BRI Ventures Bersama GDP Venture Suntik Modal Produsen Sepatu Brodo

15 Desember 2020 05:01 WIB

Penulis: Drean Muhyil Ihsan

Sepatu Brodo / Bro.do

JAKARTA – Dana Ventura Sembrani Nusantara yang dikelola BRI Ventures kembali mengumumkan investasi di luar sektor fintech. Anak perusahaan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk itu berpartisipasi pada pendanaan Seri-A dari produsen sepatu lokal Brodo.

Namun, tidak disebutkan berapa jumlah investasi yang akan diterima Brodo. Baru-baru ini BRI Ventures juga mendanai start up minuman Haus! sebesar Rp30 miliar.

Selain Dana Ventura Sembrani Nusantara, putaran pendanaan ini juga diikuti oleh GDP Venture. Perusahaan modal ventura yang juga dari Indonesia ini memiliki portofolio di beberapa perusahaan teknologi seperti Blibli, Tiket.com, Kaskus, Endeus, 88rising, dan lain-lain.

Sementara pendanaan tersebut rencananya akan digunakan untuk memperluas bisnis utama Brodo, serta memperbesar bisnis platform pemasaran digitalnya yang dinamakan Boleh Dicoba Digital (BDD).

CEO BRI Ventures, Nicko Widjaja mengatakan, pihaknya mendukung usaha Brodo dalam membangun brand yang kuat dengan dibantu oleh kemampuan yang sangat mumpuni di bidang pemasaran digital.

Ia mengapresiasi ambisi Brodo untuk mendukung usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lainnya naik kelas bersama lewat utilisasi platform digital BDD. Selain itu, Nicko menilai bahwa Brodo juga mampu memahami dengan baik segmen yang mereka layani.

BDD yang telah dibangun Brodo sudah menjadi cloud marketing platform bagi brand lokal. Misalnya, seperti Eiger, Cotton Ink, Kick Avenue, Rata.id, Never Too Lavish, dan lainnya.

“Saya sendiri melihatnya sebagai komponen yang terpenting dalam bisnis Brodo ke depannya. Seperti AWS yang telah menjadi cloud computing platform untuk para start up yang juga merupakan bagian dari Amazon,” ujarnya melalui keterangan resmi, Senin 14 Desember 2020.

Persaingan Pasar Ritel Dalam Negeri

Ketua Pengelola Investasi Sembrani Nusantara, Markus Rahardja menyatakan, investasi kepada Brodo sesuai dengan fokus pada sektor ritel. Terutama yang mengedepankan pendekatan dengan kearifan lokal yang memanfaatkan kanal-kanal digital secara optimal.

Menurutnya, sektor ritel di dalam negeri merupakan pasar yang sangat dinamis. Untuk memenangkan pasar yang daya belinya sedang meningkat ini, persaingan tidak hanya terjadi antar merek namun juga dengan para pemasok barang palsu.

“Pada tahun 2014, contohnya, kerugian yang dialami negara sebagai akibat dari perdagangan barang palsu mencapai US$4 miliar,” tutur Markus.

Seringkali, kata dia, ketersediaan barang palsu menjadi alternatif bagi segmen konsumen yang sadar merek namun belum dapat membeli produk dengan merek internasional karena harganya yang relatif lebih mahal.

Dengan kondisi itu, ia menilai bahwa para pendiri Brodo menyadari hal ini. Mereka berharap munculnya merek-merek lokal dengan kualitas yang tidak kalah baik dapat menjadi solusi bagi konsumen.

“Selain itu, konsumen generasi milenial dan generasi Z juga sudah sangat savvy dan tidak hanya memedulikan brand apa yang mereka pakai. Tetapi juga prinsip dan idealisme apa yang diusung oleh brand tersebut dan customer experience seperti apa yang mereka dapat saat berinteraksi dengan brand,” pungkasnya.

Dana Ventura Sembrani Nusantara sendiri memiliki tesis investasi yang terfokus pada lima sektor. Kelima sektor itu yakni EARTH yang berarti Education, Agriculture, Retail, Transportation, Healthcare. (SKO)

Berita Terkait