BNI Tawarkan Efek Modal Rp8,5 Triliun ke Investor Asing

20 September 2021 13:31 WIB

Penulis: Muhamad Arfan Septiawan

Editor: Amirudin Zuhri

Nasabah melakukan transaksi di salah satu cabang Bank Negara Indonesia (BNI) di Jakarta, Rabu, 23 Juni 2021. (Ismail Pohan/TrenAsia)

JAKARTA – Emiten pelat merah PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk berupaya mengejar ketertinggalan modal inti dari bank Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) lain. Emiten bersandi BBNI tercatat telah menyelesaikan penawaran dan pricing rencana penerbitan BNI Additional Tier 1 Perpetual Non-Cumulative Capital Securities atau Efek Modal AT-1 kepada investor asing.

BNI menyasar dana hingga US$600 juta atau setara Rp8,5 triliun (asumsi kurs Rp14.258,50 per dolar Amerika Serikat). Agar dicaplok investor asing, BNI menawarkan imbal hasil atau yield sebesar 4,3% per tahun.

Distribusi sebesar 4,3% per tahun dalam kerangka penerbitan efek global berdasarkan ketentuan Regulation S ("Reg S"), US Securities Act, yang akan terdaftar di Singapore Stock Exchange,” kata Corporate Secretary BNI Mucharom dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin, 20 September 2021.

Mucharom mengatakan dana ini bakal digunakan perseroan untuk memperkuat aspek permodalan. Selain itu, dana ini menjadi tambahan untuk ekspansi pembiayaan BNI.

“Dana hasil rencana penerbitan Efek Modal AT-1 akan digunakan untuk menambah modal inti tambahan bank, secara umum untuk penguatan modal, meningkatkan pembiayaan serta untuk memperkuat komposisi struktur dana jangka panjang,” jelas Mucharom.

Menilik laporan keuangan perseroan di Bursa Efek Indonesia (BEI), modal tier 1 BNI secara bank only berada di angka Rp98,53 triliun per semester I-2021. Modal inti tersebut sebenarnya telah merangkak naik dibandingkan periode  sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp95,46 triliun.

Namun, modal tier 1 ini masih tertinggal dibandingkan bank dengan level yang sama. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) tercatat memiliki modal tier 1 secara bank only pada semester I-2021 sebesar Rp173,15 triliun atau meningkat dibandingkan semester I-2020 yang hanya Rp165,11 triliun.

BNI juga ketinggalan dibandingkan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang sudah mengumpulkan modal inti Rp168,61 triliun pada semester I-2021.

Dengan total aset tertimbang menurut risiko (ATMR) sebesar Rp616.12 triliun, maka Capital adequacy ratio (CAR) mencapai 16%. Angka ini lagi-lagi tertinggal dibandingkan rata-rata CAR bank BUKU IV yang telah menyentuh 19% pada semester I-2021.

Kendati demikian, BNI memiliki kinerja yang positif bila ditinjau dari aspek profitabilitas. Hal ini tercermin dari aba bersih sebesar Rp5,02 triliun, tumbuh 12,8% year on year (yoy) pada semester 1-2021.

Dari segi intermediasi, penyaluran kredit BNI juga tercatat naik 4,5% yoy menjadi Rp569,7 triliun pada semester I-2021. Secara kualitas, non performing loan (NPL) gross BNI turun ke level 3,9% per semester I-2021.

Adapun dana pihak ketiga (DPK) naik sama besarnya yakni 4,5% yoy menjadi Rp569,7 triliun. Kenaikan DPK menjadi penyangga aset perseroan, sehingga total aset BNI pada paruh pertama 2021 mencapai Rp875,13 triliun atau naik 5%.

Rasio dana murah (CASA) terhadap total DPK BNI terpantau tumbuh 69,6% dari 65,2% yang tercatat pada semester I-2020.

Dengan demikian, biaya dana atau cost of fund BNI turun dari 2,9% menjadi 1,7%.  Sedangkan net interest margin (NIM) BNI meningkat dari 4,5% pada semester I-2020 menjadi 4,9% pada semester I-2021.

Berita Terkait