Bikin Bangga, Koleksi Busana Asal Indonesia dari Bahan Jamur Dipamerkan di Ajang Paris Fashion Week

12 Agustus 2021 09:30 WIB

Penulis: Justina Nur Landhiani

Editor: Rizky C. Septania

Koleksi Busana Asal Indonesia dari Bahan Jamur Dipamerkan di Ajang Paris Fashion Week (Facebook.com/MYCL- Mycotech Lab)

JAKARTA - Jamur kini bisa digunakan sebagai alternatif pengganti kulit dan menjadi bahan bangunan konvensional. Selain itu, jamur kini juga bisa menjadi bahan alternatif untuk membuat busana.

Seperti itulah yang dilakukan oleh Mycotech Lab (MYCL). MYCL mengolah jamur menjadi alternatif untuk membuat kulit dan bahan berkelanjutan yang dapat digunakan untuk pembuatan tas, perabot rumah tangga, dan pakaian.

Perusahaan asal Indonesia yang didirikan pada tahun 2015 ini menciptakan bahan-bahan dan produk dari bagian vegetatif seperti benang dari jamur yang dikenal sebagai miselium.

Hal tersebut terlahir dari kekhawatiran akan banyaknya limbah jamur tiram yang tidak terpakai yang dibakar. Oleh karena itu, MYCL memanfaatkan limbah tersebut untuk mencegah hilangnya bahan makanan.

MYCL menggunakan proses seperti dalam pembuatan tempe, untuk menggunakan miselium sebagai bahan pengikat limbah pertanian seperti sekam jagung dan serpihan kayu yang kemudian akan menumbuhkannya menjadi bahan yang disebut Mylea.

Bahan tersebut juga tahan api, tahan air, fleksibel, dan bahkan dapat dibuat menjadi berbagai kreasi kulit imitasi eksperimental.

Dengan tujuan menyoroti dampak infustri kulit tradisional, MYCL menjual teknologinya dengan berkolaborasi bersama Doublet, sebuah label pakaian terkemuka di Jepang. Lalu, mereka meluncurkan koleksi berbasis Mylea yang dikembangkan oleh MYCL.

Koleksi busana hasil kolaborasi tersebut dipamerkan di Paris Fashion Week pada Juni 2021.

Mengusung konsep koleksi Spring Summer 2022, kolaborasi MYCL dan Double mengajak masyarakat untuk peduli terhadap lingkungan yang lebih baik dengan percaya diri dengan selera fashion mereka.

Hal tersebut yang dipercaya oleh MYCL, bahwa kepedulian terhadap lingkungan dapat dilakukan dengan memberikan alternatif berkelanjutan, seperti beralih dari penggunakan kulit hewan menjadi menggunakan serat jamur.

Berita Terkait