Bumi Resources Minerals Butuh Capex Rp1,44 Triliun untuk Garap Tambang Emas di Gorontalo

13 Agustus 2021 17:04 WIB

Penulis: Reza Pahlevi

Editor: Amirudin Zuhri

Tambang Emas Citra Palu Minerals milik PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) dari Grup Bakrie / Dok. Perseroan

JAKARTA – PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) memperkirakan belanja modal (capital expenditure/capex) untuk menggarap tambang emas di Gorontalo, Sulawesi, dapat mencapai US$100 juta atau setara dengan Rp1,44 triliun (dengan kurs Rp14.353 per dolar AS).

“Kira-kira total capex yang diperlukan untuk mengerjakan proyek tambang emas Gorontalo itu antara 90 sampai 100 juta dolar (AS),” ujar Direktur BRMS Herwin Hidayat dalam sebuah virtual conference, Jumat, 13 Agustus 2021.

Sebelumnya, perusahaan Grup Bakrie telah mendapat persetujuan untuk rencananya melakukan rights issue atau Penawaran Umum Terbatas II dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada Jumat, 6 Agustus 2021. 

Rights issue ini dalam rangka penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD), serta rencana penerbitan waran serta saham hasil konversi waran. Selain itu, RUPSLB juga menyetujui perubahan struktur permodalan dalam rangka rights issue tersebut.

Dalam rights issue tersebut, Herwin juga mengkonfirmasi adanya pembeli siaga atau standby buyer yang siap mengambil 100% saham baru yang ditawarkan jika tidak diserap oleh pemegang saham.

“Kami memiliki standy buyer yang akan mengambil 100% saham baru dalam rights issue kedua ini jika tidak diambil pemegang saham. Jadi ini yang bisa kita sampaikan,” tambah Herwin.

Meski menyebut sudah ada pembeli siaga, Herwin tidak menyebutkan siapa pihak tersebut. Soal ini, Herwin mengatakan baru akan dibuka dalam prospektus terkait selanjutnya.

BRMS akan melakukan eksplorasi di tambang emas Gorontalo lewat anak usahanya, PT Gorontalo Minerals. Dalam perusahaan ini, BRMS memegang 80% kepemilikan saham dengan sisanya 20% dipegang oleh PT Aneka Tambang Tbk (ANTM).

BRMS juga telah mendapat izin dari pemerintah untuk konstruksi selama tiga tahun sejak Februari 2019. Sementara itu, masa produksi akan berlangsung selama 30 tahun hingga 2052.

Ada beberapa hal yang akan dilakukan dalam pembangunan proyek tambang emas tersebut. Pertama, pembangunan 1 pabrik pengolahan bijih emas dengan kapasitas 2.000 ton bijih per hari. 

Kedua, membangun fasilitas pendukung proyek tambang (waste dump, sediment pond, powerhouse, warehouse, nursery facility, gudang bahan peledak, dll).

Ketiga, aktivitas pengeboran di beberapa prospek emas dalam usahanya untuk menambah jumlah cadangan bijih emas di lokasi tambang Motomboto (Gorontalo). 

Keempat, membangun infrastruktur jalan tambang (hauling road) sepanjang lebih dari 30 kilometer dengan lebar 12 meter dan fasilitas jembatan dari Pelabuhan Tombolilato ke lokasi tambang emas di Gorontalo.

Kelima, membangun Fasilitas Pengolahan Limbah (Tailing Management Facility), termasuk pengeringan limbah bijih, tailing dam, dan detoxification plant. Enam, pembelian alat-alat berat, peralatan dan perlengkapan tambang. Terakhir, mendanai kebutuhan modal kerja perusahaan dan/atau anak-anak usahanya

Berita Terkait