Bukan Sekadar Menu Wajib Lebaran, Ketupat Ternyata Punya Makna dan Filosofi Mendalam

15 Mei 2021 16:31 WIB

Penulis: Aprilia Ciptaning

Sejumlah pedagang musiman kulit ketupat menggelar lapaknya di kawasan Pesanggerahan, Jakarta Selatan, Senin, 10 Mei 2021. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

JAKARTA – Ketupat menjadi salah satu makanan khas yang selalu tersedia di meja makan saat perayaan Lebaran. Ketupat biasanya disajikan bersama opor dan semur daging, maupun lauk bersantan lainnya.

Namun, tahukah Anda makna di balik tampilan dan penyajian makanan ini? Menurut rangkuman TrenAsia.com dari berbagai sumber, ketupat memiliki arti khusus di balik bentuk anyamannya.

Istilah ketupat sendiri dalam Bahasa Jawa mengandung pemaknaan dari Ngaku Lepat dan Laku Papat. Keduanya mengandung arti mengakui kesalahan dan empat tindakan dalam perayaan lebaran.

Saat Idulfitri, implementasinya diwujudkan dalam sungkeman. Prosesi ini dilakukan oleh seseorang yang lebih muda kepada orang yang lebih tua atau anak kepada orang tua. Mereka bersimpuh sembari momohon ampun mengakui kesalahan satu sama lain. Ini diikuti dengan sikap saling memaafkan.

Sementara untuk Laku Papat, maksudnya adalah empat perilaku maaf yang mengandung filosofi lebar, lebur, luber, dan labur. Lebar artinya terlepas dari kejahatan atau kemaksiatan, sedangkan lebur berarti lepas dari dosa.

Adapun luber berarti berharap atas kelimpahan pahala, keberkahan dan rahmat. Kemudian labur bermakna bersih.

Nah, untuk hidangan pendamping, ketupat yang biasanya disantap bersama opor, rendang, atau gulai. Makanan tersebut didominasi oleh santan yang juga memiliki filosofi khusus dalam Jawa.

Oleh orang Jawa, santan disebut santen, yakni pangapunten atau meminta maaf. Maka, tindakan yang dicerminkan dalam pemaknaan ketupat tadi diiringi dengan permintaan maaf yang menandakan kebersihan dan kesucian. Setelah mohon ampun dari segala kesalahan, orang-orang di momen Lebaran diharapkan kembali ke awal. (LRD)

Berita Terkait