Bos Amartha Ungkap Strategi Jaga NPL di Level 0,07 Persen

02 September 2021 17:46 WIB

Penulis: Ananda Astri Dianka

Editor: Amirudin Zuhri

Mitra Amartha/ Facebook @amarthaid

JAKARTA – PT Amartha Mikro Fintek (Amartha) mencatat, non performing loan (NPL) berada di level 0,07% setelah Juni 2021. 

Terjaganya kualitas pinjaman, disokong oleh strategi yang diterapkan manajemen. CEO dan Founder Amartha, Andi Taufan mengatakan, strategi yang digunakan tidak lain adalah mengkobinasikan kegiatan online-offline untuk menjaga produktivitas mitra Amartha di masa pandemi COVID-19.

“Kami melihat, teknologi dapat menjadi solusi bagi mitra untuk tetap produktif dalam menjalankan usaha, terlebih di saat pandemi. Namun, dukungan secara langsung di desa juga tetap diperlukan, mengingat tidak seluruh kegiatan dapat difasilitasi dengan digitalisasi,” kata Andi dalam siaran pers, Kamis 2 September 2021.

Melalui kombinasi online-offline, Amartha mengoptimalkan penggunaan teknologi seperti penyediaan berbagai inovasi produk untuk mensejahterakan mitra. Salah satunya melalui aplikasi A+ (Amartha Plus) yang memfasilitasi berbagai layanan seperti WarungLoan, PPOB hingga belanja borongan.

Sedangkan strategi offline dalam memberdayakan perempuan pengusaha mikro, selain memberikan akses pendanaan Amartha juga melakukan pendampingan dan pelatihan secara rutin seperti pelatihan alternatif usaha, pelatihan literasi keuangan hingga cek kesehatan gratis.

“Meskipun masih dalam kondisi pandemi, dengan mengimplementasikan strategi yang tepat, sistem skoring yang akurat, serta menjaga kualitas pinjaman dengan membidik sektor perdagangan, industri rumahan dan makanan, kami optimis dapat mendorong perekonomian di desa dan tumbuh bersama mitra Amartha,” lanjut dia.

Selain NPL yang terjaga, penyaluran dana Amartha juga mencapai Rp914 miliar di paruh pertama 2021. Nilai ini tumbuh 35% year-on-year (yoy). 

Pertumbuhan signifikan tersebut juga merupakan kontribusi dari Norfund, yang bergabung sebagai pendana korporat di Amartha sejak Juni 2021.  Amartha telah menerima pendanaan sebesar US$7,5 Juta atau setara dengan Rp107 miliar.

Suntikan dana tersebut digunakan untuk menyalurkan modal usaha serta memberdayakan perempuan pengusaha mikro di pedesaan dengan mendorong kegiatan usaha yang berkelanjutan .

“Berinvestasi kepada institusi keuangan seperti Amartha merupakan langkah penting bagi kami di Norfund. UMKM di seluruh dunia mengalami keterbatasan dalam akses permodalan dan teknologi agar dapat berkembangang dan menciptakan usaha sendiri,” kata Fay Chetnakarnkul, Investment Director Norfund dan Head of Asia regional Office.

Berita Terkait