga CEO DanaRupiah mengatakan kunci utama untuk menjadi lender yang sukses yakni melakukan analisis dan riset.

Tiga Kunci

Ketua Klaster Produktif dan CEO Modalku Reynold Wijaya menambahkan, riset yang bisa dilakukan oleh calon lender antara lain pertama, memilih platform P2P lending

Ia menjabarkan, tiap perusahaan memiliki keahlian dan fokus pendanaan di masing-masing sektor. Ada yang fokus ke UMKM perempuan, pendidikan, industri manufaktur, agribisnis, dan sebagainya. Para lender, kata Reynold, dapat memutuskan berdasarkan selera atau latar belakang pengetahuan bisnis di sektor tertentu.

Dengan memahami borrower yang ingin didanai, lender akan punya analisis risiko yang baik sebelum memberikan pendanaan. Selain itu, tiap platform juga memiliki risiko dan imbal balik yang berbeda-beda.

Tak hanya itu, platform P2P lending juga menawarkan pendanaan bagi sektor produktif dan konsumtif. Dengan begitu, profil borrower yang ada di masing-masing platform akan berbeda-beda pula.

“Tips jadi lender pertama harus dimengerti, selalu ada hubungan antara risk and reward, high risk high return lah intinya. Jadi harus riset sebelum berinvestasi di instrumen manapun,” jelas Reynold.

Kedua, setelah memilih P2P lending, Reynold menyarankan agar lender tetap mendiversifikasi jumlah dana, platform, dan instrumen investasi lainnya. Ia juga mengingatkan, agar uang yang diinvestasikan di instrumen investasi haruslah ‘uang dingin’ bukan 'uang panas' alias hasil berutang.

Ketigapastikan berinvestasi di platform P2P lending yang terdaftar di AFPI. Sebab, anggota AFPI berstatus diawasi dan berizin dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Hingga 27 Juli 2021, terdapat 121 perusahaan fintech lending yang terdaftar dan 68 yang sudah mengantongi izin OJK.

“Sekarang banyak P2P lending yang sedang proses perizinan, prediksi kami di September itu semua sudah berizin ya,” tambah Reynold.

Berita Terkait