Bos Ternak Uang Bagikan Tips Susun Portfolio Saham agar Cuan Mengalir

10 September 2021 20:04 WIB

Penulis: Ananda Astri Dianka

Editor: Amirudin Zuhri

Awak media melakukan peliputan dengan latar belakang layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jum’at, 25 September 2020. Indek Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil bangkit dan ditutup menguat 103,03 poin atau 2,13 persen ke posisi 4.945,79 pada hari ini, setelah empat hari beruntun parkir di zona merah. Penguatan indeks hari ini ditopang kenaikan saham-saham berkapitalisasi jumbo alias big caps. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

JAKARTA – Berinvestasi di pasar modal rupanya tengah menjadi perhatian anak muda. Faktanya investor ritel berusia muda mengalami pertumbuhan belakangan ini. 

Selain teknologi memudahkan masyarakat untuk membeli saham, investasi di pasar modal juga menjanjikan keuntungan berlimpah. Namun jika salah langkah, harga saham yang anjlok bisa menjadi pukulan telak yang menghancurkan kondisi finansial seorang investor. 

Lantas bagaimana menyusun portfolio saham yang baik?

Tidak Harus Selalu Mengikuti Teori

Co-Founder & Chief Marketing Officer Ternak Uang Timothy Ronald menjelaskan, sudah menjadi hal yang wajar apabila langkah mereka berpijak pada teori-teori dalam dunia saham. Akan tetapi, pasar modal yang fluktuatif membentuk kondisi yang terkadang jauh dari gambaran-gambaran dalam buku. 

"Cara menyusun portfolio saham memang ada teorinya, tapi belum tentu worth untuk setiap orang. Karena setiap orang punya preferensinya masing-masing. Jadi yang akan saya bagikan di sini adalah tips berdasarkan pengalaman saya selama lima tahun di pasar modal," kata Timothy dalam keterangan resmi, Jumat 10 September 2021.

"Mengacu pada teori, kalian bisa menggunakan standar deviasi. Kalau ditanya secara gamblang, berdasarkan risiko dan deviasi adalah 30 saham. Tapi apakah ini applicable bagi semua orang? Apakah harus dipaksakan? Tidak" imbuhnya. 

Tujuan Bermain Saham 

Setiap orang memiliki alasan tersendiri untuk terjun di pasar modal. Alasan inilah yang nantinya akan mempengaruhi strategi orang tersebut ketika berinvestasi di pasar modal. 

"Untuk karakter saya yang cukup agresif, saya memiliki 3 portfolio, saat saya berumur 20 tahun ini. Tapi hal ini tidak bisa diaplikasikan pada semua orang. Cara ini memang high return, tapi high risk juga. Pertanyaannya, apakah ini cara ini cocok untuk semua orang? Tidak. Orang lain yang misalnya sudah punya anak, keluarga, atau tanggungan lainnya tidak akan cocok," kata Timothy. 

Oleh karena itu, Timothy mengingatkan agar orang yang bermain saham benar-benar mengetahui alasan kenapa dirinya terjun di bisnis ini. 

"Jadi, balik ke tujuan kenapa kalian bermain saham. Kalau ingin membangun kekayaan, maka pilih konsentrasi. Tapi jika ingin mempertahankan kekayaan, pakai cara diversifikasi," papar Co-founder Ternak Uang tersebut. 

Alokasi Saham 

Ketika dua poin sebelumnya telah dipenuhi, pertarungan yang sebenarnya baru akan dimulai, yaitu dimana kita harus mengalokasikan dana di pasar modal? 

"75 persen saham, 25 persen obligasi. Itu teorinya. Tapi kalau saya pribadi, 70 persen saham dan 30 persennya cash. Kenapa di cash? Ini ibarat dana siaga seandainya harga saham anjlok," ungkap Timothy. 

Sedangkan untuk komposisi sahamnya, lanjut Timothy, 50% dipakai untuk saham-saham populer yang punya nama dan 20 persen lainnya bisa dialokasikan untuk 2 saham yang diyakini punya prospek bagus. Jadi secara keseluruhan, ia tetap berpijak pada 3 porfolio saham. 

"Dengan stocks 3 portfolio saham, saya berhasil mendapatkan return jauh di atas IHSG. Apakah akan seterusnya di 3 portfolio? Tidak. Mungkin 10-15 tahun akan berubah. Tapi yang pasti, 30 persen dana investasi saya akan tetap di cash," terangan Timothy.

Berita Terkait