Bukalapak IPO, Begini Harapan Bos BEI

19 Juli 2021 07:40 WIB

Penulis: Drean Muhyil Ihsan

Editor: Rizky C. Septania

Bukalapak Pembuka Unicorn Go Public / Ilustrasi: TrenAsia - Deva Satria (TrenAsia)

JAKARTA – PT Bukalapak.com Tbk akan menjadi unicorn pertama yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI). Hal ini dipercaya akan membawa dampak positif bagi pasar modal Indonesia ke depannya.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna menyatakan bahwa masuknya Bukalapak ke pasar saham Tanah Air diharapkan dapat menarik masuknya perusahaan-perusahaan unicorn lainnya di pasar domestik dan menarik minat investor untuk berinvestasi.   

Bukalapak sendiri menargetkan penghimpunan dana mencapai Rp21,9 triliun lewat skema penawaran saham perdanan (initial public offering/IPO). Jika terealisasi, ini akan menjadi salah satu IPO terbesar sepanjang sejarah BEI.

Nyoman menilai, dengan adanya IPO skala besar, diharapkan menambah semarak pasar modal Indonesia sekaligus menarik minat tidak hanya investor domestik, tetapi juga investor global untuk menanamkan modal di dalam negeri. 

“Hal yang lebih penting adalah memberikan akses bagi perusahaan untuk tumbuh di pasar modal Indonesia, dan di sisi yang lain memberikan pilihan bagi investor untuk berinvestasi di perusahaan dengan berbagai ukuran dan model bisnis,” ujarnya kepada awak media, dikutip Minggu, 18 Juli 2021.

Ia juga memaparkan sejumlah emiten yang telah berhasil melaksanakan IPO dalam skala besar. Sebut saja, PT Adaro Energy Tbk (ADRO) dan PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM). Baginya, emiten-emiten dengan ukuran sebesar ini akan diimbangi oleh cakupan investor yang lebih luas.

Success story mereka (ADRO dan TLKM) dalam melakukan penggalangan dana melalui IPO menjadi refleksi apresiasi pasar,’ imbuhnya.

Selain itu, kata Nyoman, para investor memiliki referensi dan portofolio investasi masing-masing termasuk dari saham perusahaan yang akan IPO. Referensi tersebut baik didasarkan oleh pilihan sektor, prospek usaha ataupun ukuran perusahaan yang terdiversifikasi melalui papan utama, pengembangan, maupun akselerasi. 

“Kami yakin bahwa IPO dari perusahaan-perusahaan dengan berbagai jenis, sektor usaha dan ukuran akan mendapatkan apresiasi baik oleh para investor,” tambahnya.

Adapun bagi emiten dengan aset skala kecil dan menengah, para investor bisa menjajaki papan akselerasi yang memang di desain untuk perusahaan-perusahaan dengan ukuran yang lebih kecil, namun tergolong perusahaan yang memiliki prospek cerah.

Dengan begitu, Nyoman menegaskan bahwa BEI tidak menjadikan perusahaan besar sebagai anak emas.

 “Kami berkomiten untuk menjadi house of growth atau rumah pertumbuhan bagi seluruh kategori perusahaan,” tutur dia.

Berdasarkan data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), jumlah investor di pasar modal terus meningkat. Dibandingkan dengan tahun lalu sampai dengan Juni 2021, jumlah investor di pasar modal meningkat 44,45%. Hal tersebut mengindikasikan bahwa pasar modal masih menjadi pilihan bagi investor untuk berinvestasi. 

 

Berita Terkait