Borong Surat Berharga Perusahaan Pengendali Rp1,83 Triliun, Aset Allo Bank Milik Kongolomerat Chairul Tanjung Meroket 63,23 Persen

03 Agustus 2021 12:00 WIB

Penulis: Muhamad Arfan Septiawan

Editor: Rizky C. Septania

Kantor Allo Bank (Istimewa)

JAKARTA – PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI) milik taipan Chairul Tanjung mengalami kenaikan total aset hingga 63,23% . Hal ini disebabkan adanya aksi korporasi penempatan deposito di perusahaan pemegang saham pengendali BBHI, yakni PT Mega Corpora.

Dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), BBHI tercatat melakukan pembelian surat berharga sebesar Rp1,83 triliun. Surat berharga itu terdiri dari deposito senilai Rp750 miliar yang nantinya bakal dikonversi menjadi modal usai mendapat persetujuan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Selain itu, ada pula surat berharga repo sebesar yang dibeli BBHI sebesar Rp1,22 triliun. Nilai aset BBHI meleset 63,23% dari Rp2,58 triliun pada akhir 2020 menjadi Rp4,22 triliun pada akhir Juni 2021. 

Selain mempengaruhi perolehan aset, Secara beriringan, total liabilitas BBHI juga meroket 72,72% dari Rp2,23 triliun pada akhir 2020 menjadi Rp3,86 triliun pada akhir Juni 2021.

Sementara itu, laba bersih BBHI justru merosot sebesar 30,25% year on year (yoy) pada semester I-2021. Laba bersih BBHI ambles menjadi Rp22,92 miliar pada semester I-2021 dari sebelumnya Rp32,86 miliar pada semester I-2021.

Meski laba bersih merosot, pendapatan BBHI pada semester I-2021 ini justru tengah melaju kencang. Pendapatan bunga BBHI melesat double digit hingga 42,46% yoy dari Rp89,61 miliar menjadi Rp127,66 miliar pada paruh pertama tahun ini. 

Lebih rinci, penerimaan ini terdiri dari pendapatan kredit Rp52,70 miliar, penempatan pada Bank Indonesia (BI) Rp1,31 miliar, pendapatan efek-efek Rp73,59 miliar, dan penempatan pada bank lain Rp53,06 miliar.

Setelah dikurangi beban bunga sebesar Rp74,19 miliar, pendapatan bunga bersih yang dicetak BBHI pada semester I-2021 ini mencapai Rp53,47 miliar. Realisasi itu lebih tinggi dibandingkan capaian pada semester I-2020 yang hanya menembus Rp29,58 miliar.

Performa BBHI juga mengalami peningkatan bila ditinjau dari rasio non performing loan (NPL) terhadap kredit bersih bank yang susut dari 3,50% pada semester I-2020 menjadi 1,17% pada semester I-2021.

Sementera itu, total ekuitas BBHI pada paruh pertama 2021 ini parkir di level Rp354,05 miliar. Nilai itu naik tipis dibandingkan akhir 2020 yang sebesar Rp347,06 miliar.

Untuk diketahui, BBHI memiliki afiliasi dengan taipan Chairul Tanjung sejak 16 Oktober 2020. Kala itu, Chairul Tanjunng melalui PT Mega Corpora melakukan pembelia 3,08 miliar saham atau setara 73,71% dari total saham BBHI.

Aksi korporasi ini mendapat lampu hijau OJK melalui Keputusan Dewan Anggota Komisioner OJK No. Kep.40/D.03/2021 per 10 Maret 2021 tentang izin pengambilalihan 73,71% saham PT Bank Harda Internasional Tbk oleh PT Mega Corpora.

Sebelum dibeli Chairul Tanjung, bank ini dulunya bernama Bank Harda. Perubahan nama bank ini telah mengantongi restu dari pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada Mei 2021.

Berita Terkait