Butuh Rp12 Triliun untuk Bangun AN-225 Mriya Baru

25 Mei 2022 12:34 WIB

Penulis: Amirudin Zuhri

AN-225 Mriya (Antonov)

KYIV-Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan akan  membangun jet kargo An-225 baru untuk menggantikan satu-satunya yang pernah dibangun dan hancur selama pendudukan Rusia di bandara Hostomel.

Tapi Oleksandr Halunenko pilot pertama dari pesawat operasional terbesar di dunia yang dikenal dengan julukan Mriya  mengatakan penggantian apa pun tidak akan pernah sama.  Dia menegaskan ini  akan menjadi pesawat yang sama sekali berbeda.

Halunenko sendiri membantu mendesain Mriya. Untuk satu hal, pesawat yang dikemudikannya pada penerbangan pertamanya  21 Desember 1988  sebagian besar dibangun dari sistem yang dibuat di Uni Soviet saat itu. Itu artinya di  Mriya-2 mereka perlu diganti dengan sistem Eropa, Amerika atau beberapa sistem lain.

Pekan lalu, Zelensky mengumumkan niatnya untuk membangun Mriya baru selama pertemuan online dengan siswa Ukraina.  Dia mengatakan butuh US$800 juta atau sekitar Rp12 triliun untuk mewujudkannya. Pihaknya telah mengajukan tawaran ke Presiden Turki  untuk membangun MRIYA ke-2, tetapi sampai saat ini belum ditemukan sumber uang yang bisa digunakan.

“Tapi dalam hal ini, ini bukan masalah uang, ini masalah ambisi. Kami didekati oleh Ukroboronprom, tim Antonov. Ini adalah pertanyaan tentang citra negara kami dan semua pilot profesional hebat yang tewas dalam perang ini,” katanya dikutip Sky News.

Idenya kata Zelensky adalah untuk mendedikasikan pesawat baru ini bagi para  pilot Ukraina yang  tewas membela negara mereka sejak Rusia meluncurkan invasi pada 24 Februari 2022.

Ukroboronprom mengatakan pada 27 Februari bahwa membangun Mriya baru akan menelan biaya lebih dari US$3 miliar dan memakan waktu lima tahun. Ini tampak seperti angka besar pada saat itu. Dana tersebut akan datang dari Rusia melalui reparasi perang.

Perusahaan itu mengatakan Ukraina akan melakukan segala upaya untuk memastikan Rusia  membayar pekerjaan ini karena merekalah yang menghancurkan pesawat legendaris tersebut.

Tim desain Antonov menciptakan Mriya pertama dengan mengembangkan An-124 Ruslan. Badan pesawat dan bentang sayap diperpanjang, dua mesin tambahan ditambahkan, ekstensi laras badan pesawat ditempatkan di depan dan belakang sayap, ekor ikonik dengan sirip vertikal kembar dibuat, jumlah ban roda pendarat ditingkatkan menjadi 32, dan pintu kargo belakang dihilangkan.

Ekor kembar pesawat memungkinkannya membawa beban eksternal yang besar dan berat.  Selama tahun-tahun penerbangannya, Mriya mencetak sejumlah rekor dunia, termasuk bobot terbesar. Pada 11 September 2001, dengan piloting Halunenko, Mriya menerbangkan lima tank dengan berat total lebih dari 250 ton.

Pekerja keras

Setelah runtuhnya Uni Soviet, Mriya beralih dari mengangkut peralatan luar angkasa menjadi  jet kargo sewaan. Pesawat bekerja untuk perusahaan sipil, pemerintah dan militer. Sebelum dihancurkan,  pesawat bekerja keras memberikan  untuk pasokan terkait COVID, termasuk penerbangan yang membawa pasokan medis dari Jerman ke Namibia pada Juli 2021. 

Salah satu misi terakhirnya adalah mengirimkan 110 ton alat uji Covid-19 dari Tianjin China ke Linz Austria pada Oktober 2021.

Berbeda dengan Ruslan, Antonov hanya memproduksi satu An-225 jadi dan satu pesawat yang belum jadi. Badan pesawat yang belum selesai itu disimpan di suatu tempat di Ukraina, tetapi tidak jelas apakah itu dapat atau akan digunakan untuk Mriya baru. Baik Zelensky maupun Ukronboronprom tidak secara khusus membahas hal itu.

Halunenko  menyamakan penghancuran Myria dengan seorang anak yang terbunuh. Dia  mengatakan setiap upaya untuk membangun versi baru dari pesawat sebesar itu tidak akan mudah. “Akan sangat bagus jika berhasil,” katanya. “Tapi itu sangat sulit.” Dia  mengataan pendanaan adalah hambatan besar. Untuk membantu membayar An-225 baru, Antonov telah meluncurkan kampanye penggalangan dana.

Tetapi menurut posting Facebook 2 Mei 2022 yang belum diperbarui, upaya itu jauh dari berhasil karena baru menghasilkan sekitar US$ 4.200. Jadi seperti Mriya yang berarti Mimpi, saat ini untuk membangun An-225 baru juga masih dalam tahap mimpi.

Berita Terkait