Budaya Kerja Bergeser, Keamanan Tanda Tangan Digital Kian Diperlukan

19 November 2021 20:29 WIB

Penulis: Ananda Astri Dianka

Editor: Amirudin Zuhri

Sekjen Kominfo memberikan sambutan dalam acara Peluncuran Program dan Seminar Literasi Privasi dan Keamanan Digital di Ruang Serbaguna, Kantor Kementerian Komunikasi dan Informatika, Senin, 18 November 2019/ Kominfo

JAKARTA – Pandemi telah mengubah budaya kerja, termasuk cara kita menangani dan mengesahkan dokumen. Penggunaan tanda tangan elektronik pun meningkat walau interaksi tatap muka mulai kembali. 

Tanda tangan elektronik dianggap lebih praktis, hemat dan legal sehingga dapat membantu meningkatkan produktivitas kerja. 

“VIDA memungkinkan individu dan pelaku usaha untuk memberikan tanda tangan elektronik yang mengikat secara hukum secara cepat dan aman,” kata Niki Luhur, Founder dan Group CEO VIDA, dikutip Jumat 19 November 2021.

Sebagai Penyelenggara Sertifikat Elektronik (PSrE) yang berlisensi dan di bawah pengawasan Kominfo, VIDA berfungsi sebagai penerbit sertifikat elektronik yang dapat digunakan dalam tanda tangan elektronik untuk memverifikasi dan mengautentikasikan identitas seseorang di dunia digital. 

VIDA menerapkan standar perlindungan data kelas dunia, termasuk Public Key Infrastructure, pengenalan wajah, dan endpoint security guna menghadirkan solusi keamanan siber yang komprehensif. Masyarakat juga tidak perlu meragukan legalitas tanda tangan elektronik di Indonesia. 

“Dengan menggunakan tanda tangan elektronik tersertifikasi dari VIDA, seseorang dapat menandatangani dokumen dengan aman dan tanpa hambatan di dalam perangkat lunak Adobe yang banyak digunakan oleh masyarakat,” tambah Sati Rasuanto, Co-Founder dan CEO VIDA.

Sati menjelaskan, infrastruktur dan manajemen identitas digital mulai dari verifikasi, autentikasi, hingga otorisasi sangat penting dalam meningkatkan keamanan tanda tangan elektronik. Bagi pemilik bisnis, organisasi dan pekerja, efisiensi waktu dalam menit bahkan detik sangat signifikan dalam meningkatkan produktivitas dan mengurangi biaya operasional. 

Sebagai informasi, riset oleh Adobe menunjukan saat ini pekerja memiliki ekspektasi yang lebih tinggi terhadap teknologi dalam membantu untuk bekerja lebih efisien dan efektif. Riset tersebut menyorot bahwa sepertiga waktu kerja digunakan untuk melakukan pekerjaan yang repetitif seperti pengelolaan dokumen, formulir, kontrak, faktur, dan lain lain. 

Selain itu, lebih dari 86% pekerja menyatakan bahwa pekerjaan yang dilakukan secara berulang-ulang menghambat mereka untuk mengerjakan tugas utama mereka. Lebih lanjut, 91% dari responden menyatakan bahwa mereka tertarik menggunakan perangkat yang dapat membuat tugas atau proses kerja mereka menjadi lebih efisien, seperti tanda tangan elektronik. 

“Hasil riset ini menunjukkan manfaat dan pentingnya penggunaan tanda tangan elektronik untuk tujuan profesional.”

Berita Terkait