Bisnis Digital Krisis Akses Teknologi

TrenAsia (TA) - JAKARTA. Pelaku bisnis digital menghadapi kesulitan akses teknologi yang lebih murah dan efisien. Kemudahan mengakses teknologi dinilai dapat menciptakan kesetaraan peluang berusaha dalam bisnis digital.

Salah satu teknologi terbaru yang cukup sulit diakses bagi pelaku usaha adalah cloud computing publik. Layanan komputasi ini dinilai dapat memudahkan pelaku usaha digital untuk ekspansi layanannya ke luar negeri. Padahal, di tengah kurs rupiah yang tertekan, Indonesia membutuhkan lebih banyak ekspor termasuk jasa layanan digital.

Direktur Alfacart.com – perusahaan e-commerce barang kebutuhan sehari-hari milik Alfamart – Bambang Setyawan Djojo mengatakan, kehadiran cloud computing publik akan membuat semua pebisnis besar atau kecil mempunyai akses yang sama terhadap teknologi untuk mengembangkan usahanya.

Terlebih khususnya bagi perusahaan dengan modal kecil yang tidak mampu membeli perangkat teknologi informasi (IT) yang mahal, apalagi melakukan research & development untuk teknologi baru.

“Kenapa start-up bisa hidup di tahun-tahun sekarang, karena banyak dipermudah dengan kompleksitas IT. Dulu tidak ada cloud, server harus bikin sendiri, butuh tenaga IT yang berpengalaman sehingga biayanya sangat mahal,” kata Bambang, Kamis (13/12/2018).

Kehadiran cloud computing publik, menurut Bambang, sangat membantu perusahaan menjadi lebih mudah dalam scaling-up (menaikkan) maupun scaling-down (menurunkan) kebutuhan servernya kapan pun diperlukan.

Sebagai contoh, perusahaan e-commerce seperti Alfacart, akan mengalami lonjakan pengunjung website pada Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) 12.12. Untuk mengantisipasi lalu-lintas pengunjung yang lebih padat, perusahaan siap melakukan scale-up secara otomatis. Setelah Harbolnas selesai dan lalu-lintas website kembali normal, Alfacart akan melakukan scale-down.

Kondisi ini akan berbeda jika perusahaan menggunakan server sendiri. Untuk melakukan scale-up, perusahaan harus membeli hardware dan menyewa ahli IT dengan biaya yang mahal. Tapi usai Harbolnas, perusahaan tidak bisa melakukan scale-down dan perangkat yang tersedia tidak terpakai.

“Belum lagi kita harus memikirkan data recovery planning. Kalau server down, bisnis tidak boleh berhenti, harus ada secondary untuk back up. Tapi kalau cloud sudah penuhi standar recovery sampai empat level,” tutur Bambang.

Dari sisi keamanan data, cloud computing publik terbaru juga sudah memiliki standar keamanan yang berlaku secara internasional. Ada sertifikasi standar keamanan dari layanan cloud publik yang harus diperhatikan oleh pelaku bisnis.

“Banyak sekali manfaatnya, buat perusahaan start-up sangat membantu. Dalam persaingan global, kalau kita tidak pakai cloud publik kita sama saja bunuh diri karena biayanya jauh lebih besar ketimbang yang menggunakan teknologi terbaru dan lebih efisien,” kata Bambang.

CEO dan Founder Halodoc – aplikasi digital di bidang layanan kesehatan – Jonathan Sudharta mengatakan cloud publik memberikan pilihan yang baik bagi perusahaan-perusahaan di Indonesia dalam mengakses teknologi. “Kalau kita lihat dari sisi kemudahannya, sangat mudah untuk digunakan. Dari sisi biaya dan kemudahan akses, saya rasa bagus untuk bisnis yang baru memulai,” kata Jonathan.

Dalam hal risiko, jumlah kasus pembobolan data dari perusahaan atau kantor yang mengelola servernya sendiri mencapai ribuan bahkan jutaan. “Sebaliknya faktanya keamanan cloud publik lebih terjamin karena memiliki standar keamanan yang lebih tinggi,” pungkas Jonathan. (*)