BRI Genggam 28 Persen Pangsa Pasar Kredit Sektor Pertanian

27 Agustus 2021 15:40 WIB

Penulis: Muhamad Arfan Septiawan

Editor: Rizky C. Septania

Petani memanen padi di sebuah area persawahan di kawasan Bogor, Jawa Barat, Senin, 23 Agustus 2021. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk tercatat menguasai 28,3% pangsa pasar (market share) penyaluran kredit ke sektor pertanian dari seluruh industri perbankan nasional. Emiten bersandi BBRI ini telah mengucurkan kredit sektor pertanian sebesar Rp117,54 triliun hingga semester I-2021.

Penyaluran kredit sektor pertanian ini setara 12% dari total kredit BRI secara konsolidasian yang mencapai Rp929,41 triliun pada paruh pertama tahun ini. Penyaluran kredit sektor ini rupanya mengalami pertumbuhan double digit hingga 12,8% year on year (yoy) pada semester I-2021.

Pertanian menjadi salah satu sektor yang tergolong kokoh selama masa pandemi COVID-19. Oleh karena itu, Wakil Direktur Utama BRI Catur Budi Harto mengungkapkan optimistis perseroan masih bisa mengeskalasi penyaluran kredit pada sisa tahun ini.

“Dengan adanya kemudahan akses ini tentu akan meningkatkan efisiensi bagi sektor pertanian serta memberikan added value bagi para petani,” ucap Catur dalam keterangan tertulis, Jumat, 27 Agustus 2021.

Kendati demikian, Catur tidak menampik sektor ini punya tantangan besar. Dirinya mengatakan sektor pertanian masih sulit mendapat akses pembiayaan dari lembaga keuangan.

Dalam memudahkan akses, Catur mengatakan BRI telah menyiapkan produk dan layanan end to end di sektor pertanian. Sistem layanan keuangan ini diyakini bisa mendukung penyaluran kredit kepada para petani di berbagai daerah di Indonesia.

“BRI juga memberikan bantuan kemudahan akses pasar melalui program Pasar.id, BRILianpreneur, PADI UMKM,” jelas Catur.

Akses pembiayaan, kata Catur, memiliki peranan penting untuk membantu pelau Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) naik kelas.

“BRI akan terus berkomitmen untuk memberikan dukungan pembiayaan dan pemberdayaan kepada sektor-sektor yang mampu bertahan di masa pandemi dan kemudian dapat melakukan ekspansi lebih besar,” jelas Catur.

Di sisi lain, BRI meraih kinerja keuangan yang stabil hingga semester I-2021. Bank pelat merah ini meraih pertumbuhan laba bersih sebesar 22% yoy pada semester I-2021. Laba bersih bank yang fokus pada pembiayaan UMKM  ini naik dari Rp10,20 triliun pada semester I-2020 menjadi Rp12,44 triliun pada semester I-2021.

Capaian in membuat laba per saham (earning per share) BBRI terbang dari Rp83 pada semester I-2020 menjadi Rp102 per lembar pada semester I-2021. Laba bersih bank only BRI yang stabil ini ditopang oleh keberhasilan BRI meredam beban bunga pada paruh pertama tahun ini.

Pendapatan bunga BRI merangkak naik 9,21% yoy menjadi Rp58,55 triliun dari sebelumnya Rp53,16 triliun pada semester I-2020. Kendati demikian, beban bunga perseroan justru merosot 34,42% yoy dari Rp18,60 triliun menjadi Rp12,20 triliun.

Ditinjau dari entitas tunggal, total aset BRI pada semester I-2021 ini tergelincir. Nilai aset BRI mengalami penurunan tipis dari Rp1.421,78 triliun pada akhir 2020 menjadi Rp1.411,62 pada akhir Juni 2021.

Meski begitu, penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) BRI masih berhasil tumbuh tipis 2,33% menjadi Rp1.096,45 triliun pada semester I-2021. Dana itu terdiri dari tabungan Rp461,70, giro sebesar Rp191,39 triliun, deposito Rp443 triliun.

Adapun capital adequacy ratio (CAR) atau rasio kecukupan modal BRI per akhir Juni 2021 berada di level 19,98% atau dua kali lipat lebih tinggi dari batas bawah yang ditetapkan Bank Indonesia (BI) sebesar 8%. Sementara likuiditas BRI masih terjaga dengan nilai  Loan to deposit ratio (LDR) 84,77%.

Berita Terkait