BRI Agro Resmi Garap Bank Digital dan Ganti Nama Jadi Bank Raya, Tinggalkan Petani?

28 September 2021 10:34 WIB

Penulis: Muhamad Arfan Septiawan

Editor: Sukirno

PT Bank BRI Agroniaga Tbk (AGRO) Resmi Garap Bank Digital dan Ganti Nama Jadi Bank Raya. / Dok. BRI Agro (Briagro.co.id)

JAKARTA - PT BRI Agroniaga Tbk (AGRO) kini resmi berganti nama menjadi Bank Raya. Hal ini telah mendapat izin dari pemegang saham melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada Senin, 27 September 2021.

Direktur BRI Agro Kaspar Situmorang menyebut Bank Raya mencerminkan visi perseroan untuk merayakan keunggulan perseroan di era gig economy. Kaspar bilang perubahan nama ini diharapkan bisa memberikan semangat baru bagi Bank Raya agar menjadi yang terdepan dalam bisnis bank digital.

“Kita harus merayakan dan mengapresiasi seluruh keunggulan pelaku di sektor gi economy,” jelas Kaspar.

Momentum pergantian nama ini juga dilakukan untuk menghilangkan citra bank yang fokus pada agrikultur dan sawit yang selama ini melekat pada emiten bersandi saham AGRO tersebut. Dengan nama Bank Raya, Kaspar ingin perseroan kini dikenal sebagai bank digital yang fokus menggarap pangsa pasar pelaku gig economy. 

DI tengah transisi ini, AGRO tercatat membukukan kineja positif. Anak usaha PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) ini mengumumkan kenaikan laba bersih hingga 31% year on year (yoy) pada semester I-2021. Laba bersih calon bank digital ini terbang dari Rp20,04 miliar pada semester I-2020 menjadi Rp26,22 miliar pada semester I-2021.

Padahal, pendapatan bunga AGRO tergelincir dari Rp998,32 miliar pada semester I-2020 menjadi Rp879,11 miliar pada semester I-2020. Meski begitu, AGRO berhasil mengurangi beban bunga secara cukup signifikan.

Beban bunga AGRO susut hingga 34% yoy menjadi Rp445 miliar dari sebelumnya Rp675,20 miliar pada semester I-2020. Alhasil, pendapatan bunga bersih AGRO masih bisa tumbuh 34,21% dari Rp323,11 miliar pada semester I-2020 menjadi Rp433,66 miliar pada semester I-2021.

Dari segi intermediasi bank, AGRO menyalurkan kredit sebesar Rp18,36 triliun pada semester I-2021. Realisasi itu lebih rendah posisi akhir 2020 yang sebesar Rp19,49 triliun.

Meski begitu, AGRO mengalami peningkatan dari rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) dari 23,32% pada akhir Juni 2020 menjadi 24,90%. Menguatnya aspek permodalan AGRO diikuti oleh kualitas aset yang membaik.

Hal itu dapat ditinjau dari rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) gross yang susut dari 8,33% pada semester I-2020 menjadi 4,49% pada Semester I-2021. Meski begitu, nilai NPL gross ini masih melebihi rata-rata industri yang sebesar 3.35% per Mei 2021.

Secara keseluruhan, aset AGRO menyusut dari Rp28,01 triliun pada akhir 2020 menjadi Rp25,40 triliun pada akhir Juni 2021. Kompak, posisi liabilitas pun berkurang dari Rp23,72 triliun pada akhir 2020 menjadi Rp21,06 triliun pada akhir Juni 2021.

Berita Terkait