Biofarma Produksi Alat tes PCR Digunakan dengan Cara Kumur

04 September 2021 18:15 WIB

Penulis: Amirudin Zuhri

Editor: Amirudin Zuhri

Alat diagnosa COVID-19 produksi BioFarma, BioSaliva (ist)

BANDUNG- Perusahaan farmasi milik negara, PT Biofarma telah memroduksi alat diagnosis COVID-19 atau alat tes PCR yang digunakan dengan metode kumur. Alat tersebut dinamai BioSaliva yang diklaim nyaman saat digunakan.

Direktur Pemasaran BioFarma, dr. Sri Harsi Teteki, mengatakan produksi BioSaliva menjadi salah satu kontribusi Biofarma dalam melakukan proses kemandirian terkait diagnosis COVID-19.

"Sebelumnya, produk serupa masih impor, mudah-mudahan produk karya anak bangsa ini bisa menjadi pilihan dari Kementerian Kesehatan untuk regulasi ke depannya produk dalam negeri ini bisa diutamakan," katanya, dalam pertemuan langsung antara Biofarma dan Kementerian Kesehatan di gedung Biofarma, Bandung, demikian mengutip kemenkes.go.id, Kamis 2 September 2021.

Alat tes RT Polymerase Chain Reaction (PCR) tersebut memiliki sensitifitas hingga 95% sehingga dapat digunakan sebagai alternatif selain menggunakan PCR kit. BioSaliva juga telah mendapatkan izin edar dari Kementerian Kesehatan pada 1 April 2021.

Sri mengungkapkan, media pembawa virus ini berfungsi untuk deteksi RNA Sars-CoV2 penyebab COVID-19 dengan metode RT PCR menggunakan sampel gargled saliva.

Umur simpan BioSaliva bisa mencapai 2 tahun. Sampel saliva juga dapat stabil di suhu ruang hingga 30 hari, suhu -20C, dan suhu -80C.

Bio Farma pun tengah melakukan uji post market di Kementerian Kesehatan dan di tiga laboratorium, yakni Laboratorium Mikrobiologi, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; Laboratorium Biomedik Lanjut, Fakultas Kedokteran, Universitas Padjadjaran; dan Laboratorium Mikrobiologi Klinik, Fakultas Kedokteran, Universitas Airlangga.

Sebelum digunakan, dianjurkan tidak makan selama 1 jam sebelum berkumur. BioSaliva digunakan dengan cara  berkumur di bagian tenggorokan dalam.

Sebelum berkumur, pengguna BioSaliva dianjurkan batuk sedikit untuk mengeluarkan dahak tanpa dibuang. Selanjutnya masukan cairan kumur yang tersedia dalam kemasan BioSaliva ke dalam mulut dan mulai berkumur di bagian dalam tenggorokkan.

Kemudian keluarkan cairan kumur dari dalam mulut ke dalam wadah dan campurkan dengan larutan pencampur yang juga tersedia dalam kemasan. Kemudian kocok dan sampel siap dites di laboratorium.

Dalam satu kemasan BioSaliva terdapat petunjuk penggunaan, satu wadah cairan kumur, satu wadah larutan pencampur, dan satu corong.

Produk ini menjawab tantangan laboratorium klinis akan kebutuhan testing dengan kondisi lapangan di Indonesia, yang umumnya jauh dari fasilitas kesehatan. Diharapkan pula, tes PCR dengan metode kumur ini dapat berkontribusi dalam meningkatkan kapasitas tracing nasional terutama untuk kalangan anak-anak dan Lansia yang membutuhkan kenyamanan lebih dalam pengambilan sampel.

Ke depannya proses pengambilan sampel dapat dilakukan di area non-medis dengan pengawasan tenaga kesehatan, sehingga mengurangi kerumunan dan menghindari kontak. Proses pengambilan sampel yang praktis juga memungkinkan pengambilan sampel dalam jumlah yang sangat besar tanpa perlu menambah tenaga medis.

Sementara Direktur Penilaian Alat Kesehatan dan Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga Kementerian Kesehatan Ir. Sodikin Sadek, M.Kes mengapresiasi Biofarma atas produk BioSaliva.

"Saya apresiasi hasil penelitian ini karena ini produk dalam negeri," kata Sodikin.

 

Tulisan ini telah tayang di wongkito.co oleh Nertina pada 04 Sep 2021 

Berita Terkait