BP Jamsostek Tertarik Investasi di Sektor Teknologi, Namun Terhalang Regulasi?

15 Oktober 2021 23:03 WIB

Penulis: Drean Muhyil Ihsan

Editor: Amirudin Zuhri

Karyawan memberikan salam sambut peserta BP Jamsostek yang datang untuk melakukan klaim melalui Layanan Tanpa Kontak Fisik (Lapak Asik) di kantor Cabang Jakarta Menara Jamsostek, Jakarta, Jum’at, 10 Juli 2020. Seiring dengan meningkatnya gelombang pemutusan hubungan kerja di tengah pandemi Covid-19, klaim BPJS Ketenagakerjaan turut melonjak. Pencairan tabungan di BP Jamsostek menjadi alternatif untuk mendukung daya beli pekerja yang tergerus. Sementara dalam rangka adaptasi kebiasaan baru dan untuk memutus penyebaran virus corona, BP Jamsostek telah menerapkan protokol pelayanan secara daring dan tanpa pertemuan secara fisik. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

JAKARTA – BP Jamsostek menyatakan ketertarikannya untuk berinvestasi pada saham-saham di sektor teknologi. Namun, regulasi saat ini membuat perusahaan pengelola dana publik milik pemerintah itu sulit untuk masuk lebih jauh ke sektor tersebut.

Direktur Pengembangan Investasi BP Jamsostek, Edwin Ridwan melihat adanya potensi pada sektor teknologi, mengingat trennya terus naik sepanjang tahun ini. Di sisi lain, terdapat kekhawatiran mengenai kerugian negara akibat investasi.

“Istilahnya kami kalau investasi tidak boleh rugi, harus untung terus. Bagaimana caranya kita bisa investasi di start up tapi gak boleh rugi,” ujarnya Ridwan dalam webinar Capital Market Summit & Expo 2021, bertajuk “Peluang dan Tantangan Aktivitas Investor Institusi” Jumat, 15 Oktober 2021.

Menurutnya, hal ini berkaitan dengan adanya keterbatasan regulasi yang membuat BP Jamsostek mesti berhati-hati dalam mengelola dana publik. Seperti pada kasus investasi sebelumnya, regulasi yang berlaku membuat perusahaan fokus pada tiap aset investasinya.

“Jadi misalkan ada portofolio secara total untung, tapi kalau ada aset yang rugi, nah itu yang kena masalah. Makanya mungkin pendekatannya harus diubah dengan melihat portofolio,” tutur dia.

Ia juga mengaku bahwa BP Jamsostek sempat melakukan pembelian saham emiten e-commerce, PT Bukalapak.com Tbk (BUKA). Namun, pihaknya memastikan telah menjual saham unicorn itu sebelum harganya jatuh.

“Kami mulai aktif untuk investasi di perusahaan teknologi seperti kemarin di Bukalapak kami ikut beli, tapi Alhamdulillah sudah dijual, jadi enggak ikut ke bawah (rugi),” tambahnya lagi.

Selain ke pasar saham, BP Jamsostek juga mulai aktif berinvestasi pada perusahaan teknologi yang bersifat non-terbuka. Hanya saja, investasi tidak dilakukan dengan setoran modal berupa tunai, guna menghindari adanya kerugian negara.

“Yang kami lakukan seperti membuka akses data base kami ke perusahaan tersebut, kemudian ditukar dengan saham minoritas,” ungkapnya.

Berita Terkait